=======================================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat,
           Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia." 
=======================================================
[Economic, Democration, Nationalism and Pruralism Indonesia Quotient]
BANK KAUM MISKIN
Pidato Muhammad Yunus
Saat Menerima Hadiah NOBEL Perdamaian 2006
Belajar dari :
Kisah Muhammad Yunus dan Grameen Bank, dalam
Memerangi Kemiskinan
DALAM RANGKA : 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL   
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA  
DAN MERAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63  
121. Grameen Bank - Bank Pedesaan
Saya jadi terlibat dalam masalah kemiskinan bukan sebagai pengambil kebijakan 
atau peneliti. Saya terlibat karena kemiskinan ada di mana-mana di sekeliling 
saya, dan saya tidak bisa berpaling darinya. Tahun 1974, saya merasa sulit 
mengajarkan teon-teori ekonomi yang elegan di ruang-ruang kelas universitas 
dengan latar bencana kelaparan yang mengenaskan di Bangladesh. Mendadak saya 
merasakan kosongnya teori-teori ini di hadapan kelaparan dan kemiskinan yang 
meluluhlantakkan. Saya ingin berbuat sesuatu yang langsung untuk menolong 
orang-orang di sekitar saya, sekalipun satu manusia saja, untuk bisa melewati 
satu hari lagi dengan sedikit lebih lega. Hal ini membawa saya berhadapan 
dengan perjuangan kaum miskin untuk bisa mencari sejumlah kecil uang buat 
menopang upaya mereka mencari penghidupan. Saya terperanjat mendapati seorang 
perempuan desa meminjam kurang dari AS$1 dari seorang rentenir, dengan syarat 
bahwa si rentenir memegang hak eksklusif untuk
 membeli semua yang dihasilkan si perempuan itu dengan harga yang ditetapkan si 
rentenir. Hal ini, bagi saya, adalah cara membeli budak belian.
Saya putuskan membuat daftar korban “bisnis” rentenir ini di desa yang 
bersebelahan dengan kampus kami.
Ketika daftar saya rampung, ada nama 42 korban yang pinjaman totalnya AS$27. 
Saya keluarkan AS$27 dari kocek sendiri untuk membebaskan para korban ini dari 
cengkeraman rentenir. Kegembiraan yang timbul di kalangan orang-orang itu oleh 
langkah sederhana ini membuat saya terlibat makin jauh ke dalamnya. Bila saya 
bisa membuat begitu banyak orang bahagia dengan uang yang begitu sedikit, 
mengapa tidak berbuat lebih banyak lagi?
Inilah yang berusaha saya lakukan sejak itu. Hal pertama yang saya lakukan 
adalah mencoba membujuk bank yang berlokasi di kampus untuk meminjamkan uang 
pada kaum miskin. Tidak berhasil. Bank bilang kaum miskin tidak layak diberi 
kredit. Setelah semua jerih payah saya selama beberapa bulan gagal, saya 
menawarkan diri untuk menjadi penjamin kredit bagi kaum miskin ini. Saya 
terkesima oleh hasilnya. Orang-orang miskin ini membayar kembali pinjamannya, 
tepat waktu, selalu! Namun saya tetap menemui kendala dalam memperluas program 
ini lewat bank-bank yang ada. Saat itulah saya putuskan untuk menciptakan bank 
tersendiri bagi kaum miskin, dan tahun 1983, akhirnya saya berhasil melakukan 
nya. Saya beri nama Grameen Bank atau Bank Pedesaan.
Hari ini Grameen Bank memberi kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 
desa Bangladesh, 97 persen di antaranya perempuan. Grameen Bank memberi kredit 
bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk 
keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan yang 
atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Sejak diperkenalkan 
tahun 1984, kredit perumahan telah dipakai untuk membangun 640.000 rumah. 
Kepemilikan legal rumah-rumah ini menjadi hak para perempuan itu sendiri. Kami 
menitikberatkan pada kaum perempuan karena kami dapati bahwa memberi pinjaman 
ke kaum perempuan lebih banyak manfaatnya bagi keluarga.
Secara kumulatif bank telah memberi kredit sebesar sekitar AS$6 miliar. Tingkat 
pengembaliannya 99 persen. Secara rutin Grameen Bank membukukan laba. Secara 
finansial Grameen Bank mandiri dan tidak lagi menerima dana donor sejak 1995. 
Deposito dari dana milik Grameen Bank sendiri hari ini berjumlah 143 persen 
dari seluruh pinjaman berjalan. Menurut survai internal Grameen Bank 58 persen 
peminjam kami telah terangkat dari garis kemiskinan.
Grameen Bank lahir sebagai proyek rumahan kecil-kecilan yang dijalankan dengan 
bantuan mahasiswa-mahasiswi saya, semuanya berasal dari daerah setempat. Tiga 
dari mahasiswa ini masih bersama saya di Grameen Bank sesudah bertahun-tahun 
ini, sebagai eksekutif puncaknya. Mereka hadir di sini hari ini untuk menerima 
penghargaan yang Anda berikan pada kami ini.
Gagasan ini, yang bermula di Jobra, sebuah desa kecil di Bangladesh, telah 
menyebar ke seluruh dunia dan sekarang ada program-program mirip Grameen di 
hampir semua negara.
[ bersambung ]
 
 
* * * * *
Mimpi hanyalah mimpi. 
Tujuan adalah mimpi yang disertai perencanaan dan target.
[ Harvey Mackay ]
 
* * * * *
 
Best Regards,
 
Retno Kintoko
 
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke