Tak lagi berdaulat (ingat, pekik ini menyakitkan...) silahkan menyapih, hamba sedang tidak membutuhkan keangkuhan gores pena rahayat jelata sudah berdarah-darah, kaum ibu pun sudah tak kokoh berdiri takkan sanggup buku panduan berhalaman seribu mencerahi keringat dingin ini sekali inipun, kembali cahaya lekang bahkan terburai berbatang-batang lilin untuk suar membaca di gulita malam takkan pernah hamba cukupkan
menjijikkan.... lihatlah mereka...lihat dengan tajam, tembus pandangkan ceruk kedua mata mereka, lihat kaum ini.... lidah mereka begitu tajam...mereka berteriak atas hilangnya isi periuk nasi mereka habis liur mereka untuk tangisan haram yang karam . jadah! kenapa baru berteriak sekarang? tolol ! mereka yang dulu dengan bau nafas seharum flamboyan tengah malam di musim angin barat kini malah berjejer-jejer di depan juru tuntut pekik mereka....kembalikan uang kami, atau kau akan kami gantung dan kami bakar hidup hidup indahkan mimpi kami, atau kami akan melacur... fuih...tak kukira ternyata mereka kini tak sehela nafas pun mampu untuk bermaksiat-diri lihat sekali lagi wajah wajah mereka... bandingkan dengan polah kaum pendewa keindahan temuan buah-khayal, persekutuan gelar, kemaha agungan akal pikiran.. hah, sama saja.... terlebih tajamnya mulut mereka... kini...mereka perlahan bergerak-gerik, berderak-derik, sesekali bergoyang tertempa angin dari lembah.....reyot gubuk itu kokoh dipunggungan bukit, namun kini kosong...(kukira penghuninya 'lah dimakan sang raja hutan,lebih pantas begitulah nasib mereka) hamba cuma prihatin, kini bangsa ini telah bermaklumat, kini telah berkaum-kaum... hamba mual, tak lebih zalimnya daripada umbak selat melaka yang mendera ulu hati tatkala berperahu tempuhinya.. ini lebih lagi mualnya tapi benarlah canda si pandita tiongkok yang baru buang sauh di lepas muara kampung sore kemarin, mereka sangatlah anggun terlihat dalam kebersamaan.. katanya bermakna canda mereka didalam mata batinku tinggi fikir tapi tak berakhlak.. tinggi mimpi tapi tak keringatnya berkehendak dan tak pula kehendaknya berkeringat hamba taklah memuja sang panglima laut samodera dari sebrang selat hamba tak pula menafsir mimpi ratu adil hamba hanya menikmati sedetik terakhir ini sebelum hamba berakhir perut berlubang dan terburai usus di padang laga hamba tidak memilih tapi santun hamba harus menjalani.....tak ingin perubahan hanya untuk sekedar merubah seandainya tak mampu, maka kan terucapkan...sungguh ini suar yang tak elok didengar pilih johan kalian angkat panglima kaum bukakan mata mereka, kalau perlu nistakan derajatnya, kembalikan akhlak mereka ketempat semestinya mereka berada tinggalkan mereka sekejap engkau temukan purnama usai diufuk laut silahkan menyapih yang tak hendak haraplah ambil sedepa dari nyawa barisan ini kirim saja doa kalian, hal kini lah mengambil wujud yang sungguh tak bersahaja, kami berkehendak meluruskannya hai johan pahlawan, pemuda pemudi dengan baju berbenang blacu putih dan berselempang merah atas nama ibu bergegas ambil yang bisa kalian bawa ke medan perjuangan...sekali ini jangan ada yang terlupa tak satu hela akan tersisa di lapangan datar sana...mereka takkan sebodoh yang kita kira buang jauh jauh buku gurindam itu, bersihkan tumbak dan keluarkan genderang tua kita tak pula hamba hendak menakuti, tapi demikianlah kita telah bermaklumat...musuh tak akan selalai dongeng pandita tiongkok kemarin sore hai pemuda pemudi dengan keringat bercampur darah, habiskan cepat mimpi kalian...tinggalkan persekutuan sesat ini, maklumatkan rahayat adalah pemilik jiwa bangsa dan jangan lupa ... ambil satu surat dalam alkitab kalian masing masing...lipat dan selipkan dibalik selempang, tepat dibalik dada kiri kalian kami menunggu di garis depan... 1 maret 05 ys
