Refleksi: Massa NU akan tangkap Riezig dan konco-konconya,  karena  (1) kapolri 
dan anak buahnya  menjadi penonton dan (2) tidak diberikan uang kopinya. 


http://www.harianterbit.com/artikel/fokus/artikel.php?aid=45642



Massa NU ke Jakarta akan tangkap Rieziq
      Tanggal :  03 Jun 2008 
      Sumber :  Harian Terbit 


JAKARTA - Imbauan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie agar masyarakat 
tidak melakukan tindakan provokatif yang dapat memancing terjadinya kekacauan 
baru pasca "kerusuhan Monas'' hari Minggu (1/6), nampaknya harus diikuti para 
pimpinan ormas Islam. Sebab di beberapa daerah dikabarkan muncul aksi balas 
dendam, sementara di Jakarta beredar informasi ribuan massa siap menyerbu ibu 
kota guna membalas dendam kepada tokoh FPI maupun Lasykar Islam.

Mantan Ketua Umum Garda Bangsa, salah satu ormas sayap NU, Imam Nahrowi 
mengaku, sudah mendengar adanya rencana ribuan warga nahdliyin dari berbagai 
pelosok di pulau Jawa bakal menyerbu Jakarta, Kamis lusa (5/6). Tujuan mereka 
untuk menangkap dan mengadili Komando Laskar Islam (KLI) Munarman dan Ketua FPI 
Habib Rizieq Shihab. 

Namun, sejauhmana kebenaran informasi itu, Nahrowi yang juga anggota DPR tak 
merincinya. Ia malah mengingatkan agar warga nahdliyin tidak terpancing 
melakukan kekerasan apalagi sesama anak bangsa. "Saya menghimbau agar 
masyarakat khususnya warga nahdiyin tidak terpancing melakukan main hakim 
sendiri. Kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan pula," kata dia. 

Untuk tidak terjadi hal-hal yang tak diingini, kata Imam, pemerintah harus 
bertindak tegas menyelesaikan kasus tersebut secepatnya. Kalau tidak, 
kemungkinan kekerasan menjadi luas sehingga yang menanggung akibatnya juga anak 
bangsa. "Selesaikan kasus ini sesuai aturan hukum yang berlaku," kata dia. 

Aksi balas dendam umat Nahdlatul Ulama (NU) terhadap kader dan aktivis Front 
Pembela Islam (FPI) mulai terjadi, menyusul dianiayanya salah seorang kiai NU, 
KH Maman Imanulhaq Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka yang 
disebut-sebut dilakukan oleh massa FPI yang menyerang massa AKKBB di Silang 
Monas, Minggu (1/6).

"Mereka telah berani menyerang kiai yang merupakan simbol kewibawaan NU. 
Keluarga Besar NU mendesak pemerintah segera menindak tegas FPI dan membubarkan 
organisasi pimpinan Habib Rizieq Shihab tersebut. Kalau Pemerintah tidak mau 
melakukan, maka keluarga besar nahdliyin yang akan melakukan pembubaran paksa," 
kata Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Abdul Malik Haramain kepada pers 
di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Senin. 

Hadir juga pada kesempatan itu perwakilan dari Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, 
Garda Bangsa, PMII, IKA PMII, Lakpesdam, IPPNU, Fatayat, P3M, Wahid Institute, 
dan Moderat Moslem Society. 

Aksi serangan balik terhadap massa FPI sudah dilakukan warga NU di Cirebon dan 
Yogyakarta. "Sekarang warga telah menurunkan plang FPI di Cirebon dan Jember. 
Ini protes simbolik," katanya. 

Di Yogyakarta, massa tak dikenal menyerang markas FPI di Kabupaten Sleman, 
Yogyakarta, Senin (2/6) pukul 22.00 WIB. Pada peristiwa ini dikabarkan 1 orang 
terluka, sejumlah orang ditangkap polisi. Sejumlah kendaraan bermotor yang 
dikendarai massa menyerbu markas FPI itu diamankan Polisi.

Pada peristiwa ini sempat terjadi tantang menantang antara massa FPI dan 
sekelompok massa itu. Namun, ketika anggota FPI keluar dan membawa senjata 
tajam dan pentungan, massa itu lari tunggal langgang. Polisi yang berjaga tidak 
bisa berbuat banyak melihat keributan itu.

Aksi serupa juga digelar puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia 
(PMII). Mereka melakukan aksi demonstrasi di Sekretariat FPI Cirebon di Jalan 
Fatahilah, Gang Dukuh Dalem, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Senin siang 
sekitar pukul 14.00 WIB. 

Mereka berorasi sambil melakukan aksi duduk menutupi Gang Dukuh Dalem di depan 
gerbang Majlis Taklim Al Husaini yang merupakan majlis taklim pimpinan Ketua 
FUI Cirebon Habib Mohamad Alhabsi. 

Sebelumnya, massa dari PMII juga menggelar aksi di Markas Polresta Cirebon 
dengan tuntutan yang sama, namun kemudian bergerak ke Islamic Centre Kota 
Cirebon untuk melakukan sweeping terhadap anggota FPI. 

Kemudian, puluhan warga NU terdiri dari unsur PMII dan Anshor, Minggu malam 
sekitar pukul 20.00 WIB menyerang Sekretariat Front Pembela Islam (FPI) 
Cirebon, di Jalan Fatahilah, Gang Dukuh Dalem, Desa Setu Kulon, Kecamatan 
Plered, Kabupaten Cirebon. 

Tindakan masa NU dari kalangan muda itu untuk membalas sakit hati warga NU 
karena anggota Dewan Syuro DPP PKB KH Maman Imanulhaq Faqieh, MA, dari 
Majalengka menjadi korban pemukulan massa FPI di sekitar Silang Monas, Jakarta. 

Sementara itu tokoh NU, Arifin Junaidi, mengatakan aksi massa NU di Cirebon 
bukan penyerangan, tapi sebagai bentuk kekesalan mereka atas sikap yang 
dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan laskar Islam.

Arifin meminta pemerintah dan aparat penegak hukum harus bertindak tegas 
mengusut tuntas aksi penyerangan dan kekerasan yang dilakukan oleh Front 
Pembela Islam. Sebab, kalau tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan aparat 
penegak hukum, mereka akan berbuat seenaknya dalam melakukan aksinya.

Menurutnya, pemerintah dan aparat penegak hukum jangan kehilangan kekuasan 
dalam menangani aksi kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat. 

Di Senayan, Ketua Fraksi PKB DPR Effendy Choiri menyatakan, aksi kekerasan yang 
dilakukan FPI merupakan ancaan disintegrasi bangsa. Karena itu negara jangan 
membiarkan tindakan orang anarkis. Ia menilai FPI sebagai organisasi yang 
membahayakan NKRI dan mengancam konstitusi yang menjunjung kebhinnekaan. 
(art/pnb/dar/ant

Kirim email ke