Konferensi
Asia-Afrika Masih Bergaung
29 Agustus, 2008
Oleh: RUDI HARTONO
“Kalau penggagasnya sudah pergi, maka gagasannya juga sudah terkubur” demikian
menurut beberapa ilmuwan sosial. Mereka pemikir-pemikir baru—yang sebenarnya
masih bau kencur, terus menganggap pemikiran-pemikiran besar di masa lalu
sebagai sesuatu yang sudah usang, tidak relevan, dan tidak tepat untuk situasi
sekarang. Demikian pula dengan gagasan-gagasan Bung Karno, Zhou Enlai, Nehru,
dan beberapa tokoh penggagas Konfrensi Asia-Afrika, sudah dianggap mati bersama
dengan kepergian sang tokoh. Belum lagi, perjuangan pembebasan nasional yang
dikobarkan bangsa-bangsa Asia dan Afrika, dalam melawan
kolonialisme dan Imperialisme---dalam bentuk apapun, kini dianggap sudah mati
oleh teoritisi sosial-borjuis. banyak teoritisi borjuis, diantaranya
Huntington, Fukuyama, dan banyak lagi yang mengira bahwa sejarah pertentangan
antara Negara jajahan dan Negara Imperialis telah berakhir, dan demikian
solidaritas antar bangsa-bangsa terjajah tak diperlukan lagi; tokh,
bangsa-bangsa tersebut telah merdeka. Bagi mereka dunia baru sekarang tak lagi
bipolar, seperti pada abad 19, ataupun abad 20, akan tetapi lebih multipolar.
mereka tidak menyadari bahwa tetap saja ketidaksejajaran, penghisapan, dan
ekspoitasi oleh bangsa tertentu terhadap bangsa lain masih terus berlangsung.
dunia tidaklah multipolar, dimana begitu banyak kutub. akan tetapi, kita tetap
menyaksikan sebuah pertentangan yang terus menerus terjadi, yakni Old
Esthablised Forces (Kekuatan lama) dan New Emerging Forces (Kekuatan dunia
baru).
Baca Selengkapnya di:
http://arahkiri2009.blogspot.com/2008/08/konferensi-asia-afrika-masih-bergaung.html
"Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia" (Multatuli)
Stand up for Democracy! Website http://www.arahkiri2009.blogspot.com