======================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [ WDNC ]
[ Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat Indonesia"
=======================================
[Ec_Q]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
79. Mereka Tahu Cara Mengubah Kehidupannya
Ron dan Mary tidak puas dengan hanya membantu masyarakat miskin pedesaan.
Mereka segera membidik daerah urban Amerika. Beberapa tahun sebelumnya, mereka
telah membeli sebuah bank komunitas yang bermasalah di kawasan miskin Chicago.
South Shore Bank ditinggalkan oleh pemilik toko dan pebisnis kulit putih sejak
warga kulit hitam pindah ke lingkungan mereka. Perlahan, South Shore Bank
memperoleh kembali kepercayaan komunitasnya, mendapatkan deposan baru, dan
mulai memberi pinjaman pada perorangan yang diabaikan oleh bank-bank
tradisional.
Ketika Ford Foundation memerlukan beberapa bankir independen untuk menilai
proposal dana penjaminan saya, Ron dan Mary diminta ke Bangladesh mengevaluasi
Grameen Bank. Sejak awal mereka menyukai apa yang kami kerjakan dan berharap
mengerjakan hal yang sama di pemukiman kulit hitam Chicago.
Tahun 1985 saya mengunjungi Chicago pertama kalinya atas permintaan Ron dan
Mary. Saya diundang berbicara pada aktivis sosial, ekonom, bankir, dan
tokoh-tokoh masyarakat. Hampir semua orang yang saya ajak bicara menyepelekan
pendapat saya. Menurut mereka pengalaman Bengali tidak relevan dengan
pengurangan kemiskinan di AS. Mereka klaim bahwa orang-orang Chicago
membutuhkan pekerjaan, pelatihan, layanan kesehatan, dan perlindungan dari
narkoba dan kekerasan, bukan kredit mikro, dan karenanya usaha mandiri adalah
sebuah konsep primitif yang hanya berlaku di Dunia Ketiga. Masyarakat
berpendapatan rendah di Chicago perlu uang untuk sewa dan pangan, bukan untuk
investasi. Mereka tidak punya keterampilan apa pun.
Saya lontarkan argumen yang sama yang pernah saya sampaikan pada bankir-bankir
Bangladesh. “Kaum miskin,” ujar saya, “sangat kreatif.” Mereka tahu cara
mendapatkan nafkah hidup dan cara mengubah kehidupannya. Yang mereka butuhkan
adalah kesempatan. Kredit memberikan kesempatan itu. Mungkin masyarakat kita
berbeda dan terpisah ribuan kilometer, tetapi saya tidak melihat adanya
perbedaan antara kaum miskin Bangladesh dan Chicago. Problematika dan
konsekuensi kemiskinan itu sama saja.”
Tak seorang pun percaya. Hanya Ron dan Mary yang mempercayai saya. Mary
memimpin pendirian Proyek Usaha Mandiri Perempuan (WSEP), sebuah organisasi
nirlaba yang sepanjang waktu melaksanakan beragam program inovatif
antikemiskinan, di antaranya adalah Full Circle Fund (FCF). Dimulai tahun 1988,
FCF menawarkan pada perempuan berpendapatan rendah akses ke modal investasi
sebesar AS$300 sampai AS$5.000 jika mereka setuju bergabung dalam sebuah
kelompok beranggotakan 5 orang dan mampu mengajukan proposal bisnis yang baik.
Peringkat kredit atau akses terhadap agunan yang dimiliki calon peminjam tidak
diperhitungkan selama proses persetujuan pinjaman mereka.
Connie Evans, direktur eksekutif WSEP, dan Susan Matteucci, lulusan anyar MIT,
baru kenal dengan bisnis kredit mikro, tetapi sangat ingin mempelajarinya.
Sebelum peluncuran FCF, Connie dan Susan berkunjung dan tinggal di desa-desa
Grameen, menghabiskan waktu panjang dengan staf lapangan dan manajer wilayah
kami. Ketika kembali ke Chicago, mereka mengikuti persis buku pegangan Grameen.
FCF berjalan, tetapi masih menimbulkan rasa frustrasi. Melalui FCF, saya
saksikan langsung bagaimana UU Kesejahteraan di AS menciptakan disinsentif
untuk bekerja bagi penerima tunjangan kesejahteraan. Para penerima tunjangan
ini menjadi seperti terbelenggu tidak hanya oleh kemiskinan tetapi oleh
pihak-pihak yang ingin membantu mereka; jika memperoleh penghasilan 1 dolar
saja, mereka harus segera melaporkannya ke dinas sosial dan penghasilan itu
dikurangkan dari tunjangan kesejahteraan mereka bulan berikutnya. Penerima
tunjangan kesejahteraan tidak diperbolehkan meminjam uang dari sumber-sumber
lembaga lain. Bahkan, di bawah UU yang berlaku di Illinois saat itu,
program-program kredit mikro tidak bisa menyentuh sama sekali para penerima
tunjangan kesejahteraan. WSEP harus bernegosiasi dengan dinas sosial untuk
memperoleh dispensasi khusus. Saya dibawa ke dinas sosial negara bagian untuk
memberi kesaksian bahwa kredit bisa membantu masyarakat terbebas dari
tunjangan kesejahteraan dan mereka harus mempertimbangkan para penerima
tunjangan yang menjadi anggota FCF untuk mendapat pengecualian UU selama tiga
tahun masa percobaan. Setelah negosiasi panjang, negara bagian Illinois
menyetujui pengecualian setahun. Sesudah itu, pengecualian ini diperbaharui
setiap tahun. Kini, berkat keberhasilan FCF, UU Illinois telah diamandemen guna
mengizinkan penerima tunjangan kesejahteraan menerima kredit.
Mengabaikan semua nasehat konvensional, FCF menempuh langkah berani. Mereka
yang skeptis berpendapat bahwa gagasan pengelompokan lima perempuan tidak akan
berjalan karena orang Amerika terlalu independen “dari sananya”. Namun toh
sistem ke lompok ini berjalan, bahkan di lingkungan paling keras dan kumuh di
dalam kota Chicago. Guna mendorong calon peminjam membentuk kelompok, FCF
menyelenggarakan “pesta” reguler untuk membantu mengakrabkan orang-orang.
Saya diundang menjumpai para peminjam, mengunjungi rumah mereka, dan bergabung
dengan mereka ketika FCF merayakan keberhasilannya. Di wajah kaum miskin
Illinois, saya melihat kegembiraan yang sama yang pernah saya lihat di mata
ibu-ibu desa Tangail. Saya mendengar ekspresi penemuan diri yang sama, aspirasi
yang sama, dan kehangatan yang sama dalam pembicaraan mereka. Tentunya, warga
Amerika di perkotaan ini tidak beternak ayam atau menumbuk gabah, tetapi mereka
tahu apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh penghasilan. Mereka percaya
dengan keterampilannya dan saya terkesan oleh kreativitas mereka. Seorang
peminjam menggunakan kreditnya untuk membeli bahan-bahan kue, memanggangnya,
dan menjual kue rasa kopi. Seorang peminjam lain — yang terkenal atas
dongengannya — memproduksi rekaman kaset dongengnya dan menjualnya di toko
tetangganya. Dua peminjam lain merancang dan menjual pakaian di toko yang
disewa bersama.
_______
Ketika Ford Foundation memerlukan beberapa bankir independen
untuk menilai proposal dana penjaminan saya,
Ron dan Mary diminta ke Bangladesh mengevaluasi Grameen Bank.
Sejak awal mereka menyukai apa yang kami kerjakan
dan berharap mengerjakan hal yang sama
di pemukiman kulit hitam Chicago.
_______
Para penerima tunjangan ini menjadi seperti terbelenggu
tidak hanya oleh kemiskinan tetapi oleh pihak-pihak yang ingin
membantu mereka;
Penerima tunjangan kesejahteraan tidak diperbolehkan meminjam uang
dari sumber-sumber lembaga lain. Bahkan, di bawah UU yang berlaku di Illinois
saat itu, program-program kredit mikro tidak bisa menyentuh sama sekali para
penerima tunjangan kesejahteraan.
_______
“Kaum miskin,” ujar saya, “sangat kreatif.”
Mereka tahu cara mendapatkan nafkah hidup
dan cara mengubah kehidupannya.
Yang mereka butuhkan adalah kesempatan.
Kredit memberikan kesempatan itu.
_______
Guna mendorong calon peminjam membentuk kelompok,
FCF menyelenggarakan “pesta” reguler untuk membantu
mengakrabkan orang-orang.
_______
Tentunya, warga Amerika di perkotaan ini tidak beternak ayam
atau menumbuk gabah,
tetapi mereka tahu apa yang bisa dilakukan
untuk memperoleh penghasilan.
_______
[bersambung]
* * * * *
“Organisasi hanya bisa berubah
jika orang-orang di dalamnya dengan sepenuh hati menyadari
bahwa perubahan memang harus terjadi.”
[Sir Harvey Jones – Pemimpin Stasiun Televisi]
* * * * *
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3