===============================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDNC]
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat,
Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia."
===============================================
[Economic, Democration and Nationalism Indonesia Quotient]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
DALAM RANGKA :
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
DAN MENYAMBUT HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63
94. Mengambil Alih Aset Tambak Pemerintah
Ada sekitar selusin hadirin dalam rapat di kantor Sekjen. Setengahnya pejabat
tinggi Departemen Perikanan. Setengahnya lagi dari universitas dan lembaga
riset. Rapat berlangsung selama dua jam. Sekjen tidak mengucapkan sepatah kata
pun mengenai proyek Nimgachi.
Saat rapat hampir ditutup, Sekjen bersandar dan berbisik ke kuping saya,
“Bisakah Anda tinggal sebentar agar kita bisa minum teh dan berdiskusi berdua
saja?”
Ketika semua orang sudah pulang, teh dan makanan kecil dihidangkan untuk kami.
Sambil tersenyum pada saya, Sekjen berkata, “Anda lihat kan? Saya tepati janji.
Saya tidak menyinggung masalah Nimgachi selama rapat. Nah sekarang setelah
rapat selesai, saya bebas membahasnya, ya kan?”
Dia ceritakan sejarah proyek itu, korupsi stafnya, dan rencananya menyerahkan
tambak-tambak itu pada Grameen. Katanya, dia ingin menyerahkan pada kami proyek
ini sesuai persyaratan kami. Dia kemudian memberi setumpuk laporan untuk
membantu saya membuat keputusan.
Setiba kembali di kantor, saya putuskan untuk mengambil proyek itu. Inilah
Sekjen luar biasa yang hatinya benar-benar hanya untuk kemaslahatan negeri ini.
Ketika pemerintah berniat membantu kaum miskin, biasanya kebijakan mereka
adalah bagi-bagi: bagi-bagi gratis uang, tanah, atau aset-aset lainnya. Tetapi
sepanjang jalur dari pemerintah ke kaum miskin, pembagian gratis ini jarang
mencapai kaum miskin karena orang-orang yang lebih berkuasa antre memanfaatkan
sistem distribusi yang ada. Kami ingin membalik kecenderungan ini dan di
sinilah peluangnya. Bagaimana mungkin saya tidak membantu Sekjen? Bagaimana
mungkin kami salah dengan mengambil alih kepemilikan dari pemerintah?
Ikan adalah sumber protein penting bagi orang Bengali dan perikanan adalah
kegiatan penting untuk mendapat penghasilan. Di sinilah peluang mentransfer
aset-aset penting kepada kaum miskin tunakisma. Tambak-tambak yang belum digali
bisa digabungkan dengan kemampuan kaum miskin lokal yang belum termanfaatkan
untuk menciptakan langkah besar guna memperbaiki kualitas hidupnya. Jika kami
berhasjl dalam usaha ini, kami tidak hanya membantu masyarak lokal untuk
memperoleh pangan, sandang, dan papannya sendiri tetapi juga membantu mereka
menjadi pemain utama dalam perekonomian. Kami putuskan menerima tantangan ini.
Saya tulis sebuah memo panjang kepada Sekjen yang menyetujui pengambilalih
proyek, tetapi hanya dengan syarat tertentu yang ketat. Saya ingin menyewanya
selama 99 tahun dengan biaya sewa tahunan yang rendah. Dan saya ingin
pemerintah menarik semua staf secepatnya setelah pengambilalih dilakukan. Saya
juga katakan kami meminta daftar rinci apa saja yang dihibahkan pada kami.
Saya kirim memonya dan Sekjen menelepon saya keesokan harinya menyatakan setuju
dengan seluruh syarat saya, tetapi ketentuan pemerjntah mengijinkan kami
menyewanya hanya selama 25 tahun. Saya jawab bahwa itu dapat kami terima.
Sekjen kedengarannya lega. Aneh. Sepanjang pengalaman saya dengan Grameen, saya
hanya bertemu dengan “Tuan Tidak” di kantor pemerintahan. Adanya seorang
birokrat papan atas yang benar-benar mencari-cari kami dan setuju dengan
persyaratan kami merupakan pengalaman yang sama sekali baru.
Sekjen bertindak kilat untuk menyelesaikan semuanya. Proposalnya diajukan ke
Presiden dan Departemen Pertanahan untuk persetujuan. Benar-benar sebuah
prestasi birokratis, sekalipun keseluruhannya makan waktu dua bulan.
Bulan Januari 1986, kami tandatangani kesepakatan dengan pemerintah mengenam
pengalihan proyek Nimgachi ke Grameen Bank. Proyek ini terdiri atas 783 tambak
beragam ukuran dan bentuk, dengan total bentangan air seluas 675 hektar di
empat subdistrik di Pabna dan Serajgani. Tahun 1988 pemerintah menyewakan pada
kami 808 tambak tambahan.
[ bersambung ]
* * * * *
“Dalam bisnis, kompetisi akan memukul bila Anda lari,
dan menendang bila Anda hanya berdiam diri.”
[William Knudsen, Eksekutif Ford Motor Company]
* * * * *
Best Regards,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3