:) halo ivonne.. semoga baik2 saja.. aku lagi nguli di pulau yg sama dgn mang dipo.. sesekali ngecek email kalo ada kesempatan... tapi jarang :((.. selamat beraktivitas..
-adit- 2008/8/25 vonny vitawati <[EMAIL PROTECTED]>: > > So pls yg paham ... mo sharing ya mas Adiet > > > --- On Thu, 8/21/08, Aditias Suyasninto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Aditias Suyasninto <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: CiKEAS> "I cried for my brother six times" ++mas Adiet++vonvon > To: [email protected] > Date: Thursday, August 21, 2008, 11:03 PM > > iya mas.. sepertinya ada yg kurang soal indikator pembangunan kita.. > nggak cuma berapa jumlah gedung yg dibangun... nggak cuma berapa > jalan, jembatan, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya, nggak cuma > pendapatan perkapita saja... dsb.. tapi juga > tingkat kejujuran > orang2... integritas para pejabat.. kasih sayang dalam masyarakat... > hmm.. tetapi membuat indikator kualitatif itu sangat sulit.. kita > masih kedodoran dalam hal2 fisik tersebut.. saya kira akan saling > mendukung... ada yg paham masalah ini...? > > thanks > -adit- > > 2008/8/21 Zenzi Aekido <[EMAIL PROTECTED]>: >> Peradaban Di kampung yang begitu mengesankan..., semua kampung begitu > damai, >> tentram, nyaman dan indah,,,, sayang sekali kita menjadikan indikator > sebuah >> pembangunan adalah jika kampung kampung berubah jadi kota. >> pagar pagar bambu menjadi tembok beton yg menjulang plus kawat berduri,... >> Pembangunan apa sich..? >> benarkah menghadirkan sesuatu yang belum ada itu merupakan pembangunan? >> haruskah perubahan fisik menadi prasyarat untuk dapat dikatan pembangunan? >> --- Pada Kam, 21/8/08, vonny vitawati <[EMAIL PROTECTED]> > menulis: >> >> Dari: vonny vitawati <[EMAIL PROTECTED]> >> Topik: Re: CiKEAS> "I cried for my brother six times" ++mas > Adiet >> Kepada: [email protected] >> Tanggal: Kamis, 21 Agustus, 2008, 6:20 PM >> >> >> Amien ..... >> >> >> --- On Thu, 8/21/08, Aditias Suyasninto <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: >> >> From: Aditias Suyasninto <[EMAIL PROTECTED] com> >> Subject: Re: CiKEAS> "I cried for my brother six times" ( dr > milis tetangga >> ) >> To: [EMAIL PROTECTED] com >> Date: Thursday, August 21, 2008, 3:43 AM >> >> iya >> ivonne... cinta yg tulus.... begitu mulia.... >> oh Tuhan... semoga cinta yg tulus... membawa bangsaku menjadi manusia >> yg >> berkemanusiaan. . >> >> salam >> -adit- >> >> >> 2008/8/21 vonny vitawati <[EMAIL PROTECTED] > com>: >>> >>> >>> -Note. : cerita ini udah aku baca ber kali2 .. tp tetep aja klo baca > lagi >>> aku nangis . >>> >>> >>> Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari > demi >>> hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka >>> menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda >>> dariku. >>> >>> Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis > di >>> sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri ima puluh sen dari > laci >>> ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku > berlutut >> di >>> depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. >>> >>> "Siapa >> yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, >> terlalu takut >>> untuk berbicara. Ayah tidak mendengar > siapa pun >> mengaku, jadi Beliau >>> mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak >> dipukul!" >>> >>> Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku >>> mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya! >> " Tongkat >>> panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu > marahnya >>> sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. >>> Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, >> "Kamu >>> sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang >> akan >>> kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! > Kamu >>> pencuri tidak tahu malu!" >>> >>> Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya > penuh >>> dengan luka, tetapi ia >> tidak menitikkan air > mata setetes pun. Di >> pertengahan >>> malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku >> menutup >>> mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis >> lagi >>> sekarang. Semuanya sudah terjadi." >>> >>> Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup > keberanian >>> untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut >> masih >>> kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang > adikku >>> ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia > 11. >>> >>> Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk > masuk >> ke >>> SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk > ke >>> sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, >>> menghisap rokok tembakaunya, > bungkus demi bungkus. >>> >>> Saya mendengarnya memberengut, >> "Kedua anak kita memberikan hasil yang >> begitu >>> baik…hasil yang begitu baik…" Ibu mengusap air matanya yang >> mengalir >> dan >>> menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa > membiayai >> keduanya >>> sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah > dan >>> berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah > cukup >> membaca >>> banyak buku." >>> >>> yah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. > "Mengapa >> kau >>> mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya >> mesti >>> mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai >> selesai!" Dan >>> begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam > uang. >>> Aku > menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang >>> membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan >>> sekolahnya, kkalau tidak ia tidak akan >> pernah meninggalkan jurang >> kemiskinan >>> ini." >>> >>> Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan >> ke >>> universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, > adikku >>> meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit > kacang >>> yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan > meninggalkan >>> secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas > tidaklah >> mudah. >>> Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." >>> >>> Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis > dengan >> air >>> mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, > adikku berusia 17 > tahun. >>> Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan > uang >>> yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi >>> konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . >>> >>> Suatu >> hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk >> dan >>> memberitahukan, " Ada seorang ppenduduk dusun >> menunggumu di luar sana >> !" >>> Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan >>> melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen > dan >>> pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman >> sekamarku >>> kamu adalah adikku?" >>> >>> Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang > akan >> mereka >>> pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa > mereka tidak akan >>> menertawakanmu? " Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi > mataku. >> Aku >>> menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam >>> kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah > adikku >> apa >>> pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. " >>> >>> Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah >> jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia >>> memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat > semua >> gadis >>> kota >> memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku >> tidak >>> dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam > pelukanku >>> dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20, Aku 23. >>> >>> Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah > telah >>> diganti, dan kelihatan > bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, > aku >>> menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu >> menghabiskan >>> begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi > katanya, >> sambil >>> tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk >>> membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia >>> terluka ketika memasang kaca jendela baru itu." >>> >>> Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat >> mukanya yang kurus, >> seratus >>> jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan >>> mebalut lukanya. >> "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. >> "Tidak, tidak >>> sakit.. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu >>> berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku >> bekerja >>> dan…" Ditengah > kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku >>> memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun > itu, >>> adikku 23, Aku berusia 26. >>> >>> Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku >>> mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi >> mereka >>> tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka >> tidak >>> akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, > mengatakan, >>> "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah >> di >> sini." >>> >>> Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku > mendapatkan >>> pekerjaan sebagai manajer pada >> departemen pemeliharaan. Tetapi adikku >>> menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai > pekerja >>> reparasi. Suatu hari, adikku > diatas sebuah tangga untuk memperbaiki > sebuah >>> kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. >>> >>> Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, > saya >>> menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak > akan >> pernah >>> harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu > sekarang, >>> luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami >> sebelumnya?" >>> >>> Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. >> "Pikirkan >>> kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak >> berpendidikan. >>> Jika >> saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan >>> dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian >> keluar >> kata-kataku >>> yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang > pendidikan juga karena >> aku!" >>> >>> "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam > tanganku. >> Tahun itu, ia >>> berusia 26 dan aku 29. >>> >>> Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani > dari >>> dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu > bertanya >>> kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" > Tanpa >> bahkan >>> berpikir ia menjawab, "Kakakku." >>> >>> Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan > tidak >>> dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada > dusun >> yang >>> berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk > pergi >>> ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya >> kehilangan satu dari >> sarung >>> tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. > Ia hanya memakai > satu >>> saja dan >> berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu >>> gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat > memegang >>> sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, > saya >>> akan menjaga kakakku dan baik kepadanya." >>> >>> Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan > perhatiannya >>> kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam >> hidupku, >>> orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam >> kesempatan >>> yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata >>> bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. >>> >>> Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times" >>> >>> rgds >>> >>> ivonne >>> >>> ____________ > _________ >> _________ __ >>> >>> >> >> >> ------------ --------- --------- ------ >> >> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ ________ >> >> www.kpk.go.id ||| [EMAIL PROTECTED] go.id >> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ ________ >> >> (^_^) ~ Bila Kejagung sudah menyerah, mengapa harus KPK ~ (^_^) >> >> >> >> >> >> Yahoo! Groups Links >> >> >> com >> >> >> >> >> ________________________________ >> Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru >> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan >> @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain! >> > > ------------------------------------ > > _________________________________________________________________ > > www.kpk.go.id ||| [EMAIL PROTECTED] > > _________________________________________________________________ > > (^_^) ~ Bila Kejagung sudah menyerah, mengapa harus KPK ~ (^_^) > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > > ------------------------------------ _________________________________________________________________ www.kpk.go.id ||| [EMAIL PROTECTED] _________________________________________________________________ (^_^) ~ Bila Kejagung sudah menyerah, mengapa harus KPK ~ (^_^) <*> Share with Pure Social-Politic Groups, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/CIKEAS/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/CIKEAS/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
