Buka Tutup Kasus Munir Pertanda Apa ??? Kalo dulu dizaman nabi Muhammad ada orang yang dibunuh secara tidak adil oleh pasukan nabi Muhammad atas perintah nabi sendiri, maka siapa yang mungkin bisa menuntut keadilan dihukumnya sang nabi atas perbuatannya atas perbuatannya yang salah itu ??? Dan hal ini kita bisa sama2 membaca berbagai kesalahan2 yang diperbuat nabi Muhammad yang sama sekali tidak dikecam atau dikritik pengikutnya ataupun umatnya, bahkan mereka justru membenarkannya. Sebaliknya untuk perbuatan yang sama salahnya tetapi kalo dilakukan oleh bukan sang nabi, maka pelakunya dihukum mati dengan segera.
Disinilah letaknya kelemahan dari sebuah kekuasaan mutlak yang bukan hanya terjadi di Arab Saudia dengan nabi Muhammadnya, tetapi juga terjadi diseluruh dunia dimana belum dikenal sebutan negara karena semuanya hanyalah berupa kerajaan2 yang merupakan milik mutlak pribadi rajanya. Kalo kita bandingkan apa yang dialami Suciwati yang suaminya dibunuh dengan racun seperti halnya meracuni anjing geladak saja layaknya, tentu kita merasa marah, tapi apa daya pelakunya dilindungi penguasa yang berkuasa kuat sehingga tak bisa ditembus oleh hukum apapun juga. Cobalah anda renungkan bagaimana frustasinya perasaan Suciwati dan bagaimana kalo hal yang sama menimpa diri anda ??? Melakukan perbuatan yang baik dan beramal menolong orang banyak bukanlah berarti hidup anda menjadi aman, contohnya Munir yang menjalankan tugasnya sebagai pembela kebathilan dan hasilnya dia mati diracuni. Munir adalah ahli dan kawakan dibidang hukum, oleh karena itu dia juga tahu pentingnya kewaspadaan agar jangan dibunuh orang2 yang membencinya akibat ditegakkannya keadilan atas tegaknya hukum yang berlaku. Wajar tidak mungkin siapapun gampang2 meracuni Munir, artinya, tidak mungkin Munir diracuni oleh pembantunya, tidak mungkin diracuni oleh budaknya, tetapi teman dekat yang justru sangat dipercayanya itulah yang bisa meracuninya diluar dugaannya sebelumnya. Bahkan isterinyalah yang paling besar potensinya untuk meracuni Munir karena isterinya inilah orang yang paling dipercaya dan paling dekat dengan dirinya selalu. Namun sayang, dalam kasus pembunuhan Munir ini, ternyata sang isteri sangat tidak untuk dimasukkan kedalam orang yang bisa dicurigai karena waktu kerjanya racun dan jarak keberadaan isterinya tidak memungkinkan sang isteri bisa meracuni sang suami. Oleh karena itulah, isteri Munir tidak termasuk orang yang dicurigai dan fokus penyidik beralih kelain arah dan terbukti pelaku yang dicurigai makin sedikit jumlahnya hingga berakhir hanya pada satu orang yang terus menerus bisa diloloskan oleh penguasa2 negara dari pintu belakang diluar jalur hukum. Tidak berbeda dengan kasus meracuni nabi Muhammad, beliau sama pahamnya kalo makanannya mudah sekali diracuni, bahkan beliau bisa hidup sampai umur tua membuktikan betapa tingginya kewaspadaan nabi Muhammad terhadap upaya2 musuh2nya untuk bisa lolos meracuni dirinya. Namun kenyataannya, beliau betul2 berhasil sakit diracuni dan karena tubuhnya kuat maka racun sekalipun susah mematikan dirinya sehingga akhirnya dia harus mati dibacok oleh komplotan yang meracuninya. Artinya sama dengan kasus Munir, nabi Muhammad tidak mungkin diracuni oleh budaknya karena budak2 dilarang menjamah, dilarang menyentuh dan dilarang mempersiapkan makanan bagi sang nabi. Larangan2 sepeti itu dizaman sekarang bisa disamakan dengan tugas Homeland Security yang kalo di Indonesia bisa disamakan dengan Bin. Demikianlah, kalo Homeland Securitinya yang melakuan peracunan, atau anggauta Bin-nya yang melakukan peracunan maka bobol-lah keamanan sang nabi atau keamanan Munir. Bedanya, kalo dalam kasus peracunan Munir tahap penyidikan pertama dilakukan terhadap isterinya yang dicurigai sebagai pelaku peracunan itu, maka dalam kasus peracunan nabi Muhammad sang isteri inilah yang berkuasa untuk membelokkan penyidikan itu kepada kambing hitam bahwa pelaku peracunan itu adalah budak2 sang nabi. Seharusnya dalam kasus peracunan nabi Muhammad sang isteri itulah yang pertama harus diperiksa karena kedekatannya dengan sang nabi. Namun karena sang isteri dibacking oleh penguasa disekitar sang nabi, maka berhasillah budak2 yang tidak pernah bisa dekat dengan sang nabi itu menjadi kambing hitam tuduhan untuk melindungi sang isteri dan mencelakakan sang nabi. Keluarga nabi yang lain meskipun tahu siapa pelakunya yang meracuni sang nabi tetapi tidak kuasa mencegah ataupun melindungi sang nabi, bahkan keluarga nabi kemudian juga menjadi sasaran pembunuhan selanjutnya setelah kematian sang nabi. Begitulah, dizaman nabi Muhammad belum ada lembaga HAM, belum ada UN dimana rakyat jelata yang lemah tidak punya kekuasaan menjadi sasaran kambing hitam untuk dijadikan korban tuduhan2 fitnah dizaman dulu itu. Berbeda dengan dizaman sekarang, Suciwati yang merasa terpukul atas perlakuan tidak adil dari penguasa di negerinya tidak berputus asa, dengan penuh keberanian dia melaporkan ketidak adilan yang dialaminya kedalam sidang UN dimana lembaga HAM dan aparat2nya segera bereaksi menekan penguasa di Indonesia untuk membuka penyidikan yang adil. Akibat tekanan2 itulah sang penguasa di Indonesia menjadi terbatas tindakannya untuk melakuan kese-wenang2an terhadap rakyatnya sendiri. Kasus Munir yang tadinya sudah ditutup sebagai akibatnya dibuka kembali untuk men-cari2 kambing hitam baru yang bisa menjadi perisai sipelakunya. Kasua di-tarik ulur melalui permainan waktu dan memanfaatkan situasi politik dunia yang berkembang. Dan pada timing yang dianggap nya tepat, si penguasa kembali menutup kasus itu untuk dinyatakan selesai setelah menghukum kambing putih yang dibuatnya jadi hitam. Namun situasi ekonomi maupun politik diseluruh dunia yang terus berkembang kembali menekan pemerintah penguasa di Indonesia untuk kembali bersandiwara membuka kembali kasus Munir untuk kemungkinan2 adanya kambing2 lain yang bisa dihitamkannya. Dan kembali menutup selesai kasus ini setelah berhasil merekayasa kambing2 putih menjadi hitam. Demikianlah, kondisi seperti ini terus berlangsung dan kita sama2 menyaksikan mengapa kasus Munir bisa buka tutup tanpa ada penyelesaian yang memuaskan. Pada hakekatnya semua penguasa di Indonesia sudah tahu siapa pelakunya, namun tidak ada yang berani menuduhnya, sama halnya semua pengikut nabi Muhammad tahu siapa pelaku peracunan terhadap sang nabi namun tak berdaya dan tak ada keberanian untuk menuduhnya. Bahkan meskipun tidak ada yang berani menuduhnya, namun tetap para pengikut nabi Muhammad dibunuh habis meskipun tidak pernah menuduhnya karena mereka dianggap sangat berbahaya untuk dibiarkan hidup mengancam kekuasaan penguasa2 baru yang menggantikan sang nabi. Namun sungguh kita beruntung hidup dizaman sekarang bukan dizaman nabi Muhammad. Juga kita bukan hidup dizaman raja Ken Arok. Karena itulah kita meskipun bukan penguasa dan tidak dekat dengan kekuasaan tetapi kita tetap bisa menuntut penguasa yang meskipun masih mampu merekayasa kekerasan melalui FPI namun tetap tidak mampu mengubah warna2 kambing yang putih untuk dihitamkannya. Dunia Internasional tidak bisa disogok dan juga tidak bisa di-takut2i dengan nama Allah. Kebenaran akan tetap berpihak kepada yang benar bukan kepada yang se-olah2 dibenarkan. Buka tutup dalam kasus Munir menjadi pertanda bahwa kebenaran masih bisa ditarik ulur dan pelaku2 dibalik kekuasaan menunjukkan tidak mutlak kekuasaannya yang dalam perjalanan waktu tentunya akan kehilangan kekuasaannya dimana dia akan mengalami kehilangan kebebasannya didalam penjara yang bisa mengirimnya segera keneraka jahanam yang tidak diperhitungkannya sebelumnya. Sipelaku salah menyangka, dia mengira masih hidup dizaman nabi Muhammad, dan dia tidak paham bahwa dia hidup dizaman Demokrasi yang mempertahankan tegaknya HAM diatas Syariah Jahanam. Ny. Muslim binti Muskitawati.
