=======================================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun Demokrasi, Kebangsaan dan Pruralisme Indonesia."  
======================================================= 
[Democration, Nationalism and Pruralism Indonesia Quotient] 
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL  
MENYAMBUT 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA  
  
Drugov dan Watak Kebangsaan 

Senin, 20 Oktober 2008 | 01:04 WIB 
Oleh : Subhan SD. 
Ketika sejumlah pelajar Indonesia asyik memainkan lagu Rayuan Pulau Kelapa 
dalam alunan musik kolintang pada pembukaan Indonesia Expo di Kedutaan Besar 
Indonesia di Moskwa akhir September lalu, seorang lelaki tiba-tiba berdiri dan 
menyanyikan lagu ciptaan Ismail Marzuki itu dalam bahasa Rusia. 
Pria itu, Prof Dr Alexey Drugov, merasa selalu rindu Indonesia. Maka, saat 
mendengar alunan musik kolintang, ia meminta pengeras suara. Tanpa sungkan, ia 
bernyanyi di hadapan ratusan undangan. Kerinduannya kepada Indonesia tak 
terungkapkan dengan kata-kata. Kedekatannya dengan Indonesia hanya bisa 
dirasakan di dada. Drugov yang mahir berpantun itu adalah salah satu benang 
sejarah hubungan Indonesia dan Rusia. 
Oleh karena itu, ia melakukan penelitian tentang Indonesia, khususnya sejarah 
politik. Guru besar dan peneliti utama pada jurusan bahasa dan sejarah di 
Lembaga Ketimuran Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia sejak tahun 1960 ini 
melahirkan sejumlah buku (dalam bahasa Rusia) mengenai sejarah dan politik 
Indonesia modern, terutama terkait dengan rezim penguasa di Indonesia. Studi 
itu dia lakukan secara intens sejak zaman Demokrasi Terpimpin hingga kini. 
Menurut Drugov, sejak reformasi menjadi panglima dalam 10 tahun terakhir, 
terlalu banyak tuntutan yang ditimpakan di pundak pemimpin Indonesia. Sosok 
pemimpin diharapkan segera menyelesaikan semua persoalan yang membelit sejak 
negeri ini dilanda krisis ekonomi. Padahal, problem bangsa Indonesia begitu 
kompleks sehingga tugas itu tak mudah. 
”Baru saja bangsa Indonesia memasuki sistem demokratis. Bukan hanya Presiden 
Yudhoyono, siapa pun tak akan sanggup (menangani problem bangsa yang kompleks). 
Seharusnya semua pihak punya tanggung jawab,” kata ayah satu anak dan kakek dua 
cucu ini. 
Butuh waktu lama 
Dari potret presiden yang telah memimpin Indonesia, sebenarnya bisa dengan 
mudah ditarik pelajaran. Fenomena Soekarno sungguh menarik karena bisa diamati 
bagaimana tokoh itu tampil jaya, kemudian tumbang serta bangkit kembali dalam 
pemikiran-pemikirannya. 
Menurut Drugov, Soeharto memiliki hubungan dengan upaya pemberangusan banyak 
orang pada masa Orde Baru. Sedangkan BJ Habibie terkenal pintar, tetapi dikenal 
dekat dengan Soeharto. Baginya, Presiden Abdurrahman Wahid adalah bukti Islam 
yang demokratis. Sedangkan Megawati Soekarnoputri memiliki hubungan dengan 
pemikiran Soekarno. 
Bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono? Kata Drugov, Yudhoyono tidak hanya 
memikirkan kemajuan ekonomi, tetapi ia juga memerhatikan sisi kepribadian atau 
watak bangsa. 
Memang, tambahnya, sebagai sebuah bangsa, kemajuan di bidang ekonomi menjadi 
sasaran utama. Bagaimanapun, kesejahteraan rakyat adalah cita-cita luhur dari 
sebuah entitas yang mengikat diri sebagai bangsa. Namun, bangsa itu akan maju 
jika fondasinya, watak kebangsaannya kuat. 
Jika mengejar salah satu di antaranya, yang terjadi adalah ketimpangan. Bangsa 
yang timpang justru akan mudah terpuruk. Bangsa itu menjadi rentan akan ancaman 
atau gangguan. Runyamnya, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bangkit. 
Oleh karena itu, Drugov yang tak mampu menahan diri untuk ikut bernyanyi bila 
mendengar lagu Bengawan Solo ini mengingatkan, pembangunan ekonomi dan watak 
bangsa Indonesia haruslah seiring sejalan. Pembangunan yang terlalu 
berorientasi pada sendi-sendi ekonomi sebagaimana digencarkan pada masa Orba 
ternyata berfondasi keropos dan mudah rapuh. 
”Ketika krisis, justru Indonesia yang terkena paling dahsyat di Asia Tenggara,” 
kata lelaki yang meraih gelar doktor pada tahun 1999 ini. 
Begitu juga sebaliknya, bila pembangunan watak tak diimbangi pembangunan 
ekonomi sebagaimana pada masa Orde Lama, kekuatan bangsa pun mudah terkoyak. 
Kepercayaan terhadap pemimpin dengan mudah goyah dan ujung-ujungnya menyisakan 
problem besar. Ini sebagaimana dialami Indonesia pada pertengahan tahun 
1960-an. 
Menjadi juru bahasa 
Sejarah Indonesia, bagi Drugov, tak ubahnya bagian sejarah hidupnya. Wajarlah 
bila kerinduannya dengan Indonesia begitu tinggi. Apalagi, karena ia pernah 
berhubungan langsung dengan para tokoh Indonesia. 
Persinggungannya dengan tokoh-tokoh Indonesia pada masa lalu terjadi ketika ia 
menjadi juru bahasa misi militer Uni Soviet di Indonesia selama tahun 1962- 
1964. Saat peta politik Indonesia memanas itu, ia tinggal di Jakarta. Ia 
menjadi saksi pergolakan politik dan ideologi tiga titik: nasionalis, agama, 
dan komunis. 
Ketika itu, ia menjadi salah satu kunci komunikasi kemesraan antara Indonesia 
dan Uni Soviet. Setiap kali pejabat Uni Soviet bertemu dengan petinggi 
Indonesia, dialah yang menjadi penerjemah. Sampai sekarang pun ia masih 
terkenang saat menjadi juru bahasa bagi Presiden Soekarno, Jenderal AH 
Nasution, Jenderal Ahmad Yani, Laksamana RE Martadinata, dan Marsekal Omar 
Dhani. 
”Waktu itu banyak tokoh Soviet datang dalam rangka Trikora,” kata Drugov. 
Sebelumnya, karena punya kemampuan berbahasa Indonesia, Drugov menjadi juru 
bahasa saat Festival Pemuda digelar di Moskwa tahun 1957. Salah satu pemuda 
yang datang kala itu, seingatnya, adalah penyair WS Rendra. 
Tahun 1961-1962 ia menjadi juru bahasa perwira Angkatan Laut RI yang belajar 
tentang kapal selam di Vladivostok. Ia menjadi saksi kerja sama militer kedua 
negara saat pelatihan, tentang persenjataan, tank, hingga pesawat tempur 
seperti Sukhoi didatangkan ke Indonesia. 
Ketertarikannya pada studi Indonesia sesungguhnya tanpa sengaja. Kala itu, saat 
komunisme dengan sistem yang kaku tak memungkinkannya memilih studi sesuai 
minatnya, studi jurusan Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sudah ditentukan 
kampusnya, Moscow Institute of Foreign Relations yang berada di bawah 
Departemen Luar Negeri Uni Soviet pada tahun 1954. 
Ketika itu, kenang Drugov, orang yang belajar bahasa Indonesia hanya sedikit, 
lima-enam orang Rusia, satu orang Ceko, seorang Jerman Timur, dan seorang 
Tionghoa. Siswa asal Jerman Timur, Gunther Galich, lalu menjadi Dubes Jerman 
Timur di Indonesia. 
Kini, teman-teman seangkatan Drugov yang mampu memahami Indonesia, baik dalam 
bahasa maupun peta politik, semakin sedikit. Orang-orang lama di masa yang 
melambangkan romantika hubungan Indonesia-Uni Soviet kian berkurang. 
Kalau saja ada yang bisa dipetik dari sejarah, betapapun kelamnya, mestinya 
bisa memunculkan tunas-tunas yang mampu menjalin hubungan baru di antara kedua 
bangsa. Itulah pula yang menjadi kerinduan Drugov. 


Biodata 
Nama: Alexey Drugov 
Lahir: Moskwa, 12 April 1937 
Istri: Natalia 
Pendidikan: Moscow Institute of Foreign Relations, jurusan Bahasa Indonesia 
Pekerjaan: Guru besar di Lembaga Ketimuran Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia 
Buku: 
1. ”Indonesia dalam Masa Demokrasi Terpimpin”, 1969 
2. ”Indonesia Sesudah 1965”, 1972 
3. ”Rezim Politik di Indonesia”, 1987 
4. ”Rezim dan Budaya Politik Indonesia”, 1998 
5. ”Indonesia” (buku ajar untuk mahasiswa), 2005 
6. ”Indonesia Zaman Reformasi 1987-2006”, masih dalam proses 
  
  
* * * * * 
Antusias adalah aset paling besar di dunia ini. 
Antusias bisa mengalahkan uang, kekuasaan, dan pengaruh 
[ Henry Chestor ] 
* * * * * 
  
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
  
Best Regards, 
Retno Kintoko 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke