======================================================== 
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat, 
           Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia."  
======================================================== 
[Economic, Democration, Nationalism and Pruralisme Indonesia Quotient] 
BANK KAUM MISKIN 
Pidato Muhammad Yunus 
Saat Menerima Hadiah NOBEL Perdamaian 2006 
Belajar dari : 
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam 
Memerangi Kemiskinan 
DALAM RANGKA : 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL   
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA   
DAN MERAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63   
118. Pidato Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 
OSLO, 10 DESEMBER 2006 
“PADUKA yang mulia, anggota Komite Nobel Norwegia yang terhormat, hadirin, 
bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, 
Grameen Bank dan saya sungguh merasa terhormat menerima penghargaan yang paling 
bergengsi ini. Kami tergetar dan kewalahan oleh penghargaan ini. Sejak Hadiah 
Nobel Perdamaian diumumkan, saya mendapat pesan yang tak terhingga banyaknya 
dari seluruh dunia, namun yang paling mengharukan saya adalah telepon-telepon 
yang saya terima hampir setiap hari dari para peminjam Grameen Bank di 
desa-desa terpencil Bangladesh, yang cuma ingin mengabarkan betapa bangganya 
mereka menerima pengakuan ini. 
Sembilan perwakilan terpilih dari tujuh juta peminjam-sekaligus-pemilik Grameen 
Bank telah menemani saya jauh-jauh ke Oslo untuk menerima penghargaan ini. Atas 
nama mereka saya sampaikan terima kasih kepada Komite Nobel Norwegia yang telah 
memilih Grameen Bank sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Dengan 
memberi institusi mereka anugerah paling bergengsi di dunia, Anda telah memberi 
mereka penghormatan yang tiada taranya. Berkat hadiah Anda, sembilan perempuan 
desa Bangladesh yang berbangga ini telah hadir di upacara hari ini sebagai 
penerima Nobel, memberikan makna yang sama sekali baru bagi Hadiah Nobel 
Perdamaian. 
Semua peminjam Grameen Bank merayakan hari ini sebagai hari terhebat dalam 
hidup mereka. Bersama penduduk desa lainnya, mereka berkumpul di sekitar 
pesawat televisi terdekat di desa-desa mereka seluruh Bangladesh untuk menonton 
jalannya Upacara. 
Penghargaan tahun ini telah memberi penghormatan tertinggi dan martabat bagi 
ratusan juta kaum perempuan sedunia yang berjuang setiap hari untuk mencari 
penghidupan dan memberi harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak 
mereka. 
Ini saat bersejarah bagi mereka.” 
[ bersambung ] 
  
* * * * * 
“Otak kita seperti parasut, berfungsi pada saat terbuka. 
Jadi bukalah selalu pikiran Anda.” 
[ Anonim ] 
  
* * * * * 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm 
========================================================   
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
[ Seri : "Membangun Demokrasi, Kebangsasan & Pruralisme  Indonesia" ]  
======================================================== 
[Democration, Nationalism and Pruralism Quotient - Dem_Nat_&_Pru_Q] 
Benteng Intelektual Republik 
“Universitas adalah benteng terakhir asketisme intelektual. Saat tangki-tangki 
pemikir bernoda uang dan kedudukan bertumbuhan di sana sini, universitas harus 
menumbuhkan tangki-tangki pemikir yang mengabdi kemaslahatan bersama, bukan 
pribadi atau golongan. Infiltrasi kepentingan harus dibersihkan dari tiap pojok 
akademik universitas. 
Untuk itu, universitas harus membuka pintu lebar-lebar bagi intelektual 
independen, mereka yang beraspirasi pada integritas ilmu pengetahuan dan 
kemaslahatan bersama. Sebab, merekalah para penjaga benteng sebenarnya. Namun, 
sekali lagi, intelektual yang tidak mudah dibeli justru mahal harganya. Karena 
itu, segalanya harus dimulai dari elitisme. Para intelektual independen 
ditampung dalam aneka kelompok peneliti khusus. Tugas mereka ada tiga: 
meneliti, mengajar, dan mengabdi pada kemaslahatan bersama. Tak lebih. 
Kecendekiawanan adalah sebuah panggilan, sebuah laku suci untuk menapak di 
tanah tak bertuan. Membuka rahasia semesta dan membocorkannya secara sederhana 
demi kemaslahatan bersama. Karena itu, bagi mereka yang berpisah jalan hanya 
ada satu pesan. Kembalilah ke jalan yang benar, jalan kecendekiawanan, jalan 
artes liberal. Universitas, benteng kita bersama.” [Donny Gahral Adian Dosen 
Filsafat UI] 
-------- 
  
Terimakasih kepada bapak/ibu dan kawan-kawan members yang telah merespon dengan 
memforward email saya kemarin, sehingga mempercepat hadirnya serie Pidato Nobel 
Perdamaian Muhammad Yunus. Selamat menikmati. 
  
Best Regards, 
  
Retno Kintoko

The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke