http://web.bisnis.com/kolom/2id1165.html

 
Jumat, 09/05/2008 12:34 WIB

Sukses & arogansi
oleh : Anthony Dio Martin

Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, "Success can lead to 
arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we 
stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit changing, we will 
ultimately fail." (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita 
berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti 
berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti 
sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal). 

Pembaca, itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul 
saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik 
dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan 
siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus 
pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya. 

Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, 
saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. 
Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan 
mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat 'merakyat' hidupnya. Akan 
tetapi, itu dulu. Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. 
Mungkin dia akan berkata, "Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, 
Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda." 

Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para 'yes man' yang 
tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu 
semakin 'megalomania', pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh 
kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi. 

Saya teringat dengan seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia 
menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan 
sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta 
ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan 
hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan 
tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, 
mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga 
pabrik besar ada di genggamannya. 

Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. 
Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan 
antikritik. "Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa," katanya pongah. Dia pun 
menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over 
karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para 'penjilat' yang tidak berani 
melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang 
perlu up date diri dengan training. 

Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, 
yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani kursus panjang di 
Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer yang begitu 
arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum. Buku-buku best seller 
pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi membuatnya 'dibuang' dari 
komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer menyalahkan para rekannya. Dia 
pun dikelilingi oleh mereka yang selalu berkata 'ya' padanya. 

Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita 
arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. 
Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari 
basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di 
masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. 
Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal 
alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban 
pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang 
begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap 
sikap dan pikiran para pemimpin mereka. 

Terjebak retorika 

Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri sudah 
selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi, dan 
berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue kesuksesan yang 
dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar, kompetitor mereka bergerak 
jauh meninggalkan dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, 
jurus yang itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya 
untuk kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus 
mengembangkan kesuksesannya. Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka dan 
kehancuran. 

Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi? 
Saya menyebut tip ini dengan kata AWAS! Pertama, Aware (sadar) dengan sikap dan 
tingkah laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita perlu memberi waktu untuk 
menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang lain. Selalulah sadar apakah 
nada dan ucapan serta tindak tanduk kita sekarang semakin membuat banyak orang 
lain terluka? Apakah kita masih tetap menghargai orang lain? Apalagi 
orang-orang yang telah turut membawa Anda ke level sukses sekarang, apakah Anda 
hargai? Jangan sampai, tatkala masih bersusah payah, kita begitu respek, tetapi 
setelah sukses justru mencampakkan mereka. 

Kedua, Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat kita 
belajar lagi. Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya mengatakan 
hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik. Kadang, masukan 
negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa pun kita. 

Ketiga, Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved My 
Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah sudah basi 
ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium dan peka 
bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman bagi kita. 
Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar. 

Keempat, Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain. Ada banyak artis 
yang ketika belum terkenal sikapnya ramah dan baik. Namun, setelah sukses, ia 
menjadi sangat sombong, angkuh, ketus, dan bersikap antisosial. 

Nah pembaca, semoga tulisan ini menginspirasi Anda untuk meraih sukses sejati. 
Kesuksesan yang membuat Anda tidak arogan. Baiknya kita tutup tulisan ini 
dengan kalimat kuno yang seringkali sudah kita dengar. Saya hanya mengingatkan 
kita sekali lagi, "Di atas langit masih ada langit yang lain".


bisnis.com


URL : http://web.bisnis.com/kolom/2id1165.html 

© Copyright 1996-2008 PT Jurnalindo Aksara Grafika

 Cetak | Tutup Window 

<<logo-bisnis-small.jpg>>

<<icon_cetak.gif>>

Kirim email ke