==============================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat, 
           Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia."  
=============================================== 
[Economic, Democration and Nationalism Indonesia Quotient] 
BANK KAUM MISKIN 
Oleh : Muhammad Yunus 
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006 
Bersama Alan Jolis 
Belajar dari : 
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam 
Memerangi Kemiskinan 
DALAM RANGKA : 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL    
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA   
DAN MENRAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63    
  
100. Grameen Shakti dan Grameen Cybernet – Demiselem 
Satu tantangan bagi program ponsel kami adalah kelangkaan listrik. Banyak 
desa-desa di Bangladesh tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional. Untuk 
mengenalkan ponsel ke desa-desa itu, kami membawa masuk tenaga surya. Kami 
membentuk Grameen Shakti (“Energi”), sebuah perusahaan nirlaba yang ditujukan 
untuk mengembangkan jenis-jenis energi terbarukan. Grameen Shakti baru-baru ini 
menguji coba sistem tenaga matahari rumahan (photovoltaic), stasiun aid, turbin 
angin, dan gas (semacam turbin uap). Gas mengubah limbah kayu atau pertanian 
menjadi gas, yang digunakan untuk menghasilkan listrik. 
Jaringan ponsel kami juga menggiring kami bereksperimen dengan internet, 
Grameen Cybernet, sebuah perusahaan penyedia layanan internet, berharap 
menciptakan pekerjaan internasional bagi anak-anak peminjam Grameen. Anak-anak 
laki-laki dan perempuan akan bisa melayani perusahaan-perusahaan di seluruh 
dunia dalam berbagai kapasitasnya dari rumah atau ruang-ruang kantor komunitas 
di desanya sendiri. Dengan membawa fasilitas internet ke wilayah pedesaan 
terpencil, banyak perusahaan padat karya bisa berlokasi di kawasan pedesaan 
lain yang terisolir. Perusahaan ini meliputi jasa-jasa entri data, bisnis 
manajemen data, jasa operator penjawab telepon global, jasa pengetikan, jasa 
transkripsi, jasa kesekretariatan jasa akunting, dsb. 
Akhirnya, sebuah perusahaan penyedia layanan Internet nirlaba, Grameen 
Communications, menyediakan internet bagi lembaga-lembaga riset dan pendidikan 
di Bangladesh. Banyak dari lembaga-lembaga ini tidak memiliki saluran telepon 
andal atau kecukupan anggaran untuk fasilitas internet. Grameen Communications 
menawari mereka paket-paket yang membuat mereka bisa mengatasi masalah-masalah 
ini 
Bergabung dalam permainan akhir abad ke-20 membuat para peminjam Grameen bisa 
memetik manfaat dari inovasi terkini tanpa membuang waktu atau uang pada 
teknologi sebelumnya yang kurang efisien dan lebih mahal. Jika digunakan dengan 
tepat, teknologi bisa turut memecahkan hambatan-hambatan struktural, jarak dan 
perbedaan budaya. Teknologi bisa mengantarkan perubahan sosial secara cepat 
dengan menghubungkan perempuan desa terisolir ke teman-teman dan saudara 
jauhnya. 
Sinisme dan knitik terhadap proyek ambisius kami menyatakan bahwa teknologi 
tinggi akan sia-sia untuk mentalitas zaman batu yang dimiliki kebanyakan 
peminjam kami. Kenyataannya temuan kami jauh berbeda. Tanpa pemanfaatan ponsel, 
penduduk desa membuang banyak waktu, uang, dan tenaga agar pesan-pesannya 
sampai ke anggota-anggota keluarganya yang tersebar. Sebelumnya, dalam situasi 
darurat, jika mereka perlu memberitahu abangnya atau anak gadisnya yang tinggal 
di Dhaka untuk pulang kampung, mereka harus mengirim seseorang sebagai kurir. 
Kurir itu harus menunda pekerjaan atau pelajarannya dan pergi menumpang bis, 
becak, atau kereta api untuk mencapai tempat tujuan. Diukur dari siksaan ini 
biaya yang timbul karena tidak memiliki akses telepon jelas lebih mahal. 
Kritik lain yang kami dengar ada bahwa kaum miskin desa tidak memerlukan 
kemewahan sebuah telepon. Tetapi bagi ibu-ibu ponsel kami, telepon adalah 
sesuatu yang sangat riil dan praktis untuk menghasilkan uang. Di samping itu, 
telepon membantu para peminjam Grameen meningkatkan bisnis mereka dengan 
memberi lebih banyak informasi dan fleksibilitas yang lebih tinggi untuk 
berjual-beli produk. Tanpa telepon, seorang peminjam yang perlu membeli bahan 
mentah harus mengirim kunir untuk menanyakan harga dan tanggal pengiriman 
barang. ini bisa berlangsung ber minggu-minggu. Dengan ponsel ia bisa melakukan 
pencakapan kurang dari setengah jam, menempatkan pesanannya, dan segena 
meningkatkan laba usahanya. 
Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ibu-ibu ponsel Grameen akan membatasi 
dirinya hanya menyewakan telepon saja. Penkembangan teknologi dan sumber-sumber 
energi memungkinkan mereka menjadi semacam pusat komunikasi serba ada yang 
menyediakan kawan-kawan sedesanya layanan faxs, e-mail, dan ATM. Kini, kami 
bekerja sama dengan penusahaan-perusahaan teknologi tinggi di AS dan Eropa 
mengembangkan sebuah prototipe kios cyber yang akan memungkinkan para peminjam 
tetap mengikuti teknologi baru dan menyediakan jasa-jasa yang menguntungkan 
warga komunitas mereka. 

[ bersambung ] 
  
* * * * * 
“Salah satu penemuan terbesar umat manusia 
adalah bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya 
mereka sangka tidak bisa dilakukan.” 
[Henry Ford, Pendiri Ford Motor Company] 
  
* * * * * 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm 
  
Demi selembar Kapal kandas! 
”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi 
untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. 
Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, 
tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah hilang,” 
kata Yuli Astuti. 
Perempuan berusia 28 tahun ini ditemui di rumahnya, di tengah sawah di Desa 
Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, awal 
Agustus lalu. Saat itu Yuli baru kembali dari Yogyakarta yang berjarak sekitar 
150 kilometer dari Kudus. Dia mengikuti pameran batik di Yogyakarta. Tidak 
tampak kelelahan di wajahnya, dia justru begitu bersemangat setelah mengeruk 
pengalaman dari kegiatan yang diikutinya. 
Perempuan berkulit putih ini adalah salah seorang dari segelintir warga asli 
Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal. Salah satu 
motif batik lokal yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia adalah motif 
kapal kandas, berbentuk kapal terbalik. 
”Belakangan ini batik sedang tren sehingga langkah untuk memperkenalkan batik 
kudus terasa lebih mudah. Namun, suatu saat tren fashion pasti akan berubah. 
Supaya tidak kandas lagi, saya harus memperkuat batik kudus dengan penggalian 
sejarah dan pengayaan motif-motifnya. Ini yang selalu menjadi pekerjaan rumah 
saya,” kata Yuli. [Neli Triana – Kompas] 
  
Best Regards, 
  
Retno Kintoko 

  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke