=======================================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat, 
           Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia."  
======================================================= 
[Economic, Democration, Nationalism and Pruralism Indonesia Quotient] 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL   
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA   
MERAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63    
MERAYAKAN 5 TAHUN MILIS TRAINERSCLUB   
DAN MERAYAKAN 3 TAHUN MILIS PROFEC   
  
Singgih, Radio Kayu dan Kehidupan 

Selasa, 14 Oktober 2008 | 03:00 WIB 
Singgih S Kartono, pembuat radio kayu dan kerajinan tangan, menganggap 
produknya sebagai bagian dari kehidupan berkelanjutan. Dengan konsep itulah, 
pembuat radio kayu di Kandangan, desa kecil di Temanggung, Jawa Tengah, ini 
mendapat pesanan 10.000 unit radio kayu senilai Rp 4,9 miliar dari rekanannya 
di Amerika Serikat. 
Singgih adalah sosok yang mewakili berkembangnya kesadaran bahwa batas negara 
dan daya tarik kota besar makin tak relevan sebagai determinan berkembangnya 
industri kerajinan. Internet memungkinkan Singgih memasuki pasar dunia. 
”Sayang, kapasitas produksi saya belum sebesar itu. Apalagi saya juga melayani 
permintaan dari Jepang yang sudah rutin sejak tiga tahun lalu. Saya minta waktu 
setahun untuk memenuhi pesanan itu (dari AS). Bagaimanapun saya senang, konsep 
saya diterima dan mendapat kepercayaan,” ujarnya, saat ditemui di ”pabrik”-nya, 
Piranti Works, di Desa Kandangan, Temanggung. 
Ia menunjukkan tiga model radio dari kayu serta peralatan kantor dari kayu, 
seperti pembuka surat, penjepit kertas, stapler, dan kompas berlapis kayu. 
”Radio kayu memang karya akhir saya ketika kuliah di seni rupa ITB. Saya hanya 
membuat rangka dan kemasan. Peralatan elektronik di dalamnya saya pakai dari 
Panasonic, yang memenuhi syarat ketat ramah lingkungan untuk pasar ekspor,” 
ujarnya. 
Radio kayu yang diberi merek Magno itu, Rabu (8/10), diumumkan menjadi pemenang 
Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & 
Experimental Design. Magno juga masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain 
for Asia Award yang digelar di Hongkong. 
Awalnya Singgih membeli radio Panasonic di toko, lalu dipreteli dan dimasukkan 
dalam radio kayu. ”Saya sering memborong radio di Temanggung, sampai bertemu 
Pak Rachmat Gobel (Preskom Panasonic Indonesia) pada pameran produksi ekspor. 
Sejak itu saya membeli langsung peralatan elektronik dari Panasonic, tidak lagi 
membeli radio di toko,” katanya. 
Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke Jepang, 
Jerman, dan AS. ”Saya kirim 300-400 unit radio ke Jepang setahun. Pasar di 
Jerman baru kami tembus. Harga per unit 49-56 dollar AS, tapi di Jepang dijual 
17.500 yen dan di Jerman 160-240 euro. Di dalam negeri saya jual Rp 1,1 juta-Rp 
1,3 juta per unit. Agak mahal, karena ini benda koleksi yang personal, bukan 
komoditas,” katanya. 
Radio buatan Singgih itu bisa dilihat di berbagai media gadget atau website. 
Setelah pameran demi pameran dan berbagai lomba desain diikuti, pemasaran lewat 
internet ia lakukan dan contoh produk dikirim ke berbagai pihak selama setahun. 
”Saya menang lomba desain di Seattle, AS, tahun 1997, lalu seorang desainer 
Jepang tertarik dan memasarkan produk ini sejak 2004. Sejak itulah produk Magno 
makin populer.” 
Tanam pohon 
Lalu apa urusan radio kayu dengan filosofi kehidupan berkelanjutan? ”Saya lahir 
dan dibesarkan di desa. Hutan dan kayu adalah lingkungan saya. Di desa, kayu 
dipakai untuk bahan bakar, bikin rumah, mainan, dan banyak hal dalam hidup. 
Setelah lulus kuliah, saya kembali ke desa, menghidupi desa dengan kayu dan 
menghidupkan kayu dari desa,” ujarnya. 
Kerajinan kayu memberi nilai tambah signifikan bagi kayu. ”Sebatang kayu sengon 
sebagai kayu bakar hanya ekuivalen dengan 0,8 dollar AS. Tapi, sebagai produk 
kerajinan tangan, kayu yang sama bisa menghasilkan 1.000 dollar AS. Kita harus 
lebih cerdas memanfaatkan kayu,” ujarnya. 
Ia mengalokasikan 10 persen dari hasil penjualan produk untuk dikembalikan 
kepada alam, lewat pembibitan dan penanaman pohon. Itulah mengapa dari 2.200 
meter persegi tanah di pabriknya yang justru menghabiskan lahan adalah 
pembibitan ribuan sengon, mahoni, sonokeling, dan pinus. 
”Bersama aktivis lingkungan, Mukidi, saya merintis penanaman pohon di kaki 
Gunung Sumbing yang gundul. Kami menanam 1.500-an pohon. Ada juga bantuan dari 
Panasonic,” ujarnya. 
Ia juga bekerja sama dengan SMP Negeri 3 Bulu, Desa Wonotirto, di kaki Gunung 
Sumbing, menyebar kesadaran pelestarian alam dengan menanam pohon. ”Kami 
melibatkan murid menanam pohon di sekitar sekolah, di kaki gunung, di 
rumah-rumah. Anak-anak sadar akan pentingnya menyelamatkan hutan. Penggundulan 
hutan menyebabkan kelangkaan sumber air di kawasan ini,” ujar Wiyono, Kepala 
Sekolah SMP 3 Bulu. 
Penggundulan hutan di Gunung Sumbing kian parah karena penanaman tembakau. 
”Para petani percaya, tembakau akan berkualitas baik jika mendapat sinar 
matahari langsung. Jadi, semua pohon di kaki gunung ini ditebangi. Hutan 
menjadi gundul, rawan longsor, dan banyak mata air mengering.” 
”Warga Desa Wonotirto harus mengambil air bersih dari sumber air yang jaraknya 
6 kilometer. Itu sebabnya, kami membuat saluran air dari mata air dan membuat 
bak penampungan dekat sekolah. Tanpa bak itu, di sekolah ini tak ada setetes 
pun air bersih,” ujar Singgih. 
Kerusakan lingkungan di Temanggung bisa diatasi jika ketergantungan warga pada 
penghidupan yang mengeksploitasi tanah dikurangi. ”Itu juga alasan saya 
mengembangkan kerajinan yang tak cuma efisien dalam penggunaan kayu sebagai 
bahan baku, tapi juga memanfaatkan sebanyak mungkin tenaga kerja,” ujarnya. 
Dengan konsep itu, setiap orang tanpa keterampilan apa pun bisa ditampung 
sebagai tenaga kerja. ”Sejak hari pertama masuk kerja, ia harus bisa 
mengerjakan satu bagian proses produksi. Dalam seminggu ia sudah terampil dan 
dalam 3-4 bulan ia terampil mengerjakan semua proses produksi. Dalam setahun, 
kalau mau dan punya modal, ia bisa bikin pabrik sendiri. Kalau bisa mendapat 
order 2.500 dollar AS sampai 3.000 dollar AS sebulan, ia bisa mempekerjakan 10 
tenaga kerja,” katanya. 
Singgih dibantu 30 karyawan dengan kapasitas produksi 400-an unit radio per 
bulan. ”Saya ingin bisa menampung 1.000 warga Kandangan atau 25 persen populasi 
desa. Dalam 15-20 tahun ke depan, kami punya hutan yang rimbun lagi, sumber air 
melimpah, dan lingkungan hidup yang baik,” ujarnya optimistis. 
Singgih mengawali usahanya pada tahun 2003. Ia bekerja di ruang tamu rumahnya 
dengan peralatan rakitan sendiri. Ia berkeliling pabrik kayu, membeli sisa kayu 
potongan untuk bahan baku. Dibantu istri dan empat pekerja, ia mulai membuat 
radio kayu. Kini, ia punya pabrik berukuran 15 meter x 18 meter yang dibangun 
dengan biaya Rp 100 juta. 
Konsep hidup dan kerja inilah yang dijual. Orang tak hanya membeli radio kayu, 
tetapi mendukung konsep kehidupan berkelanjutan di Temanggung. [Oleh: NUGROHO F 
YUDHO-Kompas]. 
  
* * * * * 
 “Sebelum orang bisa meraih kesuksesan, 
bisa dipastikan akan mengalami banyak kekalahan sementara, 
mungkin juga kegagalan. 
  
Ketika kegagalan menimpa seseorang, cara paling mudah dan 
paling logis adalah meninggalkan. 
Inilah data yang paling banvak ditempuh oleh sebagian besar orang.” 
[ Napoleon Hill ] 
* * * * * 
------- 
  
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
  
Best Regards, 
Retno Kintoko 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke