----- Original Message -----
Subject: Fwd: [M_S] Merenungkan Daulat Manusia
Date: Wed, 20 Aug 2008 1:07:54
From: Ade Tisna <[EMAIL PROTECTED]>
To:  <[EMAIL PROTECTED]>

---------- Forwarded message ----------
From: Shofhi Amhar <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 19 Aug 2008 02:35:26 -0700
Subject: [M_S] Merenungkan Daulat Manusia
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

Merenungkan Daulat Manusia
August 18, 2008 by amhari

Rendra

Dalam diri setiap manusia terkandung Kehendak Manusia dan Kehendak
Alam. Beberapa bagian tubuh kita bisa kita kuasai gerak-geriknya
menurut kehendak kita. Misalnya, kaki, tangan, lidah, selaput suara,
mulut, bola mata, dan sebagainya. Tetapi beberapa bagian yang lain
tidak bisa kita kuasai gerak-geriknya. Misalnya, jantung, usus, hati,
dan sebagainya. Bagian-bagian yang tidak bisa dikuasai oleh kehendak
manusia bisa dibudayakan; bagain yang tidak bisa dikuasai oleh manusia
berjalan menurut alam. Jadi, dalam diri setiap manusia terkandung
unsur alam dan unsur kebudayaan.

Di sepanjang sejarah, di seluruh dunia, persoalan yang slalu muncul
adalah bagaimana orang menyelaraskan Kehendak Manusia dan Kehendak
Alam dalam hidupnya. Atau dengan kata lain, manusia selalu terlibat di
dalam masalah keselarasan antara Daulat Alam dan Daulat Manusia.

Pada permulaan tafar peradabannya, manusia merasa sangat jerih kepada
Daulat Alam. Ia harus lahir, harus tua, dan akhirnya harus mati. Tidak
bisa diupayakan untuk dicegah. Guntur bertalu-talu, ombak laut
bergelora setinggi bukit, gunung meletus, topan badai mengganas. Semua
tidak bisa dicegah. Orang merasa tidak berdaya terhadap Daulat Alam.
Semakin orang tunduk dan menghormati Daulat Alam, semakin terjamin
keamanan hidupnya.. Pada akhirnya para pemuja Daulat Alam ini
menciptakan tatanan masyaraka sesuai dengan keadaan alam. Di dalam
alam tidak ada hak. Yng ada hanyalah kepastian-kepastian. Bahwa
beringin itu beringin. Perdu itu perdu. Sayuran itu sayuran. Dan
benalu itu benalu. Sayurang jangan bermimpi menjadi beringin. Demikian
pula gajah itu gajah. Macan itu macan. Kijang itu kijang. Tikus itu
tikus. Jangan tikus bermimpi bisa menjadi macan dan harus tetap
berhati-hati dan tahu diri tehadap kucing. Akhirnya, alam pun sudah
menetapkan: ada orang perkasa, ada orang lemah. Ada kakak, ada adik.
Ada jagoan, ada orang biasa. Ada penguasa, ada rakyat yang dikuasai.
Ada lelaki, ada perempuan. Ada ndoro, ada abdi. Dan semua orang
masing-masing harus tahu kedudukannya. Tidak ada hak, yang ada hanya
unggah-ungguh, tata cara menurut hirarki, yang harus dipatuhi agar
tidak merusak harmoni hidup yang kerto raharjo, selamat sejahtera.
Yang adik harus tahu kedudukannya terhadap kakak. Begitu juga wong
cilik harus tahu kedudukannya terhadap ndoro-ndoro, sebab untuk
selama-lamanya wong cilik itu tetap wong cilik, dan ndoro itu ndoro.
Di dalam tatanan masyarakat seperti itu, Daulat Alam menjelma menjadi
Daulat Tuanku. Kepala negara dalam masyarakat seperti itu mempunyai
kedaulatan yang sama dengan kedaulatan penguasa alam semesta raya. Ya,
karena ia memang dianggap sebagai wakil Tuhan di atas dunia.. Sabdanya
sakti. Harus dituruti. Asprasinya menjadi hukum dan aturan negeri.
Segala sesuatu yang berada di wilayah kekuasaannya adalah miliknya.
L'etat, c'est moi. Negara itu saya! Begitu kata Raja Louis XIV. Ratu
Kang Murbeng Jagat, Raja yang Memiliki Dunia! Begitu Amangkurat I
melukiskan dirinya.

Di dalam masyarakat seperti itu, patuh kepada unggah-ungguh adalah
suci, bagaikan kewajiban dalam agama. Kenaikan derajat orang dalam
lapisan sosial terjadi bukan karena hak prestasi tetapi karena
"wahyu", yaitu rahmat Tuhan yang sangat alami sifatnya. Kepatuhan
adalah kunci keutamaan. Sebagaimana orang pasrah kepada Tuhan,
begitulah orang pasrah kepada kepala negara dengan segenap daulat
sabdanya. Daulat Manusia bersujud kepada Daulat Alam yang
memanifestasikan dirinya sebagai Daulat Tuanku. Apabila rakyat atau
abdi Raja hendak berkata sesuatu, ia harus membuka ucapannya dengan
kalimat "Ampun beribu ampun" dan selanjutnya ia harus menyembah "Duli
Kaki Tuanku", Debu Kaki Tuanku.

Di dalam dunia pertanian sekalipun orang sedikit sekali melakukan
intervensi terhadap jalannya alam. Orang tidak membuat bendungan,
tetapi sekadar irigasi dan waduk, atau saluran (kanal). Dan di halaman
rumahnya, orang tidak membuat taman melainkan membuat pekarangan.
Taman itu punya rancangan, sedangkan pekarangan tidak punya rancangan,
segalanya tumbuh begitu saja. Paling jauh di dalam pekarangan orang
hanya berlaku "merapikan", sedangkan aturan dasarnya paling sedikit
sekali.

Di dalam mengelola lingkungan alam, orang-orang dari budaya Daulat
Alam secara alamiah sangat bersifat ekosentris. Dan di dalam hidup
sehari-harinya menyelaraskan diri dengan irama matahari. Mereka
bekerja, melakukan kegiatan dan makan-minum selagi matahari muncul di
atas jagat raya. Dan mereka pun tidur, bagaikan sayur mayur waktu
matahari sudah tenggelam.

Tetapi Daulat Manusia itu bukan omong kosong. Daulat Manusia adalah
unsur di dalam diri manusia yang tidak kalah kuatnya dengan Daulat
Alam. Daulat Manusia adalah bagian dari unsur kewajaran dan keutuhan
di dalam pribadi manusia. Dan karena manusia itu bukan batu, melainkan
makhluk yang mempunyai daya hidup, maka lambat atau cepat ia akan
selalu berusaha mencapai kewajaran dan keutuhan dirinya. Apalagi ia
mempunyai nalar, budi, dan bahasa. Hal-hal tersebut menyebabkan ia
berbeda dari hewan yang tunduk sama sekali kepada Daulat Alam, dan ia
menganggap alam dan segenap rahasianya sebagai suatu tantangan untuk
ditundukkan. Nalar dan budinya selalu mendorongnya mempertanyakan
kembali rumusan-rumusan pemikiran orang-orang yang terdahulu, dan juga
batas-batas dari pengetahuannya.

Akhirnya ia pun mempertanyakan kedudukan Daulat Manusianya dalam
berhadapan dengan kekuasaan Daulat Tuanku. Haknya atas tanah yang ia
garap, dan benda-benda yang ia peroleh berkat usaha dan jerih
payahnya. Haknya dalam berpendapat dan dalam keterlibatannya dalam
tata masyarakat. Begitu dan seterusnya sebagaimana dilukiskan dengan
baik oleh Thomas Paine dalam bukunya Rights of Man.

Begitulah, melewati pergolakan-pergolakan politik di dunia barat,
terutama melewati Revolusi Perancis, kesadaran akan Daulat Manusia
melahirkan kesadaran akan Daulat Rakyat sebagai lawan dari Daulat
Tuanku.

Ketika Rights of Man ditulis, bangsa kita masih hidup di bawah Daulat
Alam dan Daulat Tuanku. Kesadaran akan Daulat Manusia hanya hadir di
alam meditasi. Begitu keluar dari alam meditasi dan terjun ke
masyarakat kembali, orang tertawan dalam mesin Daulat Alam yang tanpa
perikemanusiaan.

Kiprah Dualat Manusia dan Daulat Rakyat yang melahirkan tatanana
masyarakat baru, yang lebih militan mobilitas horisontal dan
vertikalnya, pun lebih memberi kesempatan yang luas kepada bangsa
untuk berorganisasi dan berkoordinasi dan juga melahirkan jaminan
kepastian hidup bersama yang lebih bisa diperhitungkan dan diandalkan
karena adanya kepastian hukum yang mandiri dari nafsu kekuasaan
pemerintah. Maka pada akhirnya kiprah itu mampu menopang perkembangan
filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi dan
perkembangan industri.

Kepastian hukum, sebagai hasil dari kiprah Daulat Rakyat, merangsang
inisiatif dan daya usaha dalam masyarakat, sehingga masyarakat menjadi
kaya akan sumber daya manusia. Kini, dalam menghadapi berbagai masalah
di dunia, temasuk masalah dengan lingkungan alam, orang bersikap
antroposentris. Kepentingan Daulat manusia menjadi pusat orientasi.

Daulat Manusia mendesakkan diri dengan dahsyat. Hampir tidak mengenal
batas. Alam ditundukkan dan diolah sejadi-jadinya. Molekul dibelah
menjadi atom, menjadi nuklir, sehingga melahirkan tenaga yang sukar
dikendalikan, dan limbah yang mencemarkan dan merusak alam.

Daulat Manusia melahirkan paham liberalisme yang menuntut hak asasi
manusia yang luas sekali dalam segala bidang. Globalisasi gerakan
hippies adalah puncak dari eksperimen kebebasan hak-hak manusia. Free
love. Free sex. Free expression.

Begitu tak membatasi hakl-hak seksnya, maka segenap saripati nafsu
birahi yang terpendam diungkapkan: hasrat homoseksualisme,
lesbianisme, biseksualisme. Seperti orang membelah-belah molekul
menjadi atom dan nuklir, orang membelah-belah laku asmara sehingga
menjadi seks murni yang lepas dari keutuhan kemanusiaan, lepas dari
proses pergaulan yang mendalam antara pribadi dan pribadi. Dalam
kepsatan peputaran seks semacam itu, aurat yang satu sama saja dengan
aurat yang lain. Orgasme bukan lagi klimas dari pergaulan
antarpribadi, tetapi sekadar batas dari kemampuan seks. Dimensi seks
menjadi miskin dan karenanya lama kelamaan menjadi hambar dan tidak
menarik lagi. Banyak anak muda dalam tingkat seperti ini menjadi
impoten.

Free love, percintaan tanpa ikatan, menyebabkan kaburnya nukleus
keluarga.. Anak-anak yang lahir dalam keadaan seperti itu menjadi yatim
piatu sepanjang hidupnya, seperti daun yang melayang-layang dalam
angin, kehilangan sentuhan keunikan dari keterlibatan pergaulan yang
berdasarkan ikatan darah, yang berarti ikatan alami. Padahal, ia
terjerumus dalam situasi hidup seperti itu bukan karena pilihannya,
tetapi karena pilihan ibu dan bapanya. Ia terjerembab dalam situasi
murung yang ditimpakan kepadanya.

Kebebasan berekspresi didorong sejauh mungkin. Sampai-sampai
pornografi harus diizinkan. Mendirikan Gereja Setan boleh. Dan
mendirikan organisasi fasisme juga boleh. Orang berekspresi atau
berpikir tidak lagi dengan pertimbangan kepentingan kesejahteraan.
Iman tidak lagi penting.

Tanpa iman kepada Tuhan, tanpa pertimbangan akan pengadilan di
akhirat, menyebabkan orang bertingkah polah tanpa rambu-rambu.
Akibatnya, tabrakan-tabrakan dalam lalu lintas kehidupan bersama
terjadi secara konyol. Tabrakan-tabrakan yang hanya berarti kecelakaan
dalam kehidupan. Sebagai akibat dari lalu lintas kacau karena tanpa
rambu-rambu.

Industri berjalan dengan kedahsyatan mesin yang tanpa perasaan.
Menghasilkan produk benda-benda konsumen yang melimpah dan menguasai
kehidupan manusia. Konsumen memberi produk bukan karena nilai
keguanaannya, tetapi karena ia menginginkan berndera-bendera derajat,
atau kedudukan di dalam masyarakat. Pakaian, makana, perabotan rumah
tangga, kendaraan adalah bendera-bendera derajat yang sudah lepas dari
keguanaan aslinya. Semuanya itu adalah produk dari mesin industri yang
tidak boleh berhenti sebab time is money. Dan produk-produk itu
dikemas dan ditawarkan kepada daftar impian yang ada di kepala para
calon konsumen.

Pesawat-pesawat jet sudah dibikin dan terus menerus selalu dibikin.
Lalu diciptakanlah yang tadinya tidak ada. Diciptakanlah tujuan-tujuan
untuk penerbangan. Turisme dikembangakan. Masa libur para pekerjat
harus bisa direbut oleh maskapai penerbangan. Bali harus diringkas,
dikemas dalam kertas kado, sehingga bisa disuguhkan kepada para
pelancong. Upacara di pura, kesenian-kesenian ritual, dikemas secara
necis dan praktis sehingga menjadi objek pariwisata. Lalu terjadilah
erosi kebudayaan ataupun polusi kebudayaan. Kehidupan spiritual
mengalami pendangkalan.

Pada akhirnya, Daulat Industri muncul sebagai kedaulatan baru yang
menantang Daulat Manusia.

Ternyata antroposentirmse maupun ekosentrisme bisa saling membahayakan
keutuhan kemanusiaan. Untuk menciptakan keseimbangan antara Daulat
Manusia dan Daulat Alam, kita harus berorientasi kepada Kehendak Sang
Pencipta Manusia dan Sang Pencipta Alam. Karena hanya Sang maha
Pencipta sendirilah yang paling tahu syari'at hidup yang tepat yang
bisa mendamaikan keseimbangan kepentingan antara Daulat Manusia dan
Daulat Alam dalam diri umat manusia.

(Merupakan Kata Pengantar WS Rendra untuk buku "Daulat Manusia" yang
adalah terjemahan dari The Rights of Man karya Thomas Paine.
Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 2000)

http://amhari.wordpress.com
-- 
+++
'aththir Allahumma qabra Muhammadin al-Karim bi'arfin syadziyyin min
shalatin wa taslim
---
Wala' untuk Islam
Amhar



      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke