http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=348119
Jumat, 22 Agt 2008, Jangan Menabuh Gong di Papua SURABAYA - Gubernur Daerah Itimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono X kemarin (21/8) berkunjung ke redaksi Jawa Pos. Raja Jogja itu berkunjung ke Graha Pena untuk bertemu dan berdiskusi dengan jajaran redaksi Jawa Pos. Dalam kunjungan Sultan kemarin, ikut menemani Sultan cendekiawan asal Lamongan Moeslim Abdurrahman. Dari jajaran redaksi Jawa Pos, yang menerima orang nomor satu di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu, antara lain, Direktur Jawa Pos Nany Wijaya, pemimpin redaksi Rohman Budijanto, redaktur pelaksana M. Elman, Taufik Lamade, redaktur senior Maksum, peneliti Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) Redhi Setiadi dan Dadan Suparjo. Sultan mendapatkan perhatian istimewa dari Jawa Pos karena pria yang juga biasa dipanggil Ngarso Dalem itu disebut-sebut bakal menjadi salah seorang calon presiden dalam Pilpres 2009. "Siapa yang mencalonkan? Saya bukan kandidat," kata Sultan menepis godaan jajaran redaksi Jawa Pos soal namanya yang belakangan ini disebut-sebut banyak kalangan dalam bursa calon presiden. Meski mengelak, Sultan bersedia menggambarkan sosok dan visi pemimpin nasional ke depan. Dia melontarkan sejumlah konsep dan visi tentang Indonesia sebagai negara maritim yang sampai sekarang dinilainya tak pernah jalan. "Padahal, ke depan penguasaan atas Samudera Pasifik dan Laut China Selatan merupakan hal penting," katanya. Untuk itu, Ngarso Dalem berpendapat bahwa superioritas dalam kelautan adalah mutlak. "Pertahanan itu harus berada di luar, bukan di dalam seperti sekarang. Siapa pun tak bisa seenaknya masuk wilayah perairan Indonesia," urainya. Sebab, kalau tak kuat, disintegrasi tinggal tunggu waktu. "Banyak pihak luar yang berkepentingan melihat Indonesia terpecah. Secara logika, itu sudah cukup jelas," paparnya. Selain itu, Sultan mengatakan, pemerintah harus benar-benar bisa mengayomi ribuan macam etnik di Indonesia. "Jangan sampai ada suku di Indonesia yang mengalami nasib seperti suku Aborigin. Mereka (suku Aborigin, Red) termarginalkan karena memang tak di-manage dengan baik," tambahnya. Untuk itu, bila Jogja sukses di-branding sebagai Never Ending Asia, Indonesia harus dikenal dengan multikulturnya. "Indonesia adalah salah satu negara dengan ragam etnis terbanyak. Itu harus menjadi contoh bagi dunia, bagaimana semuanya bisa bersatu," tegasnya. Konsep multikultur yang hendak ditawarkan adalah kesetaraan etnik. "Jangan ada dominasi etnik," ujarnya. Dia mencontohkan, saat ke Jawa, wajar kalau dalam peresmian menabuh gong. "Namun, jangan sampai ketika di Papua juga menabuh gong. Seharusya, tifa atau alat khas etnik sana," tuturnya. (ano/ign/pra/m
