http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=344214

Kamis, 29 Mei 2008,



Dua Tahun Menyembur, 629 Hektare Terendam


Dua tahun sudah lumpur panas masih menyembur di Kecamatan Porong, Kabupaten 
Sidoarjo. Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) mencatat luas wilayah 
terdampak telah mencapai 629 hektare. Lumpur merambah sedikitnya ke 11 desa dan 
kelurahan di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin. 

Sebagian desa dan kelurahan telah masuk peta terdampak sesuai dengan Peraturan 
Presiden No 14 Tahun 2007. Desa dan kelurahan itu, antara lain, Kelurahan 
Siring dan Jatirejo serta Desa Renokenongo di Kecamatan Porong. Desa 
Kedungbendo, sebagian Gempolsari, dan Ketapang di Kecamatan Tanggulangin. Desa 
dan kelurahan tersebut sedang menjalani proses pelunasan ganti rugi yang 
dimulai kemarin (28/5). 

Desa-desa lain, seperti Besuki, Pejarakan, dan Kedungcangkring, Kecamatan 
Jabon, telah dinyatakan sebagai kawasan terdampak. Namun, prosesnya masih 
menunggu kepastian pemerintah pusat yang akan menggunakan dana APBN sebagai 
ganti rugi. Sebagian desa lain, seperti Glagah Arum dan Kelurahan Mindi, 
Kecamatan Porong, masih menunggu nasib. 

Menurut data Pemkab Sidoarjo, korban akibat lumpur panas sekitar 10.194 KK atau 
38.252 jiwa. Itu belum termasuk korban baru dari Desa Besuki, Kecamatan Jabon, 
yang mencapai ratusan KK dan ribuan jiwa. 

Di kawasan tempat tinggal mereka, telah terbangun kolam untuk penampungan 
lumpur. Yang terbesar, yakni kolam utama. Kolam lumpur itu kini mencapai 
sekitar 520 hektare. Debit lumpur yang keluar dari pusat semburan sekitar 100 
ribu meter kubik per hari. Untuk membendung itu, BPLS telah membangun tanggul 
sepanjang sekitar 14 kilometer. 

Kepala BPLS Sunarso mengatakan terus berupaya agar kawasan terdampak lumpur 
tidak semakin luas. Selain menguatkan tanggul, badan bentukan presiden pada 12 
April 2007 itu terus mengoptimalkan pembuangan ke Kali Porong (arah selatan) 
melalu saluran pelimpah (spillway). 

Namun, pembuangan lumpur ke Kali Porong tersebut masih terkendala faktor 
teknis. Misalnya, tinggi permukaan tanah di utara pusat semburan lebih rendah 
daripada arah menuju Kali Porong. BPLS harus menggunakan sedikitnya 20 pompa 
pembuang lumpur. "Itu yang membuat kami (BPLS) kesulitan," ujarnya.

Di sisi lain, BPLS masih disibukkan munculnya bubble-bubble baru. Tercatat, 
sejak semburan lumpur dua tahun lalu, ada 89 bubble baru yang pernah muncul. 
Bubble-bubble itu bisa tiba-tiba muncul dan kemudian berhenti. Namun, kandungan 
gas di dalamnya berpotensi menimbulkan bahaya. Contohnya, bubble baru di Siring 
Barat dan Jatirejo, yang sempat terbakar dan menimbulkan korban luka-luka. BPLS 
meminimalkan bahaya itu dengan membangun dinding dan memasang pipa untuk 
memisahkan kandungan gas. 

Selain tugas-tugas operasional itu, kata Sunarso, BPLS menangani dampak sosial 
semburan lumpur. "Salah satu di antaranya, kami terus membantu penyelesaian 
pembayaran ganti rugi," ujarnya.

Tugas lain adalah penutupan semburan. Itu pekerjaan tersulit, yang hingga kini 
caranya belum ditemukan. Sunarso mempersilakan siapa pun yang mampu membantu 
untuk turun tangan. Namun, diharapkan bantuan itu disertai jaminan berhasil. 
"Kalau tidak ada jaminan, hanya akan menguras uang negara," jelas Sunarso. 

Tugas berikutnya ialah relokasi infrastruktur atas jalan tol Porong, jalan 
arteri Jl Raya Porong, dan rel kereta api (KA). Prosesnya masih memasuki tahap 
sosialisasi dan rencana pembayaran ganti rugi. (riq


Kirim email ke