=======================================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat,
Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia."
=======================================================
[Economic, Democration, Nationalism and Pruralism Indonesia Quotient]
100 Tahun Kebangkitan Nasional
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA
DAN MERAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63
Membangun Spirit Kewirausahaan Kaum Muda
Tidak ada bangsa yang sejahtera dan dihargai bangsa lain tanpa kemajuan
ekonomi. Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit entrepreneurship,
semangat kewirausahaan, yang kuat dari warga bangsanya.
China baik dijadikan contoh konkret dan paling dekat. Setelah menggelar pesta
akbar Olimpiade 2008 yang mencengangkan banyak orang beberapa waktu lalu,
mereka kembali membuat dunia berdecak dengan kesuksesan astronotnya
berjalan-jalan di angkasa luar.
Kini, dunia menantikan China turun tangan membantu mengatasi krisis keuangan
global. Tanpa kemajuan ekonomi, tentu semua itu tak mungkin dilakukan China.
Salah satu faktor kemajuan ekonomi China adalah semangat kewirausahaan
masyarakatnya, yang didukung penuh pemerintahnya.
Pernyataan seperti pada awal tulisan ini berkali-kali diutarakan dalam berbagai
kesempatan terpisah oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memang berlatar
belakang pengusaha. Pengusaha nasional lainnya juga berbicara senada, antara
lain Ciputra, Sofjan Wanandi, dan Arifin Panigoro. Bukan hanya mereka yang
sudah senior dan telah mengenyam banyak asam garamnya bisnis, tetapi juga
kalangan muda generasi kini, seperti Rachmat Gobel, Muhammad Luthfi, Sandiaga
Uno, Erwin Aksa, dan Anindya Bakrie. Mereka juga geregetan melihat lambatnya
kebangkitan wirausaha di kalangan kaum muda sendiri.
Persoalan ada pula di sisi lain, yakni masih kaburnya visi serta rendahnya
komitmen birokrat dan pengambil kebijakan publik tentang pentingnya membangun
semangat kewirausahaan masyarakat, terutama di kalangan anak-anak muda.
Kewirausahaan hanya bisa bangkit manakala diberi lahan subur untuk bersemai,
dipupuk, dilindungi, dan dibela kepentingannya.
Negara maju umumnya memiliki wirausaha yang lebih banyak ketimbang negara
berkembang, apalagi miskin. Amerika Serikat, misalnya, memiliki wirausaha 11,5
persen dari total penduduknya. Sekitar 7,2 persen warga Singapura adalah
pengusaha sehingga negara kecil itu maju.
Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimilikinya ternyata hanya
memiliki wirausaha tak lebih 0,18 persen dari total penduduknya. Secara
historis dan konsensus, sebuah negara minimal harus memiliki wirausaha 2 persen
dari total penduduk agar bisa maju.
Pengimbang
Bangsa Indonesia semakin berpacu dengan bangsa lain yang sudah lebih dulu maju.
Bahkan, negara-negara yang pernah mengalami krisis ekonomi seperti Indonesia,
yang menyebabkan mulai bergantinya pelaku aktif di dunia bisnis, semakin jauh
melesat. Korporasi baru terus bermunculan, dikendalikan kaum muda dengan visi
bisnis yang kuat, jiwa kewirausahaan yang tangguh. Pemimpin bisnis berusia muda
terus bermunculan, siap membawa ekonominya melaju lebih pesat.
Dalam bukunya, When Corporation Rule the World, David C Korten sangat ”alergi”
terhadap korporasi multinasional. Dengan kekuatan modal, teknologi, dan sumber
daya manusia yang dimiliki, mereka akan terus menggunakan segala kekuatan untuk
melakukan ekspansi dan pengisapan kekayaan di negara-negara tertinggal atau
berkembang tempat mereka beroperasi.
Untuk mengimbangi semakin mengguritanya korporasi multinasional itu, tidak lain
kecuali membangun semangat kewirausahaan di kalangan manusia baru Indonesia
seagresif mungkin sehingga lahir semakin banyak pelaku usaha, dan tumbuhnya
korporasi-korporasi baru yang sehat dan tangguh.
Untuk mempercepat pertumbuhan wirausaha di dalam negeri, harus ada upaya serius
untuk menciptakan orang-orang yang mampu mengambil peluang yang ada dan
menciptakan lapangan kerja untuk dirinya maupun untuk orang lain. Lembaga
pendidikan mesti bisa berperan lebih banyak lagi untuk menumbuhkan semangat
kewirausahaan dan membentuk orang-orang yang tahan banting dengan segala
kesukaran yang dihadapi untuk membangun kemandirian.
Tanpa semua itu, Indonesia hanya akan menjadi pasar yang besar bagi produk
bangsa dan korporasi asing. Kekayaan berupa potensi sumber daya alam akan lebih
banyak dinikmati bangsa lain, sementara bangsa sendiri cukup puas mengonsumsi
karya bangsa lain.
Tidak ada negara sekaya dan selengkap sumber daya alam Indonesia. Sejak zaman
penjajahan, nusantara ini sudah menjadi sumber utama dunia akan hasil bumi dan
laut, komoditas primer. Komoditas pertanian, perkebunan, laut, dan pantai
Indonesia sudah jadi pembicaraan pebisnis global. Berdatangannya partikelir
untuk berdagang, dan sebagian berujung penjajahan, adalah bukti otentik dari
catatan sejarah masa silam itu.
Keterampilan manusianya dalam hal menghasilkan komoditas dagangan dunia pun tak
diragukan. Akan tetapi, semua itu bisa menjadi tinggal kenangan di tengah arus
kapitalisme global yang mengutamakan keunggulan modal, teknologi, dan inovasi
manusianya, yang kini menjadi kelemahan bangsa ini.
Indonesia penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, tapi bukan penghasil
cokelat terkemuka. Swiss yang tidak punya lahan untuk menanam kakao menjadi
produsen cokelat terkemuka. Bangsa Jepang tak punya sumber daya alam yang
berlebihan, tapi negara ini bagaikan pabrik raksasa yang memasok kebutuhan
hidup manusia sedunia. Semua itu karena kewirausahaan masyarakatnya yang kuat.
China, Korea Selatan, dan India semakin berjaya mengibarkan produk-produknya
sebagai bendera nasionalnya di pentas global. Bisnis korporasi multinasional
terus menggurita di tanah air, sementara pengusaha dan korporasi nasional belum
juga memiliki satu pun produk bermerek global, kecuali terkenal sebatas pemasok
komoditas primer bernilai tambah rendah. [Andi Suruji-Kompas]
* * * * *
“Bagilah setiap kesulitan menjadi beberapa bagian kecil,
Agar bisa diselesaikan.”
[ Rene Descartes ]
* * * * *
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!
Best Regards,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3