--- In [EMAIL PROTECTED], "Made Teddy Artiana"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

*BICARA BAIK ATAU DIAM*
Posted by Gede Blue on 2003-05-05  Oleh: Gede Prama

Ada sejenis kecemburuan tersendiri kalau saya melihat seorang pelukis
sedang
melukis. Melalui kegiatan bercakap-cakap dengan diri sendiri, seorang
pelukis kemudian mengungkapkan hasil percakapan tadi ke dalam sebuah
lukisan. Sehingga bagi siapa saja yang cukup peka untuk memaknai karya
seni,
ia bisa menerka percakapan apa yang terjadi di balik banyak lukisan.

Agak berbeda dengan pelukis di mana lukisanlah salah satu hasil
percakapannya dengan diri sendiri, kita manusia biasa memiliki juga
hasil
dari percakapan panjang kita bersama diri sendiri. Dan hasil yang paling
representatif adalah badan yang kita bawa kemana-mana selama hidup. Atau
kalau mau lebih dalam, jiwa adalah salah satu hasil lain dari percakapan
jenis terakhir ini.

Dilihat dalam bingkai berpikir seperti ini, hidup ini isinya serupa
dengan
kegiatan melukis. Bedanya dengan pelukis, kita sedang melukis diri kita
sendiri. Mirip dengan pelukis, ada aspek yang disengaja ada juga aspek
yang
tidak disengaja. Dan percakapan adalah kuas, kertas, warna yang menjadi
bahan-bahan kita dalam melukis. Dalam tingkat penyederhanaan tertentu,
apapun yang kita percakapkan dengan diri sendiri akan memberikan warna
terhadap lukisan (baca : wajah) kita sendiri.

Coba Anda perhatikan orang-orang yang suka sekali bicara negatif. Dari
ngerumpi kejelekan orang lain, iri, dengki, menempatkan orang lain dalam
posisi tidak pernah benar, sampai dengan suka berkelahi dengan banyak
orang.
Perhatikan badan dan sinar mukanya, bukankah berbeda sekali dengan orang
lain yang percapakannya lebih banyak berisi hal-hal yang positif ?

Lebih dari sekadar memiliki wajah berbeda, orang yang isi percakapannya
hanya dan hanya negatif, juga berhobi memproduksi penyakit yang akan
dihadiahkan pada tubuhnya sendiri. Berbagai jenis penyakit siap
menawarkan
diri secara amat suka rela kepada orang-orang jenis ini. Dari penyakit
fisik
sampai dengan penyakit psikis. Di luar kesengajaan mereka, atau
bersembunyi
di balik 'kesenangan' sesaat, orang-orang seperti ini sedang memukul,
menusuk dan bahkan menghancurkan badan dan jiwanya. Kalau kemudian
lukisan
kehidupannya berwajah hancur lebur, tentu bukan karena sengaja
dihancurkan
orang lain.

Dalam bingkai renungan seperti ini, layak dicermati kembali bagaimana
persisnya kita bercakap-cakap dengan diri sendiri setiap harinya. Entah
ketika di depan cermin, entah tatkala berhadapan dengan banyak perkara,
entah di manapun kita selalu bercakap-cakap dengan diri sendiri. Tidak
hanya
sejak bangun pagi sampai tidur malam kita melakukan percakapan, bahkan
ketika tidurpun kita bercakap-cakap dengan diri sendiri.

Kalau semuanya bisa digerakkan dari tataran kesadaran semata, semua
orang
hanya mau bercakap-cakap yang positif saja. Sayangnya, kekuatan di balik
percakapan tidak saja berada di wilayah kesadaran. Ia juga berakar dalam
pada wilayah-wilayah di luar kesadaran. Di sinilah letak tantangannya.
Orang-orang yang terlalu lama memformat lukisannya dengan
percakapan-percakapan negatif, tentu dihadang tantangan yang lebih
besar.
Demikian juga sebaliknya.

Akan tetapi, seberapa besarpun tantangannya, pilihan diserahkan ke kita,
akankah kita membuat lukisan diri sendiri yang berwajah indah, atau
bopeng
mengerikan di sana-sini. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,
percakapan memang kendaraan yang amat menentukan dalam hal ini.

Seorang sahabat jernih pernah memberikan pedoman amat sederhana dalam
hal
ini : speak good, or be silent. Bicaralah hal-hal yang baik saja, kalau
tidak bisa diamlah. Tampaknya terlalu sederhana, tetapi menangkap esensi
yang paling esensi. Sekaligus memberikan kompas, ke arah mana perjalanan
percakapan sebaiknya dilakukan.

Tertawa tentu saja boleh dan bahkan sehat. Namun tertawa dengan cara
mentertawakan kekurang fisik orang lain tentu saja layak untuk
dikurangi.
Waspada dan hati-hati juga tidak salah, namun curiga apa lagi menuduh
orang
lain tanpa bukti mungkin perlu rem yang menentukan dalam hal ini.
Demikian
juga ketika melihat kekurangan orang lain, atau juga kekurangan diri
sendiri. Serakah misalnya, kenapa tidak dibelokkan menjadi serakah
belajar
dan berusaha. Kebiasaan mumpung sebagai contoh lain, mumpung berkuasa
kenapa
tidak segera menjadi contoh dari hidup yang lurus dan bersih. Iri hati
juga
serupa, bisa saja energi-energi iri hati digunakan sebagai mesin
pendorong
kemajuan yang amat menentukan. Bentuk tubuh yang tidak menarik sebagai
contoh lain, kenapa tidak digunakan sebagai cambuk untuk mengembangkan
kecantikan dari dalam diri.

Dari serangkaian contoh ini, yang diperlukan sebenarnya kesediaan untuk
senantiasa berdisiplin di dalam diri. Terutama disiplin untuk mendidik
mulut
dan pikiran, serta membelokkan setiap energi negatif ke tempat-tempat
yang
lebih produktif. Kalau ada yang menyebutnya susah, tentu saja tidak
salah.
Karena mirip dengan lukisan indah yang senantiasa dihasilkan pelukis
dengan
penuh perjuangan, demikian juga dengan lukisan kehidupan. Kita hanya
perlu
mengingat sebuah kalimat sederhana : bicaralah yang baik, atau diam
sekalian. Dan atas rahmat Tuhan lukisan kehidupanpun mungkin berwajah
lebih
menarik. Setidaknya, itulah yang sedang saya percakapkan dengan sang
diri
ketika tulisan ini dibuat.

***

--
warm regards,
Made Teddy Artiana
photographer, graphic designer & multimedia developer
THE CAMPUHAN
email. [EMAIL PROTECTED]

Photo Galery
# Commercial Photography #
http://companyprofile.multiply.com
http://withbobsadino.multiply.com

# Wedding Special Photography #
Pernikahan Agung Puteri Sri SUltan Hamengku Buwono X
GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA
http://nurkamnaridewi.multiply.com

# Wedding Photography #
http://prewedding3.multiply.com
http://prewedding2.multiply.com
http://prewedding.multiply.com
http://outdoorprewedding.multiply.com
http://candidwedding.multiply.com
http://weddingcandid.multiply.com
http://weddingceremony.multiply.com

# Jurnalism Photography #
http://fotojalanan.multiply.com

CONTACT US
Esia. 96202505
Flexy. 70820318
mobile 0815 740 900 80 - 0813 178 227 20

--- End forwarded message ---


Kirim email ke