Refleksi: Bagus juga kalau pujian dubes  Malayasia ini benar, tetapi kenyataan 
berbicara lain, pendidikan terbengkalai mutunya selain itu  maha bagi rakyat 
mayoritas,  umumnya penguasa  NKRI  terdiri dari tukang catut bin copet, angka 
kemisikinan absalut adalah kurang lebih  25 % dari penduduk Indonesia, abibat 
dari kemiskinan  ini bisa dilihat dengan contoh sederhana yaitu  export TKI 
terus meningkat ditambah lagi hasil kekayaan alam kian hari kian menghilang. 
Obrololan negara maju akan tetap menjadi sepuhan bibir bibir  selama tidak ada 
perubahan mendasar dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan negara. 
 

Harian Analisa
Edisi Sabtu, 30 Agustus 20

Dubes Malaysia: 10 Tahun Lagi RI Jadi Negara Maju 

Jakarta, (Analisa) 

Indonesia memiliki peluang menjadi negara maju di berbagai bidang pada 10 tahun 
mendatang setelah melakukan perubahan-perubahan mendasar saat ini setelah China 
dan India, kata Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato Zainal Abidin Mohamad 
Zain. 

"Saya memproyeksikan Indonesia menjadi negara maju setelah China dan India," 
kata Zainal Abidin dalam diskusi pertama dengan para duta besar yang 
diselenggarakan Korps Alumni Himpunan Islam (Kahmi) dan dipandu Nazaruddin 
Nasution di Jakarta, Jumat. 

Hadir dalam acara itu sejumlah tokoh Kahmi antara lain Prof. Dr. La Ode M. 
Kamaluddin, Dr.Ir. A. Asri Harahap, Noer Soetrisno, Tubagus Farich N dan Dirut 
Perum LKBN Antara Dr. Ahamd Mukhlis Yusuf. 

Dalam pengamatannya Dubes Malaysia itu mengatakan gerakan-gerakan ke arah 
kemajuan Indonesia sudah menampakkan hasil misalkan dalam pendidikan dan 
pemanfaatan sumber daya alamnya. 

Menurut Zainal Abidin, sejumlah pengusaha Malaysia telah menanam modal di 
Indonesia antara lain di sektor pertanian, perkebunan kelapa sawit, 
penerbangan, jalan raya, telekomunikasi dan perbankan. 

Malaysia dan Indonesia merupakan produser minyak kelapa sawit terbesar di dunia 
dan menguasai 85 persen pangsa pasar komoditas itu sehingga kedua negara dapat 
bekerja sama menstabilkan harga komiditas tersebut di pasaran. 

Selain digunakan sebagai minyak goreng, minyak sawit juga dapat digunakan 
sebagai bahan bakar biodiesel. 

"Jika kecenderungan harga minyak sawit menurun, maka langkah kedua negara 
menghasilkan biodiesel boleh memastikan penawaran komoditas tersebut di pasaran 
tidak berlebihan sehingga menyebabkan harganya jatuh," katanya. 

Untuk tujuan itu kedunya telah sepakat menggunakan enam juta ton minyak sawit 
untuk menghasilkan biodiesel dan ini tak akan mengganggu cadangan minyak makan 
dunia karena pada saat ini stok minyak tersebut berlebih. 

Pengusaha Malaysia juga membeli saham Bank Lippo dan Bank Niaga. "Pengusaha 
Malaysia tertarik menanam modal di sini kaarena melihat potensinya ke depan," 
ujarnya seraya menambahkan pada saat Indonesia dilanda krisis multidimensi 
tahun 1990-an mereka tidak meninggalkan usaha-usaha yang telah dirintisnya di 
Indonesia. 

Hubungan Kedua Negara 

Pada bagian lain ia menyinggung hubungan kedua negara serumpun yang mengalami 
pasang-surut dan berbagai isu-isu yang mewarnai hubungan keduanya seperti 
tenaga kerja Indonesia, tapal batas, pembalakan liar dan perairan Ambalat yang 
dipersengketakan. 

Para peserta juga menanyakan soal batik, reog ponorogo, kata "Indon" dan 
"pendatang haram" terhadap orang Indonesia yang masuk negara itu secara ilegal. 

Secara khusus ia menjelaskan perkembangan politik terkini di negerinya seperti 
aksi-aksi unjuk rasa kelompok minoritas India dan China, pemilihan raya Maret 
lalu dan kemenangan Anwar Ibrahim dalam pemilihan sela. 

Ia menyatakan ada pihak-pihak luar yang tak menghendaki Malaysia-Indonesia 
menjalin hubungan baik dan mesra. 

Dubes Zainal Abidin menunjuk media turut berperan memprovokasi dengan 
laporan-laporannya. "Untuk itu kami mengimbau media massa tak menyebarkan 
laporan-laporan yang memperkeruh suasana dan hendaknya melihat hubuingan jangka 
panjang kedua negara bertetangga," ujarnya. 

Dalam ceramahnya Dubes Zainal Abidin berpendapat rakyat Malaysia dan Indoensia 
saat ini umumnya kurang memahami latar belakang sejarah keduanya sebelum 
kehadiran penjajah Belanda dan Inggris dan pemahaman yang terbatas mengenai 
sejarah terbentuknya dua negara ini. 

"Banyak di kalangan kedua negara terutama generasi muda tidak mengetahui atau 
lupa akan sejarah itu termasuk ciri-ciri kebiasaan hidup, bahasa dan budaya 
akibat dari migrasi penduduk sebelum abad kedua puluh," ujarnya. 

Dubes Zainal Abidin sepakat perlunya kontak antarorang dari kedua negara untuk 
meningkatkan saling pengertian dan pemahaman. 

Ia merujuk pada pertemuan tokoh-tokoh senior dari kedua negara (EPG) yang 
sedang mengadakan pertemuan dua-hari di Jakarta untuk meningkatkan hubungan 
tersebut. 

"Kita akan tunggu gagasan apa saja yang akan mereka sampaikan nanti untuk 
meningkatkan hubungan 'people to people contact'," demikian Dubes Malaysia. 

Kirim email ke