Refleksi: NKRI membutuhkan warga bodoh supaya bisa dimanipulasi oleh dan demi kepentingan para petinggi partai politik dan pemegang kekuasaan negara. Makin banyak orang bodoh dan terkebelakang makin baik bagi mereka, langkah untuk itu ialah pendidikandibuat mahal agar mayoritas rakyat tidak mampu mendapat pendidikan nan layak dan bermutu. Lihat saja dalam kamus politik pendidikan penguasa NKRI tidak ada yang disebut "rakyat pandai negeri maju". Kaum dan rakyat yang dimarginalkan di daerah-daerah harus berani untuk tidak membodohkan diri atau terjerumus dalam pembodohan penguasa.
Bangka Pos Pendidikan yang Berkualitas Modal Kebangkitan Bangsa edisi: Selasa, 27 Mei 2008 WIB Penulis: Oleh: Yunalinda, S.S. MEMAKNAI Hari Pendidikan Nasional yang disambut dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tentunya memiliki makna tersendiri di balik sejarah lahirnya kedua hari besar nasional tersebut. Apalagi, jika pendidikan dikaitkan dengan kebangkitan bangsa. Bila ditinjau lebih jauh, kebangkitan sebuah bangsa yang sedang berkembang sangat tergantung kepada kualitas dunia pendidikannya. Pendidikan yang berkualitas dibangun di dalam tiga dimensi yaitu; pemerintah/dinas pendidikan, sekolah, dan masyarakat. Ketiga dimensi tersebut bersinergi positif demi terciptanya lingkungan dan suasana pendidikan yang kondusif. Kondisi inilah yang akan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan siap merealisasikan ide-ide kreatif untuk membangun bangsa yang lebih maju. 1.Pemerintah/Dinas Pendidikan Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan diawali dengan lahirnya Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diperkuat dengan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan yang kemudian ditegaskan lagi dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang merupakan serangkaian kebijakan mendasar yang akan berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Bahkan, untuk mempercepat peningkatan dan kualifikasi guru, pemerintah melalui Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menggulirkan program beasiswa kepada guru yang masih memiliki kualifikasi pendidikan non S1 untuk mengikuti program S1. Tentunya ini merupakan kebijakan positif yang harus disambut dengan semangat dan kinerja yang positif pula. Ironis memang, jika masih ada oknum yang merasa terpaksa mengikuti program ini, sehingga lahirlah imej hanya sekedar seremonial dengan alasan sudah tua dan hanya untuk mendapatkan ijazah S1, lantas berupaya "bermain dengan nilai". Jika ini yang terjadi maka tujuan pemerintah tidak akan tercapai secara optimal. Di samping program tersebut, pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan besarnya anggaran pendidikan. Berkaca dari negara-negara yang sudah maju di bidang pendidikan, seperti Malaysia yang anggaran pendidikannya sebesar 40 persen, bahkan negara maju seperti Jepang dan Amerika anggaran pendidikannya mencapai 60 persen. Nah, bagaimana dengan Indonesia yang hanya 20 persen pun belum sepenuhnya terealisasi? Besarnya anggaran pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas sarana dan mutu pendidikan di setiap sekolah. Jika sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tersedia dengan baik dan lengkap, tentunya harapan siswa untuk merasakan suasana belajar yang asyik dan menyenangkan terealisasi, sehingga minat belajar siswa juga akan tinggi, apalagi ditunjang dengan kurikulum yang diberlakukan relevan dengan minat dan kebutuhan siswa. Departemen Pendidikan Nasional melalui Dinas Pendidikan Provinsi sampai ke tingkat kecamatan merupakan mata rantai penggerak arus kebijakan pendidikan yang berperan aktif dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Ditambah dengan hadirnya Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), sudah barang tentu dunia pendidikan benar-benar akan lebih maju dan berkualitas. 2. Sekolah Sekolah dianalogikan sebagai "mesin" pendidikan yang memroses dan mencetak manusia-manusia yang memiliki skill dan karakter sesuai dengan kualitas "mesin" tersebut. SDM yang lahir dari sebuah "proses" tentunya memiliki kualitas yang berbeda dibandingkan SDM yang "instan". Tidak dapat dipungkiri, misalnya Si A yang menyelesaikan jenjang pendidikan dari SD, SMP, kemudian SMA, tentunya memiliki skill yang lebih berkualitas bila dibandingkan dengan Si B yang hanya mengikuti Paket A, Paket B, dan Paket C. Hal ini akan tergambar karena "proses" yang diikuti siswa di sekolah akan membentuk pola pikir, karakter, dan wawasan seseorang. Sekolah adalah muara untuk merealisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Pengelolaan sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku dengan menciptakan suasana yang kondusif antara Kepala Sekolah, Pegawai Tata Usaha, Komite, dan Guru, akan menghasilkan energi yang maksimal dalam "memroses" siswa. Selain itu, suasana yang kondusif akan menumbuhkan imej bahwa keberhasilan siswa melalui "proses" akan jauh lebih berharga dan bermakna dari pada sekedar angka-angka pada nilai kelulusan siswa, sehingga ketika melaksanakan UAN tidak perlu terjadi kecurangan. 3. Masyarakat Masyarakat juga memiliki peranan cukup penting dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Orang tua siswa adalah termasuk elemen masyarakat yang paling dekat dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu, peran orang tua baik moril maupun materil sangat berarti terhadap kemajuan sekolah. Dari segi moril, orang tua harus memantau perkembangan anaknya, kemudian ikut membimbing proses belajar di rumah. Peran aktif orang tua terhadap proses perkembangan pendidikan anak di sekolah akan perpengaruh positif terhadap kemajuan prestasi anaknya. Anak yang mendapat perhatian penuh dalam hal belajar dari orang tuanya akan memiliki prestasi yang gemilang baik di sekolah maupun di masyarakat. Kenakalan remaja pada dasarnya disebabkan kurang mendapat perhatian dan bimbingan dari orang tuanya. Orang tua yang berperan aktif dalam perkembangan proses belajar anaknya, biasanya juga akan memberikan kepedulian yang besar terhadap kemajuan dan kualitas sekolah tempat anaknya belajar, sehingga sumbangan berupa materilpun akan disikapi sebagai tanggung jawab bersama. Lebih jauh lagi, peran masyarakat luas baik secara pribadi maupun melalui lembaga-lembaga sosial misalnya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) hendaknya juga memberikan sumbangsih demi kemajuan dunia pendidikan yakni, dengan melakukan kontrol sosial, menjaga nama baik guru dan sekolah, memberikan dukungan terhadap kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah dengan melahirkan sifat demawan untuk memberikan sumbangan materil demi kemajuan dan kualitas sekolah. Jika ketiga dimensi yang membangun dunia pendidikan tersebut bergerak dinamis terhadap satu titik yang bernama pendidikan, saling memberikan dukungan dengan bersinergi positif, tentunya akan membawa danpak yang sangat baik terhadap kemajuan dunia pendidikan, sehingga terciptalah lingkungan dan suasana yang kondusif dalam lembaga pendidikan. Kondisi sekolah yang kondusif akan menciptakan suasana belajar yang asyik dan menyenangkan baik bagi guru maupun siswa. Hal ini akan menumbuhkan semangat, aktivitas, dan kreativitas bermutu, serta kesadaran akan pentingnya nilai sebuah pendidikan. Lebih penting lagi, proses pendidikan yang ideal dan berkualitas akan melahirkan SDM-SDM yang andal, memiliki skill dan karakter dinamis untuk menggerakkan roda pembangunan yang berkualitas. Dengan demikian, peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang sudah berjalan satu abad tidak hanya diisi dengan sekedar perayaan yang hanya bersifat seremonial belaka. Akan tetapi, harus ada langkah kongkrit agar bangsa ini benar-benar bangkit dari keterpurukan. Bukankah kemajuan suatu wilayah pada dasarnya diukur melalui tingkat pendidikan masyarakatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat di suatu wilayah maka semakin majulah wilayah tersebut. Wallahu'alam. (*
