Jawa Pos
 Selasa, 22 Juli 2008 ] 

Pecah Bila Bahas Pemimpin 

JAKARTA - Keinginan beberapa pihak menghidupkan poros Islam partai-partai 
politik peserta Pemilu 2009 sulit diwujudkan. Selain pengalaman sejarah, 
persepsi mayoritas masyarakat yang cenderung sekuler dalam berpolitik menjadi 
faktor penghambat.

"Saat mulai bicara kepemimpinan, parpol-parpol Islam selalu pecah," ujar Wakil 
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Hamdan Zoelva saat menjadi pembicara 
diskusi Membangun Poros Islam dalam Pemilu 2009 di Jakarta kemarin (21/7). 
Menurut dia, saat mengusung figur pemimpin, kekuatan parpol-parpol berbasis 
Islam selalu tidak bisa disatukan untuk mengusung satu calon saja.

Tapi, kata Hamdan, mengusung kepentingan strategis tertentu terkait umat tidak 
sesulit mengusung calon pemimpin. "Kondisi seperti ini berlangsung cukup lama, 
sejak pemilu pertama diadakan di Indonesia," katanya. 

Menurut dia, poros Islam masih cukup penting untuk dibangun. Dengan demikian, 
kekuatan sejumlah parpol Islam akan menjadi besar. "Tidak seperti saat ini yang 
masih kecil karena tersebar di mana-mana," ujarnya.

Dia pun mencontohkan kasus di Bali. Hanya satu kursi DPRD yang diraih parpol 
Islam. Sebab, suara umat muslim yang juga cukup besar telah tersebar ke 
sejumlah partai sejenis. "Kalau ada poros Islam, nanti setiap parpol bisa 
dibagi, dapil mana yang lebih diutamakan," harapnya. 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Mustasyar Partai Kebangkitan Nasional 
Ulama (PKNU) KH Ma'ruf Amin menganggap kesulitan membentuk poros Islam di 
Indonesia disebabkan persepsi masyarakat yang masih salah. Kampanye 'Islam Yes, 
Politik No' yang disampaikan cendekiawan muslim Nurcholis Madjid dianggap 
menjadi biang keladinya. "Pernyataan itu racun, harus kita lawan dengan 
membangun persepsi baru di publik," tegasnya, yang juga menjadi salah seorang 
pembicara. 

Selain kedua tokoh politik partai berbasis Islam tersebut, diskusi itu 
menghadirkan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto. Ketua 
Umum DPP PPP Suryadharma Ali berhalangan hadir.

Menurut Ismail, pembentukan poros Islam sudah menjadi kebutuhan bangsa ini. 
Sebab, kata dia, Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim masih kesulitan 
menegakkan syariat Islam. "Termasuk, sulit mencari kepemimpinan yang amanah," 
tegasnya

Kirim email ke