Refleksi: Menurut Megawati Sukarnoputri: "Golput tidak boleh menjadi WNI (Kompas 5 Juli 2008).
http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=rubrik&kid=5&id=Dialog%20Interaktif Rabu, 09 Juli 2008 Golput jangan Selalu Dikaitkan dengan Ketidakpuasan Telah lama kita tunggu-tunggu akhirnya tiba, saatnya kita menentukan pemimpin Bali lima tahun mendatang, Rabu, 9 Juli 2008 hari ini. Diharapkan masyarakat yang mempunyai hak politik memberikan hak suaranya menuju TPS masing-masing serta jangan sampai golput. Apa yang bisa terjadi jika golput sampai menang. Padahal apabila kita telusuri dari ketiga calon sepertinya telah mewakili seluruh masyarakat Bali. Golput merupakan satu bentuk aspirasi protes terhadap suatu sistem atau personal yang mereka harus pilih, namun tidak berkenan pada nuraninya, sekarang tergantung cara kita menyikapi, karena semua sah-sah saja. Demikian opini yang muncul dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global FM 96,5, Selasa (8/7) kemarin. Berikut rangkumannya. Walek di Denpasar mengatakan imbauan dari Gubernur Bali ini sangat bagus bahwa golput supaya tidak menang. Jawabannya siapa takut. Imbauan ini wajar dari seorang kepala daerah, sekarang tergantung masyarakat sendiri. Apakah masyarakat sudah merasa ada calon yang sesuai dengan hati nuraninya? Apakah ada calon yang kira-kira ke depannya membawa aspirasi masyarakat dan menyejahterakan masyarakat itu sendiri. Sementara dari ketiga kandidat semua bagus, tapi ada beberapa kelemahannya. Jangan sampai permainan pilkada ini pada akhirnya buruk, karena yang kita inginkan kalah. Padahal menang dan kalah dalam demokrasi ini biasa. 'Kepada calon gubernur harus siap kalah. Jangan sampai nanti membawa kesombongan atau kebesaran hati dengan didukung partai besar mengharap kemenangan,' pintanya. Gede Biasa di Denpasar mendukung imbauan Gubernur agar masyarakat tidak golput, karena dari ketiga calon ini sudah mewakili masyarakat Bali. Diharapkan kepada masyarakat janganlah ngambul karena golput itu berarti ngambul, sehingga kue yang ada dimakan orang lain. 'Kita harus menggunakan suara kita untuk menentukan pemimpin Bali mendatang. Kita jangan terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau ada yang terprovokasi namanya rugi besar berarti ia tidak mau menggunakan hak suaranya untuk Bali ke depan,' tambahnya. Jujur di Sanglah berpendapat kalau masyarakat jeli, sebenarnya dari ketiga kandidat sudah terwakili dari kandidat yang ada. Sekarang masyarakat harus cerdas memilih siapa di antara ketiga cagub itu sesuai dengan keinginan dan kebutuhan rakyat yakni apa yang menjadi keringanan dari pemerintah untuk kepentingan masyarakat. Tentunya di sana sudah tersedia. 'Marilah dengan adanya keran demokrasi yang dibuka langsung dan masyarakat menentukan sikapnya, siapa yang akan dipilih. Dikhawatirkan kalau sampai golput bisa menjadi bagian manipulasi data yang ada di sana. Tidak ada alasan masyarakat memilih golput,' paparnya. Pande di Pandak Gede mengatakan dalam pilkada fenomena golput adalah sesuatu wajar, karena sebetulnya suaranya yang tidak tersalur pada salah satu calon itu suatu bentuk aspirasi. Ketika ada suatu imbauan golput jangan sampai menang, itu suatu kewajaran normatif karena penyelenggara pemilihan yakni pemerintah melalui KPU mempunyai tanggung jawab, baik moral dan material yang begitu besar. Apalagi, kata dia, hajatan ini dilandasi konstitusi yang mengharuskan bahwa pemilihan harus ada dalam rentan waktu lima tahun. Kemudian kalau ini tidak dimanfaatkan atau golput akan membuat kekecewaan yang amat sangat pada pihak penyelenggara, terutama KPU, juga pemerintah dan rakyat itu sendiri. 'Sekarang tergantung cara kita menyikapi, karena semua sah-sah saja,' ujar Pande. Marbun di Nusa Dua menjelaskan, fenomena yang muncul belakangan ini bahwa masyarakat luas sudah apatis melihat partai. Di mana mereka mempertontonkan ada suap dan korupsi serta segala macam hal negatif lainnya. Persoalannya sekarang, apakah masyarakat masih percaya pada partai-partai, karena pada dasarnya para cagub nantinya diperkirakan akan lebib membela partai bukan membela rakyat. Suardana di Negara berharap mudah-mudahan masyarakat yang telah memiliki hak pilih tidak sampai golput. 'Kita berharap kepada ketiga kandidat siapa pun yang menang janganlah lupa pada pendidikan. Karena pendidikan bisa mengangkat derajat hidup,' ujarnya berharap. Jodog di Denpasar berpendapat, yang dikategorikan golput ada dua yakni orang yang sudah mendapatkan panggilan tapi tidak mempergunakan hak politiknya untuk memilih. Ini adalah golongan putih murni yang tidak memilih karena kekecewaan atau ketidakpuasan kepada calon-calon yang ada. Kedua golput yang tidak memilih karena alasan bekerja tidak dapat libur dan juga tidak mendapat surat panggilan. Jadi jangan selalu dikaitkan bahwa golput karena ketidakpuasan kepada pemimpin atau partai. 'Kalau kita selalu berpikir demikian berarti kita selalu dilingkari kebencian,' pungkasnya. * panca
