> IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 'Khayalan' yang terinspirasi (diangkat)
> dari kisah nyata? Memulai suatu fiksi
> jauh lebih sulit daripada mengungkapnnya
> dalam bentuk lain, toh..
> 

Itu bukanlah fiksi yang berasal dari kisah nyata, karena kalo fiksi
diambil dari kisah nyata tidak pernah kita sebut "fiksi" lagi.  Stupid
bukan ???  apa sih artinya "fiksi" ???  dan apa artinya "Nyata" ???

Apa yang diceritakan Billy itu adalah adanya penipuan yang nyata
tetapi bukti2nya tidak nyata.  Penipuan selalu menyebabkan yang
tertipu dirugikan.  Artinya ada yang dirugikan tetapi untuk menuduhnya
sebagai penipuan ternyata tidak ada bukti2nya, oleh karena itulah si
Billy menjelaskan bukti2nya sebagai rangkaian khayalan dimana petugas
hukum dalam hal ini wajib meneliti rangkaian khayalan ini untuk lebih
disempurnakan agar bisa melengkapi tuntutan.

Beda sekali dengan pemerkosaan amoy2, jelas2 fakta, jelas2 ada
bukti2nya, semuanya bukan fiksi dan bukan khayalan.  Tapi karena
diracuni kepercayaan Islam, maka direkayasalah khayalan justru untuk
menghilangkan bukti2nya sehingga lahirlah berita2 bahwa pelaku
pemerkosaan massal itu bukanlah umat Islam ternyata umat Kristen yang
pandai berteriak Allahuakbar untuk menodai umat Islam, celakanya,
ternyata kalo memang benar ada umat Kristen yang menodai agama Islam
wajar2nya khan ditangkap sebagai bukti dan diadili, ternyata tidak
ditangkap malah dilindungi.  Merasa khayalannya kurang sempurna,
direkayasa baru lagi bahwa pelakunya adalah rambut cepak berbadan
tegap yang maksudnya anggauta ABRI.  Tapi inipun kemudian terlambat
disadarinya karena mencemarkan ABRI dan juga Islam, akhirnya karena
sudah mati kutu enggak bisa mengkhayal lagi, dikatakanlah bahwa
pemerkosaan tidak pernah ada, dan bukti2 penjarahan toko2 cina secara
massal dianggaplah sebagai bencana alam yang datang dari Allah yang
marah kepada orang2 Cina yang menolak menyembah Allah tetapi tetap
masih menyembah patung dewi Kwan-Im yang sexy molek yang malah
sekarang lagi mau digusur dan dihancurkan dengan RUU Pornografi.

Yang namanya khayalan seharusnya cukup sebatas hiburan saja jangan
malah dijadikan kenyataan.  Dewi Kwan-Im yang tidak berjilbab cukup
dikhayalkan berjilbab atau berburqa sehingga tak perlu benci lagi
karena dewi Kwan-Im ternyata sudah mau masuk Islam meskipun tidak bisa
menyembah Allah karena cuma patung saja.

Kalo anda percaya bahwa Syariah Islam harus ditegakkan, maka
tegakkanlah cuma dalam khayalan sehingga tidak terjadi malapetaka,
celakanya justru sebaliknya umat Islam malah mengkhayalkan sesama
Islam sebagai bukan Islam, murtad, dan kafir, akibatnya rekayasa
khayalan yang salah membawa malapetaka yang sebenarnya.

Inilah yang kita namakan Islam sebagai agama Celaka, agama Malapetaka,
agama Terror, dan agama Kebencian.  Kesemuanya ini hanyalah disebabkan
persepsi realitas yang salah dan pembentukan khayalan yang salah
meskipun kepercayaannya benar2 Islam sejati.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke