http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/30/21354934/aksi.solidaritas.pendeta.untuk.umat.parmalim


Aksi Solidaritas Pendeta untuk Umat Parmalim 
/
Artikel Terkait: 
  a.. Umat Parmalim Kesulitan Identitas 
Rabu, 30 Juli 2008 | 21:35 WIB



MEDAN, RABU - Pendeta dari berbagai gereja di Indonesia, Rabu (30/7) di Medan 
melakukan aksi solidaritas untuk umat Parmalim, kepercayaan lokal masyarakat 
Batak. Aksi solidaritas ini digelar terkait dengan sulitnya umat Parmalim di 
Medan membangun rumah peribadatannya sendiri. 

Rencana membangun ruma parsaktian, tempat ibadat umat Parmalim, di Jalan Air 
Bersih Ujung Medan terhenti sejak Juli 2005. Penghentian ini karena masyarakat 
setempat menolak di lingkungan mereka dibangun ruma parsaktian. Para pendeta 
dari berbagai gereja di Indonesia yang tergabung dalam Forum Kebebasan Umat 
Beragama, sore tadi sempat melihat langsung lokasi pembangunan ruma parsaktian 
yang terhenti.

Menurut Pendeta Eric Barus dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), sebenarnya 
gereja-gereja di Indonesia juga tengah memperjuangkan kebebasan beragama. 
Menurut Eric, Forum Kebebasan Umat Beragama tengah berharap agar pemerintah 
melalui Rancangan Kita Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) tidak hanya mengakui 
enam agama resmi. "RKUHP ini kami harapkan juga menampung kepercayaan lokal 
seperti Parmalim. Kami sengaja datang untuk melihat secara dekat, mengapa umat 
Parmalim kesulitan mendirikan rumah peribadatannya sendiri," ujar Eric.

Pendeta Karmen Simorangkir dari Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) 
mengatakan, pihaknya sangat berharap, umat Parmalim juga bisa merasakan 
kebebasan beribadah seperti juga umat agama lain. "Ada harapan besar kami, agar 
umat Parmalim bisa beribadah seperti layaknya kami melakukan ibadah," katanya.

Pendeta Suste Simehe dari Gereja Kristen Injili Papua yang hadir dalam aksi 
solidaritas juga mengatakan harapan yang sama. Menurut dia, kepercayaan lokal 
seperti Parmalim tumbuh di banyak tempat di Indonesia seperti Papua.

Selain pendeta, solidaritas juga datang dari Forum Perduli Parmalim. Menurut 
salah seorang anggotanya, Prof DR Bungaran Antonius Simanjuntak, sudah 
selayaknya Parmalim sebagai kepercayaan lokal yang asli Indonesia mendapat 
penghargaan yang layak oleh negara. Sementara agama resmi yang diakui 
pemerintah justru datang dari luar (negeri), katanya.

Ketua Komunitas Parmalim Cabang Medan Risann Simanjuntak menuturkan, 
pembangunan ruma parsaktian yang sempat terhenti sejak tahun 2005 sebenarnya 
bisa kembali dilanjutkan. Menurut Risann, penolakan warga setempat terjadi 
karena ada perselisihan antara salah seorang warga dengan salah seorang 
pengikut Parmalim. Warga sebenarnya tak membenci seluruh umat Parmalim. A"da 
masalah pertikaian pribadi salah seorang warga dengan salah seorang di antara 
kami, sehingga bangunan peribadatan Parmalim yang justru jadi korban," katanya.

Risann mengatakan, dengan adanya aksi solidaritas dari pendeta berbagai gereja 
ini, umat Parmalim di Medan berharap bisa dilakukan mediasi dengan warga 
setempat, sehingga pembangunan ruma parsaktian bisa dilanjutkan. Ruma 
parsaktian milik umat Parmalim Medan sebenarnya sudah berdiri dengan rangka 
tanpa atap. Akibat terhenti pembangunannya, rangka atap ruma parsaktian 
terancam lapuk, sementara semak belukar tumbuh di mana-mana di sekitar calon 
rumah peribadatan tersebut.

Saat aksi solidaritas berlangsung, salah seorang warga sempat menyatakan 
keberatan. Menurut dia, warga setempat jangan dituding sebagai penyebab 
terhentinya pembangunan ruma parsaktian. "Kami tak pernah diundang untuk 
berbicara," kata dia.

Kirim email ke