=======================================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun Ekonomi Rakyat, 
           Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia."  
======================================================= 
[Economic, Democration, Nationalism and Pruralism Indonesia Quotient] 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL  
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA  
MERAYAKAN HUT KEMERDEKAAN RI KE - 63  
DAN MERAYAKAN HARI PANGAN SEDUNIA 2008  
  
Hari Pangan Sedunia dan Kemandirian Petani 
Kamis, 16 Oktober 2008 | 00:27 WIB 
Oleh : Khudori 
Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2008, bertema ”Ketahanan Pangan, Perubahan 
Iklim, Bioenergi dan Kemandirian Petani”. Empat matra ini secara implisit 
menegaskan, kian tidak mudah mencapai ketahanan pangan. 
Pemanasan global membuat cuaca kian kacau dan sulit diprediksi. Periode musim 
hujan dan kemarau kian tak menentu sehingga pola tanam, estimasi produksi 
pertanian, dan persediaan pangan sulit diprediksi. 
Krisis pangan 
Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), setiap kenaikan suhu 
dua derajat Celsius akan menurunkan produksi pertanian China dan Banglades 30 
persen pada tahun 2050. Masalahnya dampak tak dibagi rata. Rakyat miskin 
seperti petani dan nelayan di negara miskin paling menderita karena daya 
adaptasi rendah dan ketergantungan kehidupan mereka pada sumber daya alam yang 
rentan terhadap perubahan iklim. 
Dalam kondisi demikian, dunia diempaskan krisis pangan. Penyebabnya bukan cuma 
suplai pangan menyusut, tetapi karena pergeseran permintaan konsumsi 
biji-bijian di China dan India kian besar dan konversi pangan ke bahan bakar di 
negara maju. Bagai silent tsunami, sontak jutaan orang yang semula makmur kini 
malnutrisi. Josette Sheeran, Direktur Eksekutif WFP, menyebutkan lebih dari 100 
juta jiwa di tiap benua terancam kelaparan. 
Bisakah petani mandiri? Lebih tiga dekade petani dan pertanian di negara-negara 
berkembang jadi anak tiri. Lewat pendiktean IMF dan Bank Dunia, investasi di 
sektor pertanian disunat, dialihkan ke led-export production. Lembaga donor tak 
tertarik membantu peningkatan produksi pangan, tetapi justru mendorong 
peningkatan komoditas ekspor. Dana kerja sama pembangunan dari negara maju 
untuk negara berkembang naik dari 20 miliar dollar AS (1980) menjadi 100 miliar 
dollar AS (2007), tetapi pada saat yang sama dana untuk pertanian turun dari 17 
miliar dollar AS tinggal tiga miliar dollar AS (Via Campesina, 2008). 
Petani Indonesia 
Petani dan pertanian Indonesia tak jauh berbeda. Setelah tiga dasawarsa pangan 
utama (beras, jagung, kedelai, gandum, gula, dan minyak goreng) ada di bawah 
Bulog atas desakan IMF semua dilepas ke pasar pada 1998. Komitmen liberalisasi 
secara bertahap dengan WTO mengalami percepatan. Penyesuaian struktural ala IMF 
mengharuskan penghapusan berbagai subsidi. Bulog direstrukturisasi menjadi 
Perum yang harus untung. 
Hampir semua produktivitas pangan menurun/stagnan, kecuali beras dan jagung. 
Tingkat ketergantungan impor meledak dua kali setelah tahun 1998. Produksi 
kedelai, daging, dan telur ayam ras, dan impor gandum tergolong kritis. Nasib 
serupa terjadi pada daging sapi, susu, dan gula. Ini terjadi karena Indonesia 
membuka pasar secara radikal. Padahal, negara-negara maju, seperti UE, AS, 
Kanada, Swiss, Norwegia, dan Jepang, melakukan sebaliknya. Tahun 2003, 83 
persen jenis produk yang masuk Indonesia dikenai applied tariff 0-10 persen; 15 
persen produk dikenai applied tariff 15-20 persen, dan hanya 1 persen dipatok 
applied tariff di atas 30 persen. Serbuan pangan impor murah karena dumping 
membuat pemerintah memilih jalan pintas: panen pangan di pasar ketimbang di 
lahan. Petani pun jadi kaum paria. 
Memandirikan petani 
Memandirikan petani memerlukan perubahan paradigma: dari ketahanan pangan 
menuju kedaulatan pangan. Visi pemerintah dalam pembangunan pangan (UU No 
7/1996 tentang Pangan) diletakkan dalam konsep ketahanan pangan. Konsep adopsi 
FAO itu didefinisikan sebagai kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan 
(warganya), menyangkut empat aspek: ketersediaan, stabilitas ketersediaan, 
keterjangkauan, dan konsumsi. 
Masalahnya, konsep ini tidak menyoal siapa yang memproduksi, dari mana 
diproduksi, dan bagaimana pangan tersedia. Yang penting, pangan dalam jumlah 
cukup, tidak peduli hasil impor atau panen sendiri. 
Kedaulatan pangan merupakan prasyarat ketahanan. Ketahanan pangan baru tercipta 
jika kedaulatan pangan dimiliki rakyat. Karena itu, kedaulatan pangan bukan 
hanya perlu, tetapi menjadi niscaya. Dari perspektif ini, pangan dan pertanian 
seharusnya tidak ditaruh di pasar yang rentan, tetapi ditumpukan di pundak dan 
kemampuan sendiri. Untuk menciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus 
menjamin akses setiap petani atas tanah (reforma agraria), air, bibit lokal 
unggul, pasar yang adil, dan kredit bersubsidi. 
Prioritas utama dan pertama adalah pasar domestik dan kepentingan petani, bukan 
pasar ekspor dan kuasa korporasi. Semua prakarsa petani yang menggantikan input 
luar yang mahal (bibit, pupuk, pestisida) dengan produk ramah ekologis harus 
didorong. Dengan demikian, petani bisa tegak, mengangkat kepala menjadi 
mandiri. [Khudori Peminat Masalah Sosial-Ekonomi Pertanian] 
------ 
  
Hanya disayangkan banyak pihak, saat ini pemerintah akan mengadakan 
pemangkasan APBN 2009 di bidang irigasi pertanian sbb... 
 
Dana Irigasi Dipangkas 
Infrastruktur Dasar Tetap Menjadi Prioritas 
Kamis, 16 Oktober 2008 | 00:44 WIB 
Jakarta, Kompas - Departemen Pertanian berencana memangkas sebagian anggaran 
perawatan, perbaikan, dan pembangunan infrastruktur tahun 2009. Kebijakan ini 
adalah tindak lanjut program pemangkasan anggaran untuk mengantisipasi dampak 
krisis keuangan. Berbagai pihak menyayangkan kebijakan tersebut. 
Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Departemen Pertanian Hilman 
Manan, Rabu (15/10) di Jakarta, mengungkapkan, rasionalisasi anggaran untuk 
infrastruktur pertanian itu belum ditetapkan besarannya. 
”Kami tengah mempersiapkan penghitungan ulang alokasi anggaran,” kata dia. 
Menurut Sekjen Departemen Pertanian Hasanuddin Ibrahim, rasionalisasi anggaran 
tersebut masih menunggu pembahasan pengurangan anggaran di tiap departemen dan 
lembaga pemerintah nondepartemen. ”Jadi, kita masih menunggu pembahasan di 
tingkat Menteri Keuangan dengan departemen dan lembaga pemerintah,” katanya. 
Hilman menjelaskan, tahun 2009 rencana alokasi anggaran infrastruktur pertanian 
di bawah pengelolaan Direktorat PLA sebesar Rp 1,1 triliun. Idealnya Rp 2 
triliun. 
Rencana alokasi Rp 1,1 triliun itu pun, menurut Hilman, akan dipangkas karena 
pemerintah menginginkan program efisiensi. 
Program pembangunan yang dilakukan Direktorat PLA terbagi atas tiga aspek, 
yaitu pengelolaan lahan, pengelolaan air, dan perluasan areal. 
Pengelolaan lahan meliputi optimalisasi dan konservasi lahan. Adapun 
pengelolaan air meliputi pembangunan jaringan irigasi tingkat usaha tani, 
irigasi desa, pembangunan tata air mikro, irigasi tanah dangkal, tanah dalam, 
irigasi bertekanan, irigasi tetes, irigasi air permukaan, dan irigasi 
partisipatif. Ada juga pembangunan embung, dam parit, sumur resapan, balai 
subak, pompa hidran, dan sekolah lapang. 
Sementara aspek perluasan areal meliputi perluasan sawah, pembukaan areal 
nonsawah, dan pembuatan areal nonsawah. 
Langkah mundur 
Menanggapi kebijakan memangkas anggaran untuk infrastruktur pertanian, Ketua 
Umum Wahana Masyarakat Tani Indonesia Agusdin Pulungan menyatakan hal itu 
sebagai langkah mundur pembangunan pertanian. 
Infrastruktur pertanian, khususnya irigasi, menurut Agusdin, terkait erat 
dengan upaya meningkatkan pendapatan petani. ”Irigasi yang baik akan mendukung 
peningkatan produktivitas,” ujarnya. 
Hal senada dikemukakan Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan 
Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo. Ditegaskan, perluasan lahan pertanian dan 
pembangunan irigasi adalah kunci pembangunan pertanian dalam mendukung 
ketahanan pangan. 
Hasanuddin pun berpendapat sama. Pada prinsipnya, perawatan, perbaikan, dan 
pembangunan infrastruktur dasar merupakan prioritas. 
Tanpa melaksanakan program itu, program pembangunan pertanian tak bisa 
dilaksanakan optimal, seperti program pengembangan usaha agrobisnis pedesaan, 
lembaga mandiri dan mengakar di masyarakat, serta program pembiayaan pertanian. 
(MAS) 
  
  
* * * * * 
“Tanah kosong dapat menghasilkan banyak makanan untuk oang miskin,
tetapi ketidakadilan menyebabkan tanah itu tidak dikerjakan.” 
[Proverbs] 
* * * * * 
------- 
  
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
  
Best Regards, 
Retno Kintoko 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke