Dear Mba Hafsah,

Sebenarnya perkawinan itu sama aja dengan "jual beli" ... benar ga .. CMIIW ... 
gini .. begituĀ  sang lelaki melamar dan terikat dengan perkawinan ... maka 
seumur hidupnya dia mesti membiayai ,,,, sang istri ..... klo sang istri 
berjuang mempertaruhkan nyawa waktu melahirkan ... bukankah sang suami juga 
berjuang mempertaruhkan nyawa .. di sepanjang hidupnya .. contohnya ... klo dia 
kerja sebagai pilot, tukang bangunan ( yg mesti manjat tinggi sekali ) ... 
pokoknya prodesi yang menantang bahaya ..... pulang kerumah ..setor gaji ke 
istri .. dompet diperiksa sang istri ... suami bener2 ga punya privasi lagi 
...... pulang terlambat ditanya2 ...... dicurigai .... hem ..... sebenarnya aku 
pengen terusin .. tp segini aja dulu ya ... mknya aku sekalu bilang dlm 
hugungan suami istri ga ada yg istimewa ...... harus equal ... mitra .....  
Siapa bilang wanita makhluk lemah ... waaaahhh slah besaaaar dah .....

rgds
ivonne


--- On Mon, 8/18/08, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: CiKEAS> Hubungan Sex Harus Dihargai, Disucikan, Dimuliakan, dan 
Dilindungi
To: [email protected]
Date: Monday, August 18, 2008, 6:40 PM










    
            Hubungan Sex Harus Dihargai, Disucikan, Dimuliakan, dan Dilindungi



Hubungan sex harus dihargai, harus disucikan, harus dimuliakan, dan

harus dilindungi.  Siapapun yang berhubungan sex baik manusia atau

binatang, baik menikah maupun tidak menikah, tetap semuanya merupakan

hubungan sex yang harus kita hargai.



Kenapa harus dihargai???

Hubungan sex secara alamiah merupakan bukti fisik tentang praktek

kasih sayang.



Namun hubungan sex yang landasannya jual beli, atau paksaan, atau

ancaman, atau penipuan, maka hubungan sex seperti ini bukan saja tidak

alamiah melainkan terkutuk, harus dikutuk, itulah sebabnya pelacuran

dan poligami masuk dalam kategori ini yang dilarang dan pelakunya

ditangkap, diadili dan dihukum.



Tanpa cinta kasih, tanpa kasih sayang, maka tidak akan bisa hubungan

sex itu berlangsung.



Ajaran Islam dan Kristen tidak menggunakan hubungan sex ini sebagai

realitas kasih sayang pelakunya, mereka mentabukan hubungan sex ini

dengan mengexploitasi hubungan sex ini untuk kepentingan propaganda

agama mereka.  Se-olah2 hubungan sex hanya diperkenankan atau hanya

diizinkan kalo menikah, dan istilah "Menikah" dalam masing2 agama

tidak lain maksudnya meminta legitimasi agama mereka.



Padahal, cinta kasih tidak perlu legitimasi dari pendeta atau imam,

cukup dari pernyataan masing2 yang kemudian bisa dibuktikan dari

hubungan sex.  Melalui hubungan sex, anda bisa menilai apakah pasangan

anda itu betul2 menyayangi anda atau sekedar menumpahkan nafsu

syahwatnya yang kotor saja.



Oleh karena itu cara2 agama yang mengeksploitasi hubungan sex ini

dengan memberikan legitimasi seperti itu sebenarnya sangatlah

terkutuk, namun karena saya seorang penegak HAM, saya tetap bisa

menerimanya sebagai tradisi bukan sebagai pemaksaan.



Namun atas alasan saya diatas itulah, saya menyatakan hubungan sex

tanpa menikah di gereja atau di mesjid, tetap syah.  Namun pelacuran

tidak bisa diampuni seperti halnya Yesus mengampuni pelacur dan

melarang untuk menghukum pelacur dengan alasan bahwa meskipun dia

berbuat salah, kita juga pernah berbuat salah, oleh karena kita tidak

mau dihukum maka kita tak boleh menghukum pelacur.  Jelas cara2 ini

merupakan penipuan.  Karena pelacur itu bukan berzinah, melainkan

memperdagangkan perzinahan.  Berzinah bagi saya oke tidak salah, namun

memperdagangkannya sudah beda sama sekali, namun Yesus rupanya tidak

mengerti, dan tidak memahami.



Namun urusan Yesus bukanlah urusan saya, mau ngerti atau tidak saya

tidak peduli, namun yang salah tetap harus dihukum tak bisa diampuni.

 Sayapun kalo salah harus dihukum dan sayapun mendidik murid2 saya

untuk berani menerima hukuman untuk kesalahan mereka, dan saya

mendidik setiap orang untuk jangan se-kali2 menebus kesalahan anda

dengan uang sogok ataupun dengan keimanan Yesus.  Yesus tak perlu

mengampuni mereka yang salah karena hukuman merupakan tanggung jawab,

sedangkan Yesus yang biasa mengampuni mendidik umatnya lari dari

tanggung jawab dan memindahkan tanggung jawab itu kepada angan2 adanya

yesus.



Ny. Muslim binti Muskitawati.




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke