======================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER
[ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia" ]  
=======================================
[Ec_Q]
 
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
 
Belajar dari : 
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
 
62. Kunci membuka sejumlah kemampuan
Sejak awal, metode Grameen untuk memberikan uang tanpa satu pun upaya memberi 
pelatihan keterampilan terlebih dahulu ini memang berlawanan dengan metode 
pengentasan kemiskinan lazimnya. Kami menuai banyak kritik atas kebijakan ini, 
bahkan dan beberapa teman sendiri. Di Jobra, kami jelas tidak melihat adanya 
kebutuhan memberikan pelatihan formal, dari pengalaman kami tahun 1980-an hal 
ini meyakinkan kami bahwa pendekatan yang kami ambil ini tepat.
Mengapa memberi kredit lebih dulu?
Saya sangat yakin semua manusia memiliki keterampilan bawaan lahir. Saya 
menyebutnya keterampilan bertahan hidup. Fakta bahwa kaum miskin bisa hidup 
jelas membuktikan kemampuan itu. Mereka tidak perlu kita ajari cara bertahan 
hidup; mereka sudah tahu bagaimana caranya. Jadi, daripada membuang waktu 
mengajari mereka keterampilan baru, kami mencoba memanfaatkan semaksimal 
mungkin keterampilan yang sudah mereka miliki. Memberi akses kredit kepada kaum 
miskin menjadikan mereka segera mempraktikkan keterampilan yang sudah mereka 
pahami: menenun, menumbuk padi, beternak sapi, dan mengayuh becak. Uang yang 
mereka peroleh selanjutnya menjadi alat, kunci yang membuka sejumlah kemampuan 
lain dan memberi mereka peluang menggali potensi dirinya. Para peminjam 
seringkali saling mengajari teknik-teknik baru yang membuat mereka bisa lebih 
memanfaatkan keterampilannya bertahan hidup. Mereka mengajarkan yang jauh lebih 
baik dan yang pernah bisa kita lakukan.
Para pengambil kebijakan di pemerintahan, ornop-ornop, dan konsultan-konsultan 
internasional biasanya memulai kerja pengentasan kemiskinan dengan 
menyelenggarakan program-program pelatihan besar. Mereka melakukan itu karena 
dari awal mereka berasumsi bahwa orang menjadi miskin karena tidak terampil. 
Pelatihan ini juga mengekalkan kepentingan mereka sendiri: menciptakan makin 
banyak pekerjaan untuk di mereka sendiri tanpa perlu tanggungjawab menghasilkan 
sesuatu yang konkret. Berkat aliran dana bantuan dan anggaran kesejahteraan, 
sebuah industri raksasa berkembang dengan tujuan tunggal menyediakan pelatihan. 
Para ahli pengentasan kemiskinan bersikeras bahwa pelatihan mutlak diperlukan 
oleh kaum miskin untuk meningkatkan jenjang perekonomiannya. Tetapi bila Anda 
berada di dunia nyata, tidak bisa tidak Anda akan melihat bahwa kaum miskin 
menjadi miskin bukan karena tidak terampil atau buta huruf, tapi karena mereka 
tidak bisa menyisihkan hasil yang didapat
 dari kerja mereka. Mereka tidak memiliki kontrol atas modal, dan kemampuan 
mengontrol modal. Ialah yang memberi orang kekuatan untuk lepas dan kemiskinan. 
Laba tak pelak lagi bias terhadap modal. Dalam kondisi tak berdaya, kaum miskin 
bekerja untuk keuntungan orang lain yang memiliki kontrol atas aset produktif. 
Mengapa mereka tidak bisa memiliki kontrol atas modal? Karena mereka tidak 
mewarisi modal atau kredit dan tak ada yang memberi mereka akses modal atau 
kredit karena dianggap tidak layak kredit.
Saya yakin banyak program pelatihan itu yang kontraproduktif. Jika Grameen 
mewajibkan peminjam mengikuti terlebih dulu program pelatihan manajemen usaha 
sebelum memperoleh pinjaman untuk memulai usahanya, banyak dari mereka akan 
lari ketakutan. Pembelajaran formal adalah pengalaman menakutkan bagi peminjam 
kami. Pelatihan bahkan bisa merusak kapasitas alamiah mereka atau membuat 
mereka merasa kecil, bodoh, dan tak berguna. Orang miskin juga sering ditawari 
insentif untuk ikut serta dalam program-program pelatihan, kadang mereka 
langsung menerima manfaat finansial dalam bentuk honor pelatihan, atau kadang 
pelatihan dibuat sebagai prasyarat untuk mendapatkan manfaat penting lainnya 
dalam bentuk uang tunai atau natura. Ini menarik kaum miskin, meskipun mereka 
mungkin saja tidak tertarik dengan pelatihannya itu sendiri.
Bukan maksud saya mengatakan semua pelatihan itu jelek. Tetapi pelatihan tidak 
semestinya dipaksakan. Pelatihan seharusnya ditawarkan hanya saat mereka secara 
aktif mencarinya dan mau membayar dalam bentuk natura atau uang untuk 
memperolehnya. Para peminjam Grameen misalnya, mereka memang mengharapkan 
pelatihan. Mereka mungkin ingin membaca angka dalam buku kredit mereka, 
misalnya, atau mengetahui berapa jumlah pinjaman yang telah dibayar dan berapa 
sisanya. Sering para peminjam Grameen ingin bisa membaca Keputusan Enambelas, 
mencatat, atau mengikuti berita-berita bisnis. Atau mereka mungkin juga belajar 
mengenai peternakan unggas, peternakan sapi, atau cara baru penanaman, 
penyimpanan, dan pemrosesan basil bumi. Grameen juga mengenalkan teknologi baru 
pada mereka: ponsel, energi surya, internet. Para peminjam akan segera perlu 
menghitung biaya telepon atau membaca kata-kata dalam layar komputer.
 
_______
 
Para ahli pengentasan kemiskinan bersikeras 
bahwa pelatihan mutlak diperlukan oleh kaum miskin untuk meningkatkan jenjang 
perekonomiannya. 
Tetapi bila Anda berada di dunia nyata, tidak bisa tidak Anda akan melihat 
bahwa 
kaum miskin menjadi miskin bukan karena tidak terampil atau buta huruf, 
tapi karena mereka tidak bisa menyisihkan hasil 
yang didapat dari kerja mereka.
_______
 [ bersambung ]
 
***********    
Jika Anda hanya mengerjakan apa yang bisa dikerjakan,
Anda tak akan pernah bisa mengerjakan banyak hal.
[ Tom Krause, AS ]
 
***********    
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm




 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke