Refleksi:   Upacara seremonial sangat penting untuk menipu rakyat. Ucapara  
yang dilebih-lebihkan terselubung selalu praktek politik akal bulus.  Jadi 
apakah ada faedahnya kalau rakyat tidak dapat menikmati harta kekayaan alamnya 
yang diexplotasi dibanwah lambang kebangkitan nasional selain mereka yang 
berkuasa? 

http://www.antara.co.id/arc/2008/5/17/kebangkitan-nasional-baru-bukan-sekadar-seremonial/

17/05/08 19:21

Kebangkitan Nasional Baru Bukan Sekadar Seremonial


Bandung (ANTARA News) - Indonesia perlu suatu kebangkitan baru dengan semangat 
baru dan bukan dengan sekadar menciptakan mitos baru sebagai hal-hal bersifat 
seremonial melainkan komitmen bersama seluruh bangsa menata kembali secara 
konseptual dan fundamental karakter kebangsaan.

Demikian benang merah dari Seminar 100 Tahun Kebangkitan Nasional bertema 
"Membangun Optimisme Baru dalam Kebangkitan Daya Saing" di Sasaba Budaya Ganesa 
ITB Kota Bandung, Sabtu.

Hadir sebagai pembicara pada seminar nasional itu tiga Ketua Lembaga Tinggi 
Negara yakni Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua DPD 
Ginanjar Kartasasmita serta Panglima TNI Jenderal (TNI) Joko Santoso.

Dalam seminar yang dihadiri sekitar seribu peserta dari kalangan birokrat, 
akademisi, muspida, mahasiswa, LSM dan tokoh masyarakat itu juga diungkapkan 
pudarnya moralitas hidup berbangsa dan bernegara mengakibatkan rusaknya sistem 
hukum, demokrasi dan kepentingan nasional yang dicita-citakan "the founding 
fathers" bangsa Indonesia. 

"Kebangkitan Nasional kali ini harus menjadikan pendidikan sebagai hal utama 
dalam menata karakter kebangsaan manusia Indonesia dan meningkatkan kualitas 
sumber daya manusia," kata Ketua DPR Agung Laksono dalam paparannya. 

Ketua DPR mengaku prihatin dengan penurunan yang ditandai semakin kaburnya rasa 
kebangsaan di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan kaum terpelajar 
sekalipun.

"Pendidikan merupakan sarana paling strategis untuk membangun masa depan 
bangsa," katanya. 

Sementara itu Ketua MPR Hidayat Nurwahid dalam paparannya mengungkapkan momen 
100 Tahun Kebangkitan Nasional harus diikuti dengan komitmen meningkatkan sikap 
toleransi dalam kehidupan multikultur di Indonesia. 

Selain itu ada gerakan moral dari rakyat untuk bangkit bersama keluar dari 
permasalahan yang dihadapi bangsa ini, salah satunya menata kembali karakter 
kebangsaan dan moralitas melalui peningkatan SDM.

"Seratus tahun usia kebangsaan kita, seharusnya lebih dari cukup untuk mampu 
merefleksi suatu semangat baru dalam memperkuat semangat kebangsaan," kata 
Hidayat Nurwahid. 


Kebangkitan

Sementara itu Panglima TNI Jenderal (TNI) Joko Santoso menegaskan perlunya 
belajar dari semangat kebangkitan yang dipelopori Budi Utomo tahun 1908.

"Melalui pergerakan Budi Utomo yang tidak sepi dari berbagai ancaman dan 
tekanan, mereka berhasil membangun nasionalisme yang muaranya adalah persatuan 
dan kesatuan. Kita semua harus belajar dari semangat itu," kata Joko Santoso. 

Dalam kaitan ketahanan dan pertahanan nasional, menurut Joko merupakan tugas 
berat yang haru dipikul oleh seluruh komponen bangsa. 

"Kokohnya pertahanan dan ketahanan nasional ditentukan oleh keberhasilan 
pembangunan nasional yang diawaki oleh sumber daya manusia yang tangguh 
memegang teguh kultur dan jati diri bangsa Indonesia," katanya. 

Dengan demikian, kata dia, dihadapkan dalam kondisi riil ketahanan dan 
pertahanan nasional terdapat tiga program mendasar yakni membangun kualitas 
SDM, memperkokoh ketahanan nasional dan memperkokoh pertahanan.

Kirim email ke