===============================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [ WDNCenter ]
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat,
Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia."
===============================================
[Economic, Democration and Nationalism Indonesia Quotient]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
DALAM RANGKA :
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA
DAN MENYAMBUT HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63
99. GrameenPhone dan Grameen Telecom
Khalid tidak ingin berhenti hanya di tekstil. Ia bervisi Grameen menjadi jauh
lebih luas. Suatu hari di tahun 1994, dia mengenalkan saya pada Iqbal Quadir,
seorang muda Amerika turunan Bangladesh lulusan Oberlin College. Kata Khalid,
“Iqbal punya ide. Dia bilang kita bisa meminta izin mengoperasikan perusahaan
telepon seluler (ponsel) di Bangladesh. Kita bisa membawa ponsel ke desa-desa.”
Kedengarannya sebuah ide yang menggugah. Setahap demi setahap kami kumpulkan
informasi mengenai ponsel. Tahun 1996, pemerintah Bangladesh mengeluarkan 3
izin operator seluler, termasuk satu untuk kami. Kami menandatangani
kesepakatan perizinan pada 11 November 1996, dan saya umumkan pada media bahwa
kami akan meluncurkan layanan kami pada 26 Maret 1997, Hari Kemerdekaan
Bangladesh. Kami memberi 2 Perusahaan independen: satu untuk mencari laba
(GrameeP yang lainnya nirlaba (Grameen Telecom).
Izin diperoleh untuk Grameepyhone. Perusahaan ini membangun jaringan seluler
nasional di seluruh perkotaan Bangladesh, Grameen Telecom kemudian akan membeli
airtime** borongan dari GrameeP dan menjualnya secara eceran melalui para
peminjam Grameen di desa-desa. Seorang peminjam Grameen di setiap desa dari
seluruh 68.000 desa akan menjadi “ibu-ibu ponsel” (telephone lady) di desanya.
Dia akan menjual layanan telepon pada penduduk desa dengan mengoperasikan apa
yang kami sebut “ponsel desa berbayar.” Sehingga desa akan terhubung dengan
dunia melalui seorang perempuan miskin dengan akses ke sistem komunikasi paling
modern yang tersedia.
Sebagaimana direncanakan, Grameenphone meluncurkan layanannya pada 26 Maret
1997. Upacara pembukaan dilakukan di kantor Perdana Menteri. Menggunakan sebuah
telepon Grameen, PM Shejlth Hasjna menelepon Perdana Menteri Norwegia yang
sedang menikmati liburan di wilayah utara Norwegia. Perdana Menteri bertanya,
“Bagaiman cuaca di sana?”
“Sangat dingin di sini. Suhunya 36°C di bawah nol,” jawab si PM Norwegia.
“Bagaiman Anda bisa menikmati udara seperti itu? Lebih baik Anda datang ke sini
untuk liburan mendatang Cuaca kami cerah bersuhu 32°C di Dhaka.”
* Grameenphone adalah sebuah konsorsium yang dibentuk oleh 4 mitra: Telenor,
Norwegia (51%), Grameen Telecom (35%), Marubeni, Jepang (9,5%) dan Gonophone
Development Company (4,5%).
** Catatan penerjemah: satuan waktu untuk menghitung lama penggunaan gelombang
frekuensi ponsel.
Sesudah sambungan internasional ini, sebuah telepon dari dalam negeri datang
untuk Perdana Menteri. Itu adalah seorang peminjam Grameen, Laily Begum, dari
desa Patira di utara Dhaka, yang menelepon Perdana Menteri dari ponselnya.
Laily Begum adalah ibu ponsel Grameen yang pertama, dan sejak itu dia menerima
penghasilan besar dengan menyewakan teleponnya pada orang lain.
Tahun 1997 Bangladesh memiliki rasio satuan sambungan telepon (SST) terendah di
dunia: satu SST per 300 orang. Di sebuah negara berpenduduk 120 juta jiwa, kami
hanya memiliki 400.000 SST, dan semuanya ini terpusat di perkotaan, terutama
Dhaka. Hampir seperempat dari seluruh SST yang ada rusak pada waktu-waktu
tertentu. Dengan kelangkaan macam itu, telepon yang nyala menjadi simbol
kekuatan dan kekuasaan di Bangladesh. Masyarakat menanti bertahun-tahun untuk
memperoleh saluran telepon. Semakin banyak telepon seseorang di mejanya, maka
orang itu di anggap semakin penting. Sebuah ponsel adalah indikator kekayaan
yang lebih tinggi. GrameenPhone kini memiliki 850.000 pelanggan ponsel di
Bangladesh, dimana 24.000-nya adalah ponsel desa yang dioperasikan ibu-ibu
ponsel. Meski jumlah ponsel desa relatif kecil dibanding total keseluruhan,
pemakaian airtime ponsel desa mencapai 17 persen dari total pemakaian airtime
GrameenPhone. Kami kini menawarkan tarif seluler
termurah di dunia, AS$9 sen per menit untuk airtime selama jam sibuk dan
AS$6,7 sen per menit di luar jam sibuk.
[ bersambung ]
* * * * *
“Orang yang paling beruntung di dunia adalah mereka yang telah mengembangkan
rasa syukur yang hampir konstan
dalam situasi apa pun.”
[E. Nightingale, Motivator dan Penulis terkenal]
* * * * *
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3