Refleksi: Beberapa waktu silam di Ambon Megawati Soekarnoputri berpidato dengan 
menyatakan bahwa yang golput itu bukan warga negara Indonesia (WNI). Apakah itu 
suatu ancaman terhadap Maluku, hanya Allah saja yang mengetahui. Tetapi  
rupanya Jawa Timur juga  bermaksud untuk tidak menjadi WNI, sesuai kriteria 
yang diucapkan.

Dapat dimengerti daerah-daerah mau berGolput, karena  mereka tidak melihat 
adanya  arti untuk perubahan mendasar  terhadap kehidupan, korupsi merajalela,  
yang mencalonkan diri untuk dipilih menjadi  petinggi yang bernama wakil-wakil 
rakyat adalah mereka itu-itu juga yang berkuasa pada masa Orba dan sudah 
diketahui  sampai dimana kemampuan mereka. Mantan petinggi TNI pun ramai-ramai 
mencalonkan diri, tanpa meminta maaf kalau seandainya pernah mereka melakukan 
pelanggaran HAM dalam menegakkan ketidakadilan di masyarakat pada masa lalu. 

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/21/00572174/warga.jawa.timur.diminta.tidak.golput.dalam.pilkada

Hak Pilih
Warga Jawa Timur Diminta Tidak Golput dalam Pilkada
Senin, 21 Juli 2008 | 00:57 WIB 

Surabaya, Kompas - Warga Jawa Timur diharapkan menggunakan hak pilihnya dalam 
Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Jatim pada 23 Juli 2008. Menjadi golongan 
putih atau go

Hak Pilih
Warga Jawa Timur Diminta Tidak Golput dalam Pilkada
Senin, 21 Juli 2008 | 00:57 WIB 
Surabaya, Kompas - Warga Jawa Timur diharapkan menggunakan hak pilihnya dalam 
Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Jatim pada 23 Juli 2008. Menjadi golongan 
putih atau golput, sengaja tidak menggunakan hak pilihnya, atau mencoblos semua 
gambar peserta pilkada, adalah tindakan mubazir dan tidak mensyukuri salah satu 
nikmat demokrasi, yaitu dapat memilih kepala daerah secara langsung.

Demikian Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim KH Mutawakkil 
Alallah pada istigasah kubro di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu (20/7). Acara 
yang ditujukan untuk kelancaran Pilkada Jatim ini dihadiri sejumlah kiai 
berpengaruh di Jatim, seperti KH Abdullah Faqih dari Pondok Pesantren Langitan, 
Tuban, Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, dan KH Khotib Umar dari 
Jember.

Mutawakkil mengakui, ada warga yang skeptis terhadap calon yang bertarung dalam 
Pilkada Jatim karena mereka menilai siapa pun yang menang tidak bisa mengubah 
kehidupan rakyat. Pemikiran itu harus diubah karena membahayakan kelangsungan 
demokrasi di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi juga meminta warga NU Jatim 
mewaspadai pihak-pihak yang menyuruh golput. Ia juga berharap perhitungan suara 
dilakukan dengan jujur, dari tempat pemungutan suara hingga provinsi.

"Biasanya, kompetitor mendatangi pemilih di kantong suara lawannya untuk 
meminta mereka menjadi golput. Jadi, golput di Pilkada Jabar dan Jateng tidak 
semata-mata karena masalah teknis, tetapi juga adanya upaya politis," kata 
Hasyim.

Untuk mengantisipasi hal itu, ia meminta pengurus NU mengerahkan warganya 
memberikan informasi terkait pilkada secara benar. Misalnya, di malam hari 
selama masa tenang bisa dilakukan lailatul ijtima, suatu perkumpulan yang 
ditujukan selain untuk menghubungkan masyarakat, juga untuk berdoa menolak 
berbagai bahaya.

Ketua Umum PW Muhammadiyah Jatim Syafiq Mughni mengimbau warga menggunakan hak 
pilih sesuai hati nurani. Imbauan itu disampaikan lewat surat edaran yang 
dikirimkan kepada pengurus cabang dan ranting Muhammadiyah seluruh Jatim.

Tak perlu berlebihan

Secara terpisah, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Arief Budiman, 
mengatakan, besaran golput yang diperkirakan lebih dari 30 persen dari 29,061 
juta pemilih terdaftar tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan pilkada. 
Alasan tidak dipakainya hak pilih bermacam-macam.

Sosiolog dari Universitas Airlangga Daniel Sparringa menuturkan, fenomena 
golput tidak perlu ditanggapi dengan berlebihan karena kelompok pemilih yang 
secara sadar memilih golput bukan berarti apatis terhadap politik. Sebaliknya, 
mereka umumnya justru punya perhatian dan partisipasi yang lebih meski dengan 
cara yang lain, seperti berunjuk rasa atau menulis di media massa. Ini karena 
mereka umumnya dari kelompok yang kritis.

Mereka yang memilih golput secara sadar juga sulit dipengaruhi karena sikap itu 
didasari pada pemahaman pemilu yang tak banyak manfaatnya. Untuk mengubah sikap 
mereka dapat dilakukan dengan mengefektifkan demokrasi. (INA/VIN/IDRlput, 
sengaja tidak menggunakan hak pilihnya, atau mencoblos semua gambar peserta 
pilkada, adalah tindakan mubazir dan tidak mensyukuri salah satu nikmat 
demokrasi, yaitu dapat memilih kepala daerah secara langsung.

Demikian Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim KH Mutawakkil 
Alallah pada istigasah kubro di Masjid Al Akbar, Surabaya, Minggu (20/7). Acara 
yang ditujukan untuk kelancaran Pilkada Jatim ini dihadiri sejumlah kiai 
berpengaruh di Jatim, seperti KH Abdullah Faqih dari Pondok Pesantren Langitan, 
Tuban, Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, dan KH Khotib Umar dari 
Jember.

Mutawakkil mengakui, ada warga yang skeptis terhadap calon yang bertarung dalam 
Pilkada Jatim karena mereka menilai siapa pun yang menang tidak bisa mengubah 
kehidupan rakyat. Pemikiran itu harus diubah karena membahayakan kelangsungan 
demokrasi di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi juga meminta warga NU Jatim 
mewaspadai pihak-pihak yang menyuruh golput. Ia juga berharap perhitungan suara 
dilakukan dengan jujur, dari tempat pemungutan suara hingga provinsi.

"Biasanya, kompetitor mendatangi pemilih di kantong suara lawannya untuk 
meminta mereka menjadi golput. Jadi, golput di Pilkada Jabar dan Jateng tidak 
semata-mata karena masalah teknis, tetapi juga adanya upaya politis," kata 
Hasyim.

Untuk mengantisipasi hal itu, ia meminta pengurus NU mengerahkan warganya 
memberikan informasi terkait pilkada secara benar. Misalnya, di malam hari 
selama masa tenang bisa dilakukan lailatul ijtima, suatu perkumpulan yang 
ditujukan selain untuk menghubungkan masyarakat, juga untuk berdoa menolak 
berbagai bahaya.

Ketua Umum PW Muhammadiyah Jatim Syafiq Mughni mengimbau warga menggunakan hak 
pilih sesuai hati nurani. Imbauan itu disampaikan lewat surat edaran yang 
dikirimkan kepada pengurus cabang dan ranting Muhammadiyah seluruh Jatim.

Tak perlu berlebihan

Secara terpisah, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Arief Budiman, 
mengatakan, besaran golput yang diperkirakan lebih dari 30 persen dari 29,061 
juta pemilih terdaftar tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan pilkada. 
Alasan tidak dipakainya hak pilih bermacam-macam.

Sosiolog dari Universitas Airlangga Daniel Sparringa menuturkan, fenomena 
golput tidak perlu ditanggapi dengan berlebihan karena kelompok pemilih yang 
secara sadar memilih golput bukan berarti apatis terhadap politik. Sebaliknya, 
mereka umumnya justru punya perhatian dan partisipasi yang lebih meski dengan 
cara yang lain, seperti berunjuk rasa atau menulis di media massa. Ini karena 
mereka umumnya dari kelompok yang kritis.

Mereka yang memilih golput secara sadar juga sulit dipengaruhi karena sikap itu 
didasari pada pemahaman pemilu yang tak banyak manfaatnya. Untuk mengubah sikap 
mereka dapat dilakukan dengan mengefektifkan demokrasi. (INA/VIN/IDR

Kirim email ke