> "Erwin Arianto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saat melakukan pengkajian tentang Sebuah Ayat Alquran, > saya sungguh merasa bodoh dan pengetahuan yang saya > miliki bukanlah apa-apa melainkan hanya sedikit. Kita > ketika kita hidup sebagai mahluk social dan kita mulai > melangkah untuk menggapai sukses kita tidak akan luput > bertemu dengan banyak orang, serta berbagai macam masalah > dan situasi, oleh karena itu kita dituntut harus selalu > dan terus-menerus belajar.
Mengkaji AlQuran sama sekali bukan sebuah proses belajar, karena dalam proses belajar kita harus memahami realitas daripada sebuah problem sesuai dengan waktu, tempat, maupun lingkungannya. Apanya yang mau dipelajari dari ayat2 AlQuran yang hanya berisi kebencian kepada Yahudi, kafir, dan mereka yang bukan Islam ??? Isinya cuma cara mem-bagi2 secara adil harta rampasan dari pedagang2 Yahudi. Namun karena di Indonesia kebetulan tidak ada orang Yahudi, maka sesama umat Islampun dijadikan sebagai Yahudi, demikianlah umat Islam Ahmadiah akhirnya jadi korban penjarahan harta bendanya. Dan inilah realitas Islam yang akidahnya berasal dari ayat2 AlQuran tsb. AlQuran tidak pernah membawa kemajuan berpikir bahkan membawa kehancuran umat Islam itu sendiri. Hal ini seharusnya anda pelajari asal usul AlQuran itu sendiri yang ternyata merupakan kitab yang ditulis oleh pendeta2 Vatican ditahun 1538. Kalo ulama Vatican merekayasa Bible, mereka bertujuan mempersatukan kekuatan umatnya untuk melakukan penjajahan keseluruh dunia, dan sejarah membuktikan bahwa mereka berhasil melakukan penjajahan selama ratusan tahun. Sebaliknya, ulama Vatican juga merekayasa AlQuran, dan tujuannya justru sebaliknya, yaitu memecah belah umat Islam agar saling membunuh, saling menuduh, saling memfitnah, dan saling mengkafirkan satu sama lainnya dilanjutkan tentunya dengan saling memenggal leher sesamanya. Dan inilah kenyataan yang merupakan realitas yang tidak mungkin disangkal oleh siapapun juga. Bayangkan, AlQuran yang pertama yang dicetak oleh mesin cetak hingga sekarang masih tersimpan di Vatican, apakah tidak mengundang pertanyaan pada diri anda "Untuk Apa Vatican Mencetak AlQuran???". Padahal sebagai ulama Katolik yang tidak percaya Islam, tentu enggak ada alasannya untuk mencetak AlQuran sebelum umat Islam sendiri sanggup mencetaknya. Bahkan dulu dizaman Muhammad hingga masa kekalipahan yang terakhir, ada larangan untuk menulis AlQuran, apalagi mencetaknya. Jadi sebenarnya tidak pernah ada kalipah manapun yang pernah menulis alQuran dengan tangan. Semua tulisan2 AlQuran yang kuno itu berasal dari wilayah Timur Tengah diluar jazirah Arab, dan belum pernah ditemukan AlQuran kuno diwilayah Arab. Quran itu hanyalah kosa kata dalam bahasa Arab yang artinya "berita", yang kemudian dijadikan kosa kata bahasa Indonesia menjadi "Koran". Jadi belum pernah dizaman nabi Muhammad sekalipun dinyatakan bahwa AlQuran itu berisi wahyu2, karena bukan cuma wahyu, juga berita2, dongeng2, dan apapun yang merupakan tulisan atau catatan dinamakannya sebagai Quran. Barulah setelah dicetak pertama kali oleh ulama2 Vatican, barulah nama AlQuran tersebar didunia sebagai kitab Suci agama Islam. Hingga sekarang, anda bisa melihat sendiri ke Istambul maupun ke Cairo dimana AlQuran kuno tersimpan di-museum disana, namun isinya tidak bisa dibaca karena melekat sehingga kalo dibuka akan hancur keseluruhannya. Hanya terbaca samar2 dikulitnya dikatakan Alquran, kalo saja bisa dibuka bisa dipastikan isinya bukanlah wahyu Allah melainkan semua dongeng2 yang dihafal rakyat seperti halnya cerita2 hikayat Mahabharata maupun bharatayudha. Ny. Muslim binti Muskitawati.
