=================================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
Seri : "Membangun Spirit, Demokrasi,
Nasionalisme, Kebangsaan dan pruralisme Indonesia."
=================================================
[Spiritualism, Nationalism Democration & Pruralism Indonesia Quotient]
MEMPERINGATI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
MERAYAKAN 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA
DIRGAHAYU 63 TH HARI PAHLAWAN
Moral, Integritas dan Teladan Pemimpin Indonesia
Moralitas, integritas, kejujuran, komitmen yang tinggi terhadap amanah rakyat
menjadi prioritas setiap pemimpin politik dan pejabat publik di Indonesia. Kita
tidak bisa membayangkan apabila faktor di atas diabaikan, terabaikan, dilupakan
bahkan tidak dianggap penting oleh para pemimpin politik dan pejabat publik
negeri ini. Pengalaman sejarah panjang perjalanan pemerintahan Indonesia selama
63 tahun sejak kemerdekaan, menujukkan masih rendahnya kesadaran visi akan
kesatuan Indonesia ini milik seluruh rakyat Indonesia yang utuh dan bulat.
Keteladanan regenerasi berjalan baik baru setingkat pejabat kementrian dan
lembaga tinggi negara, namun untuk pimpinan puncak, presiden Indonesia, secara
moral dan integritas masih terjadi terputus-putus, hampir setiap pergantian
presiden tidak pernah ada keharmonisan hubungan dengan penggantinya. Padahal
rakyat selain ingin meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan kehidupannya juga
ingin memperoleh teladan perilaku dan
moral yang baik dari pemimpinnya. Apalagi ini berhubungan dengan estafet
kepemimpinan sebuah negara yang besar, Indonesia.
Beberapa tulisan di bawah menarik untuk disimak, agar dapat meminimalisir apa
yang tidak perlu terjadi lagi di Indonesia saat ini dan ke depan.
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!
Best Regards,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
--------
Politik Tanpa Moral Lahirkan "Serigala"
Syafii: Politik di Indonesia Kekurangan Pelaku Berjiwa Besar
Minggu, 23 November 2008 | 08:37 WIB
Yogyakarta, Kompas - Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta Ahmad
Syafii Maarif mengemukakan, praktik politik tanpa dilandasi moral dan
integritas pelakunya hanya akan melahirkan ”serigala-serigala” yang akan saling
memakan. Tanpa moral dan integritas pelakunya, politik takkan menjadi sarana
mewujudkan cita-cita kesejahteraan umum.
”Praktik politik pada kenyataannya adalah homo homini lupus. Kalau dilepas sama
sekali tanpa moral sebagai inti ajaran setiap agama, dunia politik hanya akan
dipenuhi ’serigala-serigala’,” ujar Syafii dalam seminar nasional ”Peranan
Politik Katolik 1940-1980: Menjadi 100 Persen Indonesia dan 100 Persen Katolik”
di Universitas Sanata Darma, Yogyakarta, Sabtu (22/11).
Lebih lanjut, Syafii mengemukakan, dengan adanya tuntutan moral dan pelaku
politik, tidak berarti agama lantas mentah- mentah masuk dalam praktik politik.
Penyalahgunaan agama dalam praktik politik sebagai ekstrem sebaliknya membawa
akibat yang sama buruknya. Moral dalam politik ibarat rem dalam kendaraan.
Selain moralitas, Syafii melihat praktik politik di Indonesia dalam sejarah
panjangnya selalu kekurangan pelaku-pelaku yang berjiwa besar dan berlapang
dada. Karena ini, hubungan antarpemimpin selalu memburuk, seperti terlihat
antara Soekarno-Soeharto, Soeharto-Habibie, dan terakhir Yudhoyono-Megawati.
”Bayangkan, sampai kini mereka tidak saling berteguran,” ujarnya.
Pembicara lain pada seminar dalam rangka memperingati ulang tahun Ikatan
Sarjana Katolik (ISKA) itu adalah anggota Fraksi PDI-P di DPR Aria Bima, dosen
pascasarjana USD Budi Subanar SJ, dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St
Sularto.
Aria mengemukakan, dalam politik, selain moral, dibutuhkan juga integritas dari
para pelakunya. Integritas itu akan membuat politisi mampu menghindari
penyimpangan, seperti saling makan dalam kasus aliran dana Bank Indonesia yang
melibatkan banyak anggota DPR.
Namun, tuntutan moral dan integritas yang tinggi itu, menurut Aria, tidak cukup
dijawab oleh semua partai politik dan pelakunya. Aria melihat, persiapan atau
prakondisi sekitar 21.000 orang yang mencalonkan diri sebagai anggota
legislatif seluruh Indonesia tidak memadai.
”Minimnya intergitas ditambah belum berubahnya iklim Orde Baru dalam lembaga
legislatif di tengah tuntutan transparansi membuat banyak politisi seperti
terjebak. Kasus aliran dana BI dan Astro menunjukkan hal itu,” ujar Aria.
Untuk itu, selain mensyaratkan moralitas dan integritas politisi, Aria
mensyaratkan perubahan mekanisme kerja di lembaga legislatif sesuai tuntutan
reformasi yang mengharuskan transparansi dan akuntabilitas. Untuk itu, Aria
mengharapkan publik bisa memantau secara luas proses politik dan penganggaran
di DPR.
Sebagai peneliti, dosen, dan juga rohaniwan Katolik, Subanar menyoroti
mundurnya sejumlah upaya Gereja Katolik dalam politik kebudayaan di zaman yang
serba terbuka seperti saat ini. Kemunduran juga terjadi di dalam Gereja Katolik
sendiri. Upaya inkulturasi Gereja Katolik di Indonesia yang sudah maju
melampaui sekadar upaya adaptasi dan penerjemahan ajaran terserat mundur. (INU)
-----
Perilaku Politik
Perlu Keteladanan Pemimpin Politik
Senin, 24 November 2008 | 01:13 WIB
Jakarta, Kompas - Para pelaku politik mesti mampu becermin dan mencerna kritik
Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta Ahmad Syafii Maarif tentang
peran perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan.
”Dunia politik harus secara sadar dan sistematis diusahakan menjadi sarana
perjuangan, bukan sekadar rebutan kekuasaan atau bahkan untuk saling memakan.
Para tokoh politik harus bersedia menjadi teladan dalam bersikap dan
berperilaku secara matang dan dewasa,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai
Demokrat Anas Urbaningrum, Minggu (23/11).
Menurut Anas, keteladanan para tokoh politik diperlukan terkait dengan
kompetisi politik. Siap kalah dan siap menang bukan semata-mata menjadi slogan
deklarasi, tetapi juga harus ditepati dengan setia. ”Kalau para tokoh politik
mampu dewasa, proses pendidikan dan pendewasaan politik di tingkat massa akan
berjalan baik. Namun, kalau kekanak-kanakan, jangan harap akan lahir pematangan
budaya demokrasi,” ujarnya.
Soal keteladanan, tokoh dan elite politik memang tidak mudah. Perjalanan bangsa
selama ini dan banyaknya kompetisi politik di Indonesia akhir-akhir ini dalam
pemilihan umum menunjukkan ketidakmudahan itu. Syafii menyebut tidak saling
bertegursapanya Soekarno-Soeharto, Soeharto-Habibie, dan Yudhoyono-Megawati
sebagai contohnya. Jiwa besar dan sikap berlapang dada masih sangat jarang
ditemui dalam perilaku politik para elite dan tokoh politik.
Tanggapan sedikit berbeda disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan Pramono Anung. Menurut dia, komunikasi verbal dalam arti
tegur-sapa seperti diharapkan Syafii mungkin tidak tampak di permukaan.
Namun, sejatinya, untuk hal-hal terkait dengan kepentingan bangsa, tanpa
tegur-sapa atau komunikasi verbal, para pemimpin di Indonesia bisa satu
pendapat dan suara. ”Itu terjadi juga antara Presiden Yudhoyono dan Ibu
Megawati,” ujarnya.
Pramono mengakui, komunikasi verbal dalam bentuk saling tegur-sapa, seperti
dikritikkan Syafii, memang masih menjadi persoalan di antara elite dan tokoh
politik di Indonesia. Namun, lewat pengalamannya, Pramono sangat yakin dan
percaya, ketika dihadapkan pada kepentingan bangsa yang sifatnya lebih besar,
para elite dan tokoh politik bisa bersama-sama meski partai dan posisi
politiknya berbeda. (INU)
--------
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3