Bermula dari rasa penasaranku ketika Ayah saya meninggal Saya ingin tahu kemana beliau berpulang...saya minta ijin Sanak saudara saya mau tidur dibawah jenasah beliau.
Mulanya sih pada keberatan...karena saya kasih alasan yang masuk akal dan saya sebagai anak wajib tahu hal itu agar nantinya doanya terkabul ndak nyasar. Dalam tidur tersebut nyenyaknya bukan main...bangun dipagi harinya Karena jenasah disemayamkan semalam...saya seperti berada dalam ruang bundar tanpa tepi putihnya putih...saya berada ditengahnya...melayang...tak ada siapa siapa... hanya cahaya terang benderang...ketika aku bertanya kemana beliau... jawabnya ada didalam dirimu...dimanakah aku...jawabnya...didalamnya terang... darimanakah asalnya terang...dari dalam gelapmu...kenapa harus gelap dulu baru ada terang ...jawabnya karena sebab akibat dua hal yang saling berhubungan... masuk dari mana aku dan sekarang berada ditengahnya terang... jawabnya dari pintu hatimu...yang tak berdasar dan selalu ada Pada setiap manusia...bagaimana aku tahu dimana pintu itu dan berapa banyak pintu itu... bukalah hatimu dan pintu itu ada tujuh...kenapa ada tujuh kok tidak Banyak dan terhitung kan manusia banyak...setiap pintu ada pada bagian esensi tubuh manusia ...manusia akan mengenalnya jika manusia itu sadar akan perilakunya... berbuat baik...sabar dan dalam kesejatian diri...dan ikhlas Apa adanya...aku masuk melalui pintu yang keberapa... jawabnya kau bisa masuk melalui pintu manapun kau suka...kenapa... karena kau telah membuka dan menutupnya...apa semua manusia bisa seperti saya... jawabnya bisa tapi tidak terbiasa...maka akan terbatas melalui pintu mana dia akan masuk dalam induk terangnya terang...para nabi, Isa, muhammad, Syeh siti jenar, soekarno... Sekarang ada dimana...jawabnya ada didalam ruang ini...kok ndak kelihatan.. Jawabnya karena kau juga ndak kelihatan...tapi bisa dirasakan... apa kau bisa memandang dirimu utuh tanpa cermin seperti itu kau memandangnya... sekarang bukalah hatimu...dan lihatlah...apa kau bisa membedakan rupa dan warna mereka ...Ya Allah Ya salam...aku tak melihat perbedaan...mereka sama mudanya Berbaju Putih silver berkilau...didepan dadanya ada cahaya...mereka saling menyapa... Ya Allah Ya Salam...aku bisa berbicara dengan mereka...aku tanya mana Ayahku... ada disini anakku...dimana kau ayah...ada dalam terangnya cahayamu...Ya Allah Ya salam. Apakah aku bisa wartakan ini...bisa...asal jangan takabur...sombong dan syakwasangka ...serta berani dihujat...apakah aku akan mengetahui untuk sesamaku yang aku kenal untuk tahu melalui pintu mana dia akan kembali... bimbinglah dan beritahukan sertailah dalam kemulian yang kau miliki... aku terdiam menangis...aku terbangun. (dan kejadian ini saya ulangi lagi dalam kurun 10 tahun kemudian ketika ibundaku berpulang...) Sampai saat ini kemuliaan itu terlimpah dengan menghantarkan sesamaku dalam kedamaian yang abadi...aku membuka Pintu dan aku menutupnya. Masih banyak manusia yang berpulang tapi belum pada masuk pintu keabadian Mereka menunggu...dalam kesengsaraan Roh yang teramat amat memilukan... Sebab apa mereka menunggu karena mereka menutup pintunya sendiri dengan prilaku raganya yang berlebih... mengumbar syahwat atau hal lain yang buahnya kecewa dan sakit hati. Dari dalam relung hati aku melihat PINTU. Ndoe.(Ya Allah ya salam...aku mohon ampun aku wartakan ini pada sahabatku... Semoga mereka dapat kemuliaan )
