http://www.tribun-timur.com/view.php?id=89836&jenis=Front


Senin, 28-07-2008 

Aktivis HMI Bentrok dengan Polisi-Buruh


Paksa Naik Kapal untuk Ikut Kongres di Palembang; Khawatir Disandera, KM 
Lembelu Berangkat Lebih Cepat; Puluhan Penumpang Ketinggalan di Pelabuhan 
Makassar; KM Kerinci Takut Merapat 
 
Makassar, Tribun - Ratusan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terlibat 
bentrok polisi dan buruh di Pelabuhan Makassar, Minggu (27/7). 
Bentrokan dipicu saat mahasiswa yang akan mengikuti Kongres HMI di Palembang, 
Sumatera Selatan memaksa masuk ke terminal penumpang untuk naik ke Kapal Motor 
(KM) Lembelu milik PT Pelni meski tidak memegang tiket. Aktivis HMI memaksa 
naik ke kapal dengan memegang surat rekomendasi dari Dinas Perhubungan (Dishub) 
Sulawesi Selatan (Sulsel) yang ditujukan kepada PT Pelni Cabang Makassar. 
 
Menyusul bentrokan tersebut, kaca di dekat pintu masuk pecah terkena hantaman 
benda keras. Tiga mahasiswa juga diamankan, termasuk Sekretaris HMI Cabang 
Makassar, Amirullah. Usai bentrok mahasiswa tetap bertahan di depan terminal 
penumpang. Kepala Kepolisian Resor Kota (Polresta) KPPP AKBP Sri Rejeki dan 
wakilnya, Kompol Iroth Laurens Recky datang menenangkan mahasiswa sambil 
mengontak pihak Pelni. Sri mengatakan, pihaknya hanya memintai keterangan tiga 
mahasiswa dan tidak menahan mereka. Pihak Pelni belum berhasil dikonfirmasi. 
Kepala Cabang PT Pelni Makassar, Nasrun Gaus, tidak menjawab panggilan telepon 
maupun pesan pendek (SMS) dari Tribun terkait insiden tersebut. 


Merasa Dikibuli 
Ratusan aktivis HMI dari Sulawesi Selatan Sulbar, dan Sultra yang tergabung 
dalam HMI Badko Intim sudah berada di depan teriminal penumpang sejak pukul 
10.00 wita. 
Namun, karena tidak memiliki tiket, mereka tidak diperkenankan masuk ke area 
terminal, apalagi memasuki dermaga. Hanya sekitar delapan perwakilan mahasiswa 
yang diizinkan masuk untuk bernegosiasi dengan nahkoda kapal. Sedangkan ratusan 
lainnya tertahan di pintu masuk bagian selatan. Untuk memudahkan akses 
penumpang transit dan calon penumpang dari Makassar, peugas KPLP kemudian 
membuka pintu di sisi utara. Di saat sebagian rekan mereka melakukan negosiasi, 
KM Lambelu tiba-tiba melepas tali dan langsung berlayar menuju ke Surabaya 
sekitar pukul 11.30 atau lebih cepat setengah jam dari jadwal sebelumnya pukul 
12.00. Melihat kapal sudah lepas tambang, mahasiswa yang tertahan emosi dan 
merangsek masuk. Mereka merasa dikibuli karena dijanjikan kapal baru lepas 
jangkar sekitar pukul 12.30.  Saat itulah kaca di dekat pintu masuk berserakan. 
Sementara pengantar dan sebagian petugas kocar-kacir. Namun upaya mahasiswa 
masuk ke dermaga berhasil dihalau polisi dan puluhan buruh bagasi yang mengejar 
mahasiswa hingga ke dekat musala. 

Pengurus Badko HMI Intim, Basdo, mengatakan, insiden tersebut pecah akibat 
kesalahpahaman dan kesalahan komunikasi antara mahasiswa dan pihak pelabuhan. 
Menurutnya, aktivis HMI merasa dibohongi oleh PT Pelni dan pihak kapal yang 
telah berjanji memberangkatkan rombongan. "Dalam negosiasi dengan Ketua Cabang 
HMI Makassar kapten berjanji memberangkatkan teman-teman dengan memberikan 
diskon berdasarkan surat dari Dishub Sulsel," katanya didampingi Ketua HMI 
Cabang Makassar Saharuddin dan Ketua HMI Cabang Makassar Timur Amin. 

Surat Dishub 
Surat yang dijadikan pegangan aktivis HMI ditandatangani Kepala Bagian Tata 
Usaha Dishub Sulsel Ilyas Iskandar. 
Dalam surat ini, dishub bermohon kepada pimpinan PT Pelni Cabang Makassar untuk 
memberikan dispensasi kepada mahasiswa untuk berangkat dengan kapal milik 
Pelni. "Kapten menyambut positif dan meminta perwakilan kami untuk turun 
mengkoordinir dan mengatur teman- teman. Tapi setelah turun, tiba-tiba kapal 
berangkat lebih cepat dari jadwal. Ini yang memicu kekesalan teman- teman yang 
merasa dibohongi," tambahnya. Informasi yang dihimpun Tribun, kemarin, 
menyebutkan, petugas kapal meminta mahasiswa membayar tarif normal Rp 383 ribu 
(akassar-Jakarta) dengan total Rp 70 juta untuk memberangkatkan seluruh anggota 
rombongan. Setelah negosiasi alot, mahasiswa diminta membayar senilai Rp 40 
juta. Namun, ditolak perwakilan mahasiswa yang hanya mengantongi uang sekitar 
Rp 20 juta. 

Kapolwiltabes 
Beberapa saat setelah insiden, Kapolwiltabes Makassar Kombes Pol Burhanuddin 
Andi tiba di lokasi. Burhanuddin bersama Sri dan perwakilan PT Pelindo, 
melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah perwakilan mahasiswa. Namun, upaya 
mahasiswa yang menuntut agar KM Lambelu yang sudah terlanjur berlayar untuk 
kembali juga sia-sia, termasuk desakan agar mereka diangkut menggunakan kapal 
KM Kerinci yang akan bertolak ke Parepare-Balikpapan. 
Pertemuan yang berlangsung di ruang terminal VIP ini berlangsung selama dua 
jam. Setelah negosiasi alot, mahasiswa disarankan untuk memilih KM Kirana yang 
dijadwalkan berangkat hari ini. "Tapi tetap harus dibicarakan ulang dengan 
pimpinan perusahaan tersebut. Kami tidak memiliki otoritas untuk 
memberangkatkan mereka," kata salah satu petugas KKLP yang enggan disebutkan 
namanya. Sedangkan Burhanuddin menegaskan, dia tidak memiliki kewenangan untuk 
memberangkatkan mahasiswa. "Kami di sini hanya bertugas mengamankan situasi. 
Tidak tahu kapan mereka akan berangkat, kapal sudah berangkat dan tidak bisa 
kembali lagi. Tidak ada seorang pun yang berhak memaksakan kehendak apalagi 
melanggar aturan," tegasnya.  Puluhan mahasiswa sempat bertahan di pelataran 
Pelabuhan Makassar. Sementara buruh pelabuhan yang sempat bentrok dengan 
mahasiswa juga berkumpul. Beberapa di antara mereka yang masih emosional 
berteriak-teriak menantang mahasiswa 
Puluhan aparat Polresta KPPP berjaga-jaga di sekitar teminal untuk 
mengantisipasi ketegangan yang mungkin muncul lagi. Mahasiswa mengancam akan 
menggelar demo di kantor Pelni Cabang Makassar di Jl Jenderal Sudirman, Senin 
(27/7) hari ini. 

Takut Merapat 
Sementara itu KM Kerinci yang transit di Pelabuhan Makassar mengurungkan 
niatnya merapat. Kapal ini sudah berada di sekitar Pulau Laelae sejak pukul 
10.00 wita namun tak juga sandar hingga pukul 16.00.  Nakhoda kapal dikabarkan 
tak mau mengambil risiko "disandera" oleh mahasiswa yang masih ngotot berangkat 
ke Jakarta. 
KM Kerinci transit di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Parepare dan 
Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Tribun Timur, Selalu yang Pertama 

Ada peristiwa menarik? 
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233 
email: [EMAIL PROTECTED] 

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun 
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266. 
Telepon: 0411 (8115555) (jid/axa/jum)

Kirim email ke