--- In [EMAIL PROTECTED], "arief budi setyawan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:


--- In [EMAIL PROTECTED], "setyawan_abe" setyawan_abe@ wrote:


--- In [EMAIL PROTECTED], "Maya Dwilestari" darimaya@ wrote:

Saat ini empat dari sepuluh desa di Kecamatan Parung Panjang dan lebih
dari 200 anak telah mendapatkan manfaat dari program Malnutrition
Rehabilitation, suatu program yang digagas ACT bersama BAMUIS BNI
untuk atasi bencana kemanusiaan Gizi Buruk yang sedang mengancam
negeri ini. Setelah melewati tahap pelatihan relawan pendamping
program dan diagnosa awal kondisi gizi anak-anak sekaligus pemberian
bantuan pangan bergizi yang masih berlanjut sampai sekarang, program
ini pun telah resmi diluncurkam (26/08). Bertempat di Lapangan desa
Jagabita, Parung Panjang peresmian program ini dihadiri oleh Imam
Akbari, Direktur Partnership and Communications ACT, Drs. H. Armen
Rasyid, MM mewakili BAMUIS BNI   serta dr. Nulis Arif, Kepala
Puskesmas Kecamatan Parung Panjang.

Empat desa yang menjadi sasaran program ini antara lain desa Parung
Panjang, Jagabita, Kabasiran dan desa Cibunar. Bu Uun, relawan ACT di
Parung Panjang yang turut menggawangi program ini berujar, "Harapan
warga, program ini dapat merambah seluruh desa di Kecamatan Parung
Panjang. Kami pun berterima kasih pada semua donatur dan InsyaAllah
program ini telah membantu warga bangkit dari ketidaktahuan mengenai
gizi menjadi paham dan bisa berikan gizi yang terbaik untuk anak-anak
mereka," ujar Bu Uun.

Isu gizi buruk yang merebak harusnya cukup mengetuk hati kita untuk
peduli, marilah kita contoh Erni Yunita Ristiani(40), ibu rumah tangga
di desa Cibunar Parung Panjang ini amat gembira karena ikut dilibatkan
menjadi relawan pendamping gizi buruk. "Selama enam tahun tinggal di
Cibunar, saya merasakan susahnya hidup disini dan menyaksikan sendiri
kondisi warga yang hidupnya serba sulit, sulit air, sulit
perekonomiannya, semuanya serba sulit," tutur wanita yang bersuamikan
supir taksi ini prihatin.

" Saya senang sekali saat bu Uun datang dan mengajak saya bergabung
dengan ACT menjadi relawan pendamping untuk program ini. Walaupun saya
hanya bisa menyumbangkan tenaga dan belum bisa bantu melalui dana saya
sangat bersyukur bisa turut membantu," tambah Erni.
Erni pun berbagi cerita tentang Iwan, salah seorang anak yang
didampinginya dalam program Malnutririon Rehabilitation, " Dalam
sepekan saya bisa mengunjungi anak-anak gizi kurang atau buruk ke
rumahnya sebanyak dua sampai tiga kali, dan saya merasa haru sekaligus
miris saat bertandang ke rumah mereka. Seperti Iwan misalnya, jika
dari jauh dia sudah melihat saya, dia pasti teriak memanggil nama saya
dan berujar `asyik dapat susu!'', ungkap Erni terharu.

Nampaknya bagi Iwan yang sedari kecil sudah mengidap polio dan hanya
berbobot 12 kilogram di usianya yang sudah 12 tahun, susu menjadi
barang yang amat langka. Bisa jadi susu yang diberikan melalui donasi
para donatur ACT dan BAMUIS BNI inilah susu yang senantiasa Iwan
nantikan dan butuhkan untuk tumbuh kembangnya.

TIdak jauh beda dengan Erni, Siti Rahayu relawan pendamping di desa
Kabasiran mengungkapkan keharuannya ketika terjun ke lapangan
mendatangi satu per satu anak-anak dengan gizi kurang dan buruk. " Ada
salah satu keluarga yang saya dampingi memonitor kondisi anaknya yang
bergizi buruk, keluarga ini sangat papa dan hanya mengandalkan sawah
tadah hujan sebagai penghidupan, tetapi dengan segala kekurangan yang
mereka hadapi, mereka malah menghadiahi saya dengan hasil taninya yang
seadanya sebagai ungkapan terima kasih," kenang ibu rumah tangga yang
kerap dipanggil Yayuk ini.

Ucapan terima kasih pun meluncur dari Yayuk bagi seluruh donatur,
terutama ACT dan BAMUIS BNI  atas kepeduliaannya membantu warga
Kecamatan Parung Panjang mengatasi gizi buruk.
Ternyata gizi kurang dan buruk tidak selalu terkait dengan rendahnya
tingkat perekonomian suatu keluarga, hal ini ditegaskan oleh Yayuk
saat menemukan kasus gizi buruk yang terjadi pada keluarga yang sudah
mapan secara ekonomi di desanya.

Nampaknya pengetahuan dan sosialisasi tentang gizi dan kesehatan anak
harus dibumikan di negeri ini, sehingga muncullah keluarga-keluarga
cerdas dan bebas dari gizi buruk atau kurang. Maka, mari terus berbagi
dan berhati serta hidupkan semangat kepedulian terhadap sesama.

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---

--- End forwarded message ---


Kirim email ke