======================================  
  THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
  [ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]  
  =======================================
  [Ec_Q]
   
  BANK KAUM MISKIN
  Oleh : Muhammad Yunus
  Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
  Bersama Alan Jolis
   
  Belajar dari : 
  Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
  Memerangi Kemiskinan
   
  22. Perajin Bangku di Desa Jobra
   
  Tahun 1976, saya mulai mengunjungi rumah tangga paling miskin di Jobra untuk 
meninjau sekiranya ada yang bisa saya bantu secara langsung. Desa itu terbagi 
dalam tiga kawasan: kawasan Muslim, Hindu, dan Budha. Saat mengunjungi kawasan 
Budha, saya sering membawa serta mahasiswa saya, Dipal Chandra Barua, warga 
asli kawasan Budha. Kalau tidak, kolega saya Profesor H.I. Latifee biasanya 
ikut menemani. Dia tahu banyak mengenai keluarga-keluarga di Jobra dan punya 
bakat alamiah membuat penduduk desa nyaman berhubungan dengannya.
   
  Suatu hari, saat Latifee dan saya sedang berkeliling Jobra, kami berhenti di 
rumah bobrok berdinding lempung yang hampir roboh serta beratapkan rumbia yang 
rendah dan bolong-bolong. Kami berjalan melalui sekumpulan ayam yang tengah 
mengais-ngais tanah dan kebun sayuran di pekarangan rumah. Seorang perempuan 
berjongkok di lantai kotor beranda, sambil mencengkeram bangku bambu setengah 
jadi dengan lututnya. Jari-jarinya bergerak cepat menjalin bilah-bilah buluh 
yang keras. Dia sangat asyik dengan pekerjaannya.
   
  Mendengar Latifee mengucapkan salam, langsung ia jatuhkan anyaman bambunya, 
angkat kaki dan bergegas masuk ke rumah.
   
  “Jangan takut,” seru Latifee. “Kami bukan orang asing. Kami pengajar di 
universitas. Kita bertetangga. Kami ingin menanyakan beberapa hal, itu saja.”
   
  Yakin dengan perilaku ramah Latifee, ia menjawab dengan suara pelan, “Tidak 
ada orang di rumah.”
  Maksudnya adalah tidak ada laki-laki di rumahnya saat itu. Di Bangladesh, 
perempuan tidak semestinya berbicara dengan laki laki yang bukan muhrimnya.
   
  Anak-anak berlarian telanjang di halaman. Tetangga mengintai kami dari 
jendela rumah masing-masing, ingin tahu apa yang kami lakukan.
  Di wilayah Muslim Jobra, kami seringkali harus bicara dengan perempuan 
melalui dinding bilik bambu atau tirai. Adat purdah* membuat perempuan Muslim 
yang menikah sungguh terasing dari dunia luar. Adat itu diawasi ketat di 
Distrik Chittagong.
   
  Sebagai warga asli Chittagong yang berbicara dalam dialek setempat, saya 
ingin mencoba meraih kepercayaan perempuan Muslim dengan mengobrol. Memuji anak 
adalah cara alamiah untuk membuat ibunya nyaman. Saya gandeng seorang anak 
telanjang di samping saya, tetapi anak itu malah menangis dan lari menghampiri 
ibunya. Dia biarkan anak itu naik ke gendongannya.
   
  “Anak ibu berapa?” tanya Latifee kepadanya. “Tiga.”
  “Yang ini ganteng sekali,” puji saya.
  Sedikit teryakinkan, si ibu mendatangi pintu rumahnya sambil menggendong 
anaknya.
   
  * Purdah secara harfiah berarti “tirai”, “cadar”, “kerudung”, atau “jilbab”. 
Purdah juga bermakna ketentuan syariah Islam yang melarang perempuan dewasa 
terlihat di depan umum. Kalau pun perempuan keluar rumah, maka ia harus menutup 
seluruh bagian tubuhnya kecuali mata dan telapak tangan, atau kalau ia harus 
berbicara dengan tamu lawan jenis di rumahnya, hanya bisa dilakukan dari balik 
tirai rumahnya.
   
  Ibu itu baru 20 tahunan usianya, kurus, dengan kulit kelam dan mata hitam. 
Dia mengenakan Sari berwarna merah. Sorot letih matanya menggambarkan ia adalah 
perempuan yang bekerja setiap hari dari pagi sampai malam.
   
  “Siapa nama ibu?” saya bertanya.
  “Sufiya Begum.”
  “Umur ibu?”
  “Duapuluh satu.”
  Saya tidak menggunakan pena dan buku catatan karena akan membuatnya takut. 
Nantinya, saya hanya mengizinkan mahasiswa saya membuat catatan pada 
kunjungan-kunjungan berikutnya.
  “Apakah bambu ini milik ibu?” tanya saya.
  “Ya.”
  “Bagaimana ibu mendapatkannya?”
  “Saya membelinya.”
  “Berapa harga bambunya?”
  “Lima taka.” Saat itu, jumlah ini setara AS $ 22 sen.
  “Apakah ibu punya uang lima taka?”
  “Tidak, saya pinjam bambunya dan paikar.”
  “Perantara? Bagaimana caranya?”
  “Saya harus menjual kembali bangku bambu saya pada mereka untuk membayar 
pinjaman saya.”
  “Ibu jual seharga berapa satu bangkunya?”
  “Lima taka lima puluh poysha.”
  “Jadi untungnya lima puluh poysha?”
  Dia mengangguk. Keuntungan itu hanya 2 sen.
  “Bisakah ibu pinjam uang dari rentenir dan membeli sendiri bahan bakunya?”
  “Ya, tapi rentenir akan meminta banyak. Orang yang berurusan dengan mereka 
hanya akan bertambah miskin.”
  “Berapa bunga yang diminta rentenir?”
  “Tergantung. Kadang-kadang mereka minta sepuluh persen per minggu. Tetapi, 
seorang tetangga saya membayar sepuluh persen per hari.”
   
  “Dan hanya segitu yang ibu peroleh dari membuat bangku bambu yang indah ini, 
lima puluh poysha?”
  “Ya”
   
  Sufiya tidak ingin membuang waktu lagi hanya untuk berbincang-bincang. Saya 
lihat ia bersiap kerja lagi. Tangan coklatnya yang mungil menjalin bilah-bilah 
bambu setiap hari, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Inilah 
kehidupannya. Dia duduk di atas tanah liat yang keras dengan bertelanjang kaki. 
Jari-jarinya kurus, dan kuku-kukunya hitam kena kotoran.
   
  Bagaimana anak-anaknya bisa memutus lingkaran kemiskinan yang dialaminya? 
Bagaimana mereka bisa bersekolah ketika upah yang diperoleh Sufiya hanya cukup 
untuk makannya sendiri, jangankan menaungi keluarganya dan menyediakan mereka 
pakaian yang layak? Tampaknya sangat sulit dibayangkan bahwa suatu saat bayinya 
akan bisa keluar dari kesengsaraan ini.
   
  Sufiya Begum mendapat 2 sen sehari. 
   
  Kenyataan ini mengejutkan saya. 
   
  Di ruang kuliah saya berteori mengenai jumlah miliaran dolar, tapi di sini, 
di hadapan mata saya, masalah hidup-mati ditentukan oleh sejumlah recehan. 
   
  Ini tidak benar! 
   
   
  [ bersambung ]
   
   
   
  The Flag
  Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
  ERDBEBEN Alarm


    
  SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

  Retno Kintoko Hp. 0818-942644
  Aminta Plaza Lt. 10
  Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
  Ph. 62 21-7511402-3 
   


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke