Reflekis: Bagiamana bisa ada penurunan pengangguran kalau pada waktu yang sama 
jumlah penduduk miskin meningkat? Masalah berikutnya ialah apakah angka BPS 
tidak bersifat ABS [Asal Bapak Senang]?

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/16/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Penurunan Pengangguran Tidak Berkualitas
 

[JAKARTA] Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2008 memang tidak akan banyak berubah. 
Pasalnya, perlambatan ekonomi dunia dan kenaikan harga minyak belum memberikan 
dampaknya. 

"Nanti baru akan terasa pada triwulan kedua. Mungkin pertumbuhan ekonomi akan 
melambat," tutur ekonom dari Indef, Fadhil Hasan kepada SP, Jumat (16/5), di 
Jakarta. 

Ia juga menilai, komposisi pertumbuhan tidak berubah, karena masih didominasi 
sektor pertanian yang pada triwulan I mengalami musim panen. Untuk angka 
pengangguran yang menurun sebesar 1,12 juta orang, Fadhil menilai, penurunan 
itu masih tidak berkualitas. "Pasalnya, masih didominasi sektor informal, bukan 
sektor formal," ucapnya 

BPS melaporkan, sepanjang triwulan I 2008, angka pengangguran di Indonesia 
mengalami penurunan sebesar 1,12 juta orang jika dibandingkan year on year 
Februari 2008 dengan Februari 2007. Sementara untuk angka pertumbuhan ekonomi, 
terjadi peningkatan sebesar 6,28 persen jika dibandingkan pada triwulan yang 
sama pada 2007. 

Demikian dikatakan Deputi BPS Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Slamet 
Sutomo, serta Deputi BPS Bidang Statistik Sosial, Arizal Ahnaf, dalam jumpa 
pers di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (15/5). 

"Jumlah penganggur pada Februari 2008 mengalami penurunan sebesar 1,12 juta 
orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2007 sebesar 10,55 juta orang, 
atau sebesar 10,6 persen," tutur Arizal. 

Penurunan terbesar terjadi pada pengangguran perempuan, sebesar 792.000 orang. 
Sementara pengangguran laki-laki hanya mengalami penurunan sebesar 328.000 
orang. Tak heran jika tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan 
selama setahun naik sebesar 1,73 persen. Sementara TPAK laki-laki justru 
menurun sebesar 0,10 persen. 

Masalah pengangguran di Indonesia menurut Arizal, dapat diselamatkan oleh 
sektor informal. Dari data BPS, 69 persen tenaga kerja bekerja pada kegiatan 
informal, sedangkan sisanya sebanyak 31 persen bekerja pada sektor formal. 
Sementara bila ditinjau dari lapangan pekerjaan, selama satu tahun belakangan, 
peningkatan jumlah penduduk yang bekerja tertinggi terjadi pada sektor jasa 
kemasyarakatan yang naik 1,82 juta orang diikuti oleh sektor perdagangan, rumah 
makan dan jasa akomodasi dengan kenaikan 1,26 juta orang. 

Meski rata-rata mengalami penurunan, jumlah pengangguran justru meningkat di 
tujuh provinsi, yakni Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Kalimantan 
Selatan, Papua Barat, Yogyakarta, dan Gorontalo. 


Sektor Pertanian 

Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi yang diukur dari kenaikan Produk 
Domestik Bruto (PDB), terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan di sektor 
pertanian, keuangan, real estate dan jasa perusahaan, listrik, gas dan air 
bersih, pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa. 

"Untuk pertumbuhan kuartalan, pendorong terbesar pertumbuhan adalah sektor 
pertanian yang menyumbang 18,02 persen. Sedangkan untuk tahunan (yoy), 
pendorong terbesar adalah sektor pengangkutan dan telekomunikasi 19,7 persen," 
kata Slamet. 

Dengan demikian, katanya, nominal PDB Indonesia pada triwulan I 2008 tercatat 
Rp1.126,8 triliun atau naik dari Rp1.041,1 triliun pada triwulan IV 2007. 

Dibanding triwulan lalu, katanya, peran konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan 
PDB triwulan I 2008 turun sebesar 0,4 persen, dengan peran konsumsi pemerintah 
juga turun 30,5 persen, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau 
investasi turun 0,6 persen. 

Sedangkan yang memberi peran positif pada pertumbuhan, jelasnya, adalah ekspor 
barang dan jasa yang naik 5,7 persen, meskipun impor juga naik 2,7 persen. 

"Menurunnya peran konsumsi rumah tangga sesuai dengan indeks tendensi konsumen 
yang hanya 95,01 yang berarti ekonomi konsumen memburuk," katanya 

Slamet melanjutkan, dibanding periode yang sama tahun lalu, peran terbesar 
berada pada sektor ekspor barang dan jasa sebesar 15 persen, pembentukan modal 
tetap bruto sebesar 13,3 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,5 persen, dan 
konsumsi pemerintah sebesar 3,6 persen, sementara impor barang dan jasa juga 
naik sebesar 16,8 persen. 

Secara regional, ungkapnya, ekonomi Indonesia masih mendapat kontribusi dari 
Pulau Jawa, dan Sumatera. Masing-masing menyumbang 58,11 persen dan 23,77 
persen. [D-10] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 16/5/08 

Kirim email ke