Suharto dan PKI Sama2 Saling Memanfaatkan Dalam Strategi Politik !

Ilmu politik adalah ilmu menghimpun massa baik melalui agitasi
persaingan ideologi, adu argumentasi, maupun adu kekuatan fisik
dilapangan.  Saling memanfaatkan dalam persaingan ini hanyalah salah
satu dari strategi yang digunakan oleh para politikus.

Hasilnya bisa dilihat pada puncaknya, siapa yang berhasil menguasai
massa dan siapa yang berhasil dikuasai penguasa.  Artinya, pada puncak
akhir hanya ada istilah, "yang menang" dan "yang kalah".  Karena dalam
pertandingan ini tidak digunakan istilah yang benar dan yang salah.

Peristiwa G30S, Surat Perintah 11 Maret, dlsb, kesemuanya adalah
strategi, dan hasil akhirnya adalah Suharto naik kepuncak kekuasaan. 
Jadi janganlah mendiskusikan kejadian G30S dan SP 11 Maret dari aspek
benar salahnya Suharto, karena hal ini hanyalah merupakan strategi
Suharto yang tidak bisa dikaitkan benar salahnya.

Barulah setelah dipuncak kekuasaannya itu, cara2 Suharto dalam
mengatur negara maupun melaksanakan management negara dalam memberi
kesejahteraan kepada rakyatnya, kita bisa mendiskusikan secara panjang
lebar apakah "Salah", atau "Benar".


> "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bung Chan yb,
> Satu hal yang sangat saya hargai dari bung: 
> bung tidak mau menutupi perbedaan pendapat 
> dan bicara jelas dan tegas tentang pandangan
> bung. Memang perbedaan pendapat di antara kita,
> saya kira cukup besar dan malahan memang besar. 
> Bung melihat kesalahan PKI dengan kaca mata
> yang sama seperti yang dituduhkan Suharto bahwa
> PKI mengadakan pemberontakan, PKI membunuh tujuh
> jendral, PKI dalang G30S dsb,dsb.
> Semua fitnah Suharto itu hingga saat ini tidak
> pernah terbukti dan bahkan semakin banyak ditentang
> orang, semakin banyak buku yang berlahiran membantah
> fitnah Suharto itu.


Sebagai seorang keturunan PKI, anda tak perlu obsesi dengan apa yang
dilakukan Suharto.  Yang pasti, tidak mungkin Suharto sendirian bisa
melakukan segala macam yang anda anggap sebagai fitnah itu.

Secara jujur, semua kejadian ini hanyalah merupakan strategi
persaingan politik dalam menguasai wilayah dan menguasai massa.

Persaingan politik hanyalah merupakan game dimana ada yang menang dan
ada yang kalah.

Dalam etika moral, boleh kita namakan sebagai fitnah, tetapi dalam
ilmu politik tidak dikenal istilah fitnah melainkan dinamakan sebagai
"strategy" yang tujuannya sama yaitu mengecoh lawan2nya.  Sedangkan
per-definisi, "Politik" itu hanyalah ilmu dalam menghimpun massa.

Komunis sendiri juga merupakan ilmu politik yang sama2 menghimpun
massa yang cara2nya juga berisi fitnah kepada kaum kapitalis untuk
dijadikan target kebencian, target pemusnahan, padahal tidak semua
kapitalis itu buruk, tidak semua kapitalis itu jahat.  Sama halnya
tidak semua orang komunis baik, dan juga ada yang jahat.

Demikianlah dalam Game ini, ada yang menang dan ada yang kalah,
kebetulan anda adalah keturunan dari pihak yang kalah sehingga apalah
artinya untuk mengumbar kemarahan kepada yang menang.

Tetapi, memang lawan yang menang ini kebetulan memang bukanlah orang
yang baik, selain tamak, penjual negara, juga memang penjahat !!! 
Jadi meskipun Suharto sangat buruk dan jahat, bukan berarti bahwa dia
bersalah dalam mengeliminasi PKI yang pada kejayaannya juga bukanlah
sebuah partai yang baik yang beretika moral membela rakyat Indonesia,
karena partai inipun telah banyak menjadi penyebab korban2 jatuh bagi
bangsa ini.  Artinya, jangan menggunakan kesempatan mengkaitkan
kejahatan, ketamakan, dan semua kesalahan Suharto untuk dijadikan
pembenaran terhadap gerakan maupun ajaran2 PKI.  Hal itu tidak Fair.

Salah satu kesalahan PKI yang fatal adalah bekerja sama dengan Suharto
sendiri sebelumnya.  Baik PKI maupun Suharto sama2 saling
memanfaatkan, namun ternyata Suharto lebih berhasil dalam memanfaatkan
PKI karena dengan kebesaran PKI waktu itu tidak terpikirkan bahwa ada
kemungkinan bahwa Suharto juga bisa dimanfaatkan lawan2 PKI.

Dari sudut pandangan Aidit sebagai ketua PKI waktu itu, etika moral
kesetiaan Suharto sebagai pengkhianat patut disesalkan.  Sebaliknya,
dalam dunia politik tindakan seperti itu hanyalah dianggap sebagai
strategi dalam memenangkan persaingan saja yang sama sekali tidak
memiliki dasar salah atau benar.  Dan dalam hal ini, PKI juga bukanlah
sebuah partai yang beretika moral kesetiaan dalam mengabdi kepada
rakyat dan negaranya, sama saja tujuannya yaitu memanfaatkan massa
untuk tujuan2 politiknya.

Kesimpulannya sudah jelas, kehancuran PKI akibat pengkhianatan Suharto
hanya bisa dilihat dari sudut persaingan politik dalam mengadu
strategi dimana ada yang menang dan ada yang kalah.  Dan sebagai pihak
yang kalah, tidaklah etis untuk mengkaitkan kejahatan2 Suharto dengan
strategi politiknya yang menghancurkan PKI.  Artinya, kita menuntut,
mengejar, dan mengutuk Suharto untuk kejahatannya, pelanggaran hukum
yang dilakukannya sewaktu berkuasa bukan menuntut atau menyalahkannya
karena dia mengambil alih kekuasaan dengan menghancurkan PKI.

Silahkan semua pembaca ikut merenungkannya untuk menimbang fairness
dari segala yang telah terjadi ini.

Ny. Muslim binti Muskitawati.










Kirim email ke