==============================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDNCenter]
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat,
Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia."
===============================================
[Economic, Democration and Nationalism Indonesia Quotient]
BANK KAUM MISKIN
Oleh : Muhammad Yunus
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006
Bersama Alan Jolis
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
DALAM RANGKA :
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA
DAN MENRAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63
101. Program Asuransi Kesehatan Grameen
Orang mungkin mengira bahwa dengan semua perluasan dan modernisasi Grameen
telah mengatasi banyak masalah fundamental Bangladesh. Tidak benar. Di Grameen,
telah kami cermati bahwa sejalan dengan meningkatnya penghasilan, semakin
banyak pula yang mereka belanjakan untuk memenangi gizi buruk, penyakit,
kematian bayi dan ibu hamil, serta masalah-masalah kesehatan lain. Dengan
kondisi layanan kesehatan umum yang buruk sekali, para peminjam kami sering
mengalah pada godaan untuk menghabiskan seluruh uang yang baru diperolehnya
pada tradisional dan dokter-dokter gadungan.
Jika kami bisa membujuk para peminjam untuk memberikan uangnya bukan pada dukun
tetapi pada sebuah program kesehatan yang disponsori Grameen, kami mungkin bisa
menyediakan mereka layanan kesehatan modern dan efektif dengan jumlah uang yang
hampir sama. Proses itu telah dimulai. Kami kini mencoba menyediakan perawatan
kesehatan bagi seluruh anggota keluarga Grameen dan penduduk desa yang bukan
peminjam Grameen berbasis pembiayaan mandiri untuk menutupi ongkos (cost
recover basis). Kami minta para peminjam membayar itu tetap AS$3 per keluarga
per tahun sebagai premi program asuransi kesehatan. * Setiap kali menemui
dokter, peminjam harus membayar nominal (kurang dan AS$0,03), Layanan
laboratorium dan obat-obatan tersedia dengan harga diskon. Program Kesehatan
Grameen juga mengoperaskan klinik mata di desa-desa. Di sinilah dokter-dokter
terlatih melakukan, antara lain, operasi cangkok kornea bagi penderita katarak.
Biaya operasinya hanya 1.000 taka, kurang
dari AS$20.
*Yang bukan peminjam Grameen membayar lebih tinggi, setara AS$5 per tahun,
untuk jaminan kesehatan seluruh keluarga.
Selama tiga tahun pertama operasi, Program Kesehatan Grameen mampu menutup
sekitar 60 persen biaya penyediaan layanan-layanan kesehatan ini. Jika kami
bisa mengorganisir waralaba nasional, kami bisa mengubah layanan kesehatan
Grameen menjadi sebuah perusahaan pro-rakyat yang kuat, kompetitif, dan
berkelanjutan.
Salah satu alasan mengapa kami benar-benar peduli dengan masalah kesehatan ini
adalah bahwa masalah itu bisa menunjukkan keberhasilan kami yang paling
cemerlang sekalipun. Acara Sixty Minutes tahun 1989 yang dipandu oleh Morley
Safer menampilkan seorang peminjam dari sekitar Chittagong yang berkat pinjaman
Grameen telah terangkat dan seorang pengemis jalanan menjadi pemilik 7 ekor
sapi, sebuah lahan luas, sebuah rumah baru, sebuah kakus modern, sebuah bajaj
untuk suaminya, serta memastikan pendidikan sekolah seluruh anak-anaknya.
Morley Safer menyebutnya “gambaran kepuasan dan keberhasilan manusia.” Namun
ketika saya bertemu ibu itu lagi dan suaminya tahun 1996, saya hampir tidak
bisa mengenali mereka. Suaminya menderita penyakit perut yang tidak pernah
didiagnosa dengan layak. Untuk membayar biaya pengobatan, pasangan itu menjual
bajaj, lahan, dan sapi mereka. Dia begitu lemah dan lelah, sampai tidak percaya
diri bisa mengambil pinjaman baru. Milik mereka yang tersisa hanyalah empat
ekor ayam.
Saya ungkapkan masalah ini untuk memberi gambaran betapa rumitnya jalan yang
menghadang di depan kami. Grameen bukan hanya serangkaian kisah sukses. Ada
lubang terus-menerus di sepanjang jalan. Sebagian kemampuan kami untuk
mengentaskan kemiskinan bergantung pada kemampuan kami untuk mengakui kegagalan
dan memastikan bahwa kegagalan itu tidak akan terulang lagi.
[ bersambung ]
* * * * *
“Proses evolusi mempunyai tenaga yang sangat besar
untuk mendorong kemajuan.
Itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan visioner.”
[James C. Collin, Jerry I Porras, Dalam Buku Built to Last]
* * * * *
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
Semangat "Entrepreneurship" Ciputra
Jumat, 22 Agustus 2008
Tidak ada istilah usia lanjut atau tua bagi Ir Ciputra untuk tetap bekerja.
Pada usianya yang mencapai 77 tahun ini, Ciputra masih rajin dan sibuk bekerja.
Jadwal tugas hariannya sangat padat, seakan usia pun tidak mampu mengurangi
semangat kerja pria ini.
Bukan hanya mengepakkan sayap bisnis di sejumlah negara di Benua Asia, Amerika,
dan Afrika, tetapi pria kelahiran Parigi, Sulawesi Selatan, 24 Agustus 1931,
ini pun tetap aktif memberikan ceramah dalam berbagai seminar di beberapa
perguruan tinggi. Tema pembicaraannya memang hampir seragam, yakni tentang
semangat entrepreneurship atau kewirausahaan.
Mengembangkan semangat entrepreneurship pada semua lapisan masyarakat memang
sedang menjadi ambisi dan cita-cita besar Ciputra belakangan ini.
”Bangsa ini (Indonesia) sulit maju karena minimnya semangat entrepreneurship,”
kata Ciputra, pendiri Taman Impian Jaya Ancol ini.
Dia kemudian memberi contoh, pada tahun 2007 terdapat lebih dari 740.200 orang
lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Kondisi ini disebabkan lulusan
perguruan tinggi umumnya hanya berorientasi mencari pekerjaan, bukan
menciptakan pekerjaan.
Di sisi lain, kekayaan alam Indonesia yang sangat berlimpah tidak dikelola
secara optimal. Ini juga karena minimnya semangat entrepreneurship.
Mengutip majalah The Economist, Indonesia merupakan penghasil gas alam
kedelapan terbesar di dunia, penghasil batu bara dan emas ketujuh terbesar di
dunia, serta penghasil tembaga dan nikel nomor lima dunia. Bahkan, Indonesia
juga penghasil karet nomor dua dan minyak sawit nomor satu di dunia.
”Namun, kekayaan alam yang melimpah ini sampai sekarang masih kurang bisa
menyejahterakan rakyat karena minimnya kemampuan entrepreneurship,” kata
Ciputra dalam ceramah saat dia menerima gelar Perekayasa Utama Kehormatan dari
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta, Rabu (20/8).
Ciputra merupakan penerima penghargaan gelar Perekayasa Utama kehormatan kedua
dari BPPT. Tahun 2007, penghargaan serupa diberikan instansi tersebut kepada
mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof Dr Emil Salim.
Sejak taman kanak-kanak
Ciputra tidak hanya berkeluh-kesah soal minimnya semangat entrepreneurship. Dia
juga memberi contoh sekaligus solusi dengan mendirikan 12 sekolah dan tiga
perguruan tinggi, seperti Sekolah Ciputra, Sekolah Citra Kasih, Sekolah Citra
Berbakat, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pembangunan Jaya, serta sejumlah sekolah
lainnya di beberapa kota.
Di sekolah-sekolah ini diajarkan tentang entrepreneurship sejak siswa belajar
pada tingkat awal, bahkan sejak di taman kanak-kanak. Tentu pengajaran
entrepreneurship ini disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan usia para siswa.
Ketika siswa duduk di kelas dua sekolah dasar misalnya, mereka diajak ke
kawasan pertokoan. Lalu, siswa diberi tugas untuk mencatat semua jenis usaha
yang ada serta jenis usaha yang belum tersedia. Mereka kemudian diminta
mengajukan usulan, jenis usaha apa lagi yang layak dibuka di kawasan pertokoan
tersebut.
Usulan yang muncul dari siswa-siswa itu kemudian didiskusikan dengan
teman-teman lain dalam kelas. Dengan demikian, para siswa pun sekaligus dapat
belajar bagaimana mengambil keputusan bersama.
”Dalam kegiatan ini, para siswa dilatih mencari peluang usaha, tahapan penting
dalam entrepreneurship,” kata Antonius Tanan, Direktur Grup Ciputra,
menambahkan.
Ciputra berambisi betul untuk menciptakan entrepreneur, karena berkeyakinan
kelompok kreatif inilah yang bisa membawa bangsa ini menuju kemajuan. Suatu
bangsa akan maju jika jumlah entrepreneur-nya paling sedikit 2 persen dari
jumlah penduduk.
Singapura, misalnya, jumlah entrepreneur-nya sekitar 7,2 persen dan Amerika
Serikat 2,14 persen, sedangkan Indonesia yang berpenduduk 220 juta jiwa hanya
memiliki sekitar 400.000 pelaku usaha mandiri atau sekitar 0,18 persen
entrepreneur dari jumlah penduduknya.
Ciputra berkeyakinan, Indonesia akan maju jika sedikitnya mempunyai empat juta
orang entrepreneur.
Mengubah rongsokan
Bagi Ciputra, entrepreneurship adalah kemampuan seseorang ”mengubah kotoran dan
rongsokan menjadi emas”. Dia membuktikan sendiri keyakinannya tersebut.
Ketika membuka Taman Impian Jaya Ancol pada tahun 1967, misalnya, saat itu
kawasan Ancol merupakan daerah rawa yang kotor dan telantar. Berkat kreativitas
dan keuletannya, Ancol sekarang termasuk kawasan wisata lima besar dunia dengan
pengunjung lebih dari 13 juta orang per tahun.
Begitu pun ketika membangun kawasan perumahan lainnya di sejumlah negara,
Ciputra lebih suka memanfaatkan kawasan telantar, lalu mengubahnya menjadi
kawasan elite dan prestisius. Di Vietnam misalnya, pemerintah setempat terkejut
ketika Ciputra dapat mengubah kawasan telantar menjadi kawasan perumahan elite
kelas dunia seluas 301 hektar yang diberinya nama Ciputra Hanoi International
City.
Langkah serupa juga dilakukan Ciputra di India, Kamboja, China, Polandia,
Amerika Serikat, dan sekarang dia sedang merintis pembangunan kawasan perumahan
di Negeria seluas 1.000 hektar.
”Saya ingin memberi contoh kepada generasi yang lebih muda. Nigeria yang
dianggap negara dengan penegakan hukum yang lemah, justru menjadi tantangan
buat seorang entrepreneur,” ujar Ciputra, anak pedagang kelontong di sebuah
desa terpencil di Gorontalo itu.
Dengan semangat itu pula, dia sekarang bisa memimpin sejumlah perusahaan dengan
jumlah karyawan lebih dari 14.000 orang. ”Kalau kita bisa membangun perumahan
di Indonesia, itu berarti kita juga pasti bisa membangun perumahan di negara
lain,” ujar Ciputra penuh keyakinan.
Itulah keyakinan seorang entrepreneur.
[TRY HARIJONO dan ABUN SANDA-Kompas]
Best Regards,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3