Kawan2, ni ada tulisan dari mailis tetangga. Smoga bermanfaat.
Salam
M. Farid
----- Original Message -----
Subject: Fwd: [Money Magnet] Mungkin sudah waktunya ^_^
Date: Mon, 18 Aug 2008 11:20:17
From: PCM Adipala <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
---------- Forwarded message ----------
From: Rudi Muliyono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 18 Aug 2008 04:00:13 +0700
Subject: [Money Magnet] Mungkin sudah waktunya ^_^
To: [EMAIL PROTECTED]
Bagi kita untuk berubah ^_^
Saya tertegun saat membaca email Pak Mendra Ketut yang penuh dengan
kebijaksanaan bagi saya. Sejujurnya, saya baru saja menampar diri saya
sendiri hehehe... SERIUS! Kalau di sini ada yang suka baca komik-komik
Jepang. Ada kalanya tokoh di komik-komik itu menampar kedua pipi
dengan kedua telapak tangan sekaligus supaya sadar dan keluar dari
kemelut pikirannya sendiri.
Milis ini semakin hari semakin ramai. Isinya makin campur aduk. Ada
yang menulis untuk bertanya, menulis untuk menjawab, menulis untuk
berbagi. Ada yang menulis dengan penuh rasa syukur, menulis dengan
penuh kecemasan, menulis penuh kebijaksanaan, menulis unutk curhat dan
lain-lainnya.
Dalam tiap sesi terapi, saya biasanya memberi contoh pada klien saya
bagaimana agar klien bisa mengijinkan dirinya untuk tetap meniatkan
memejamkan mata dengan rapat. Sehingga, selama dia tidak memberi ijin
matanya terbuka meski pun saya suruh buka, tetap tidak bisa (istilah
teknisnya adalah eye catalepsy). Simpel? Harusnya sih iya.
Kenyataannya, saya menemukan BANYAK klien yang sangat sulit untuk bisa
demikian. Ada yang alisnya naiknya satu-satu dulu (saya kasih
contohnya meski kedua alis saya tarik kuat-kuat berbarengan, kelopak
mata tetap terpejam rapat), ada yang terus bingung memikirkan
instruksinya. Ada yang mempertanyakan mengapa saya menggunakan kata
MENIATKAN, bukankah meniatkan itu artinya berusaha, kan hipnosis itu
rileksasi, kok berusaha? Ada yang bingung kenapa dia harus begitu?
Ah....
Pada suatu waktu, entah kenapa saya bisa tiba-tiba berujar begini
kepada klien saya, "Anda kan datang ke sini tujuannya mau berubah, mau
sembuh. Punya tujuan besar dalam hidup. Nah, kalau tujuan kecil saja
dulu (mengikuti instruksi sehingga bisa mengalami eye catalepsy dengan
niat dan ijin dari diri sendiri) anda tidak bisa-bisa mencapainya
karena terlalu banyak memikirkan yang sesungguhnya gak perlu. Anda mau
berapa lama baru bisa mencapai tujuan hidup Anda?
" SPLASH!!!
Saya melihat ekspresi klien saya seolah tersiram air dingin tepat di
wajah. Berikutnya, dia langsung memutuskan untuk berhenti "disesatkan"
pikiran sadarnya yang terus mencari alasan dan pembenaran. Langsung
begitu cepat masuk pada kondisi deep trance dan saya sampai kaget
karena saking dalamnya, kok sampai bisa spontaneus past live
regression. Benarlah kata Pak Adi, pasti akan ada aja klien yang
mengalami hal ini meskipun dia percaya atau enggak. Jadi, saya
teruskan terapinya sesuai prosedur yang sudah diajarkan. Soal ini gak
diceritain di sini deh ya :-)
Saya sangat setuju dengan tulisan Pak Mendra di bawah. Meski dibilang
cuma iseng karena perut kenyang, tulisan yang ditulis dengan perut
kenyang ternyata rasa enak karena kenyangnya benar-benar nendang ya
hahaha... Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk berhenti
MEMPERTANYAKAN dan mulai MELAKUKAN. Karena, pemahaman sesungguhnya
hanya baru bisa didapat dari melakukan apa yang telah kita pelajari.
Saya mengerti bahwa banyak yang telah mengalami kegagalan-kegagalan
dalam hidup ini sehingga sangat wajarlah ada rasa cemas dan takut saat
ingin melakukan sesuatu yang baru. Ini saya "baca" ada pada semua
orang termasuk saya dan banyak senior di milis ini. Bahkan saya
"membaca" adanya kecemasan dari tulisan-tulisan yang bagus yang kadang
akhirnya digunakan sebagai justifikasi. Saya pernah menulis soal
BREADTALK di milis ini. Tentang resep dan hasilnya. Mungkin sudah
waktunya kita berhenti conference untuk terus mempertanyakan resep.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti saling mengadu teori dan terus
sibuk memuaskan hasrat/nafsu pikiran sadar kita yang akan selalu cemas
selama merasa tidak ada "pegangan". TIDAK ADA yang salah dengan semua
teori, pendapat dan opini ini. Hanyalah semata pilihan pribadi saja.
Itulah mengapa saya menampar wajah saya sendiri. Saya entah kenapa
tiba-tiba sadar bahwa saya sudah terjebak pada permainan ini karena
kebodohan saya sendiri. Bukankah tugas saya adalah saling mengasihi
dengan sesama ^_^ dan bukannya malah sibuk ikut-ikutan berdebat dan
akhirnya malah memicu sikap defensif orang lain? Bukankan cinta kasih
inilah yang membuat saya memilih menjadi seorang terapis? Dan saat
saya menampar wajah saya, saya sudah memutuskan untuk hanya memikirkan
bagaimana caranya agar saya selalu bisa jadi saluran kasih dan
kebaikan bagi orang lain dan semua makhluk di alam semesta ini.
Menjadi alat Tuhan. Itulah yang ingin saya lakukan dalam perjalanan
saya mencapai tujuan hidup saya. Karena teman saya juga menyadarkan
saya, ada banyak orang yang menaruh harapannnya pada saya. Dan kalau
memang dengan demikian saya bisa membantu mereka berkembang menjadi
lebih baik dan bahagia. Dengan rela hati saya akan menjaga dan
mengajari diri saya agar selalu bisa membagi kasih dan belajar lebih
bijaksana dalam menyikapi orang lain.
Berikanlah dirimu sebuah momen kedamaian,
dan engkau akan mengerti
betapa bodohnya terburu-buru.
Belajarlah untuk hening,
dan engkau akan mengetahui
dirimu telah terlalu banyak bicara.
Jadilah bajik,
dan engkau akan menyadari
dirimu telah terlalu keras menghakimi orang lain.
Pepatah cina kuno - dari buku Membuka Pintu Hati - Ajahn Brahm
Dan melaui email ini, saya mohon maaf kepada semua orang jika saya
dengan sengaja atau tanpa sengaja pernah dirasa menghakimi dengan
tulisan-tulisan saya meskipun saya tidak bermaksud demikian. Bantulah
saya untuk belajar, bagaimana caranya untuk mengasihi. Terima kasih
:-)
Vinsens Gerardo Rudi "Momo" Muliyono, C.Ht.
Client Centered Hypnotherapist
Kuingin selalu tenang, hatiku damai, jiwaku tentram. Menyatu ke dalam
kebijaksanaan, kesucian batin serta pikiran. Amin!
----- Original Message -----
From: Mendra Ketut
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, August 17, 2008 8:18 PM
Subject: Balasan: Re: Balasan: Re: [Money Magnet] Gathering ke-3
Money Magneter$ Club + Anugrah/musibah
paka Daday
Ada perbedaan yang sangat mendasar orang zaman dulu
dan sekarang dalam berpasarah diri.
Orang zaman dulu begitu dia mendapat sesuatu wejangan
dia langsung bertindak pasrah sekarang juga demikian
namun jalannya lebih panjang yaitu perlu dijelaskan
secara nalar dan bisa diterima oleh akal pikiran.
Setelah berkutat sekian lama mencari dan mendapatkan
landasan teorinya baru bisa diterima. Memang demikian
zaman sekarng ini.
Orang dulu begitu dikatakan jangan menyisakan makanan
yang dimakan nanti ayam hitamnya mati (orang Bali)
langsung dimakan sampai habis, tidak peduli benar atau
tidak. Demikian juga kata orang tua jangan menduduki
bantal nanti pantatnya bisul, langsung anak2 tidak
menduduki bantal. kalau sekarang anak2 (berdebat)
malah bertanya ayam hitam kita yang mana? 'kan kita
tidak pelihara ayam????
Jangan2 buah simalakama itu adalah "Ilmu Pengetahuan"
yang semakin maju.
Ini hanya untuk meramaikan suasana, iseng doang, atau
mungkin karena perut kenyang habis makan pecel dimalam
hari, sehingga ngelantur.
Mendra
Recent Activity
a.. 10New Members
Visit Your Group
Yahoo! Avatars
Express Yourself
Get animated.
Change your style
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/