--- In [EMAIL PROTECTED], "arief budi setyawan" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:


Tarbiyah Dzatiyah (Self Education)

Oleh. KH. Rahmat Abdullah



Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan:
formal) tanpa di barengi kemampuan seorang mutarabbi (anak didik) dalam
mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis,
sensitif dan bijak (hay, hassas, hakim). Cermatilah kecermelangan
tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri) tokoh-tokoh sejarah berikut.



Keluarga Nabi Ibrahim, AS.
Ummu Ismail tak berhasil mencari jawaban dari Nabi Ibrahim kenapa sang
suami tega meninggalkan mereka di lembah tak bertanaman, tanpa kerabat
dan bekal, kecuali sekantung makanan dan minuman untuk hari itu. Maka ia
mencoba mencari pertanyaan lain yang mencairkan segala yang beku,
membukakan segala yang buntu, dan memudahkan segala yang mustahil,
"Allah kah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini?" tanya Ummu Ismail.
"Ya," jawab Ibrahim. "Bila demikian, pastilah Ia tak akan menyia-nyiakan
kami", sahut Ummu Ismail.


Pada kondisi paling kritis dan dilematis itu, ia berhasil mengambil
keputusan terbaik. Padahal sangat manusiawi, bila ia meminta agar Allah
melimpahkan bahan makanan. Tapi yang dilakukan justru berdoa agar
keturunannya menegakkan shalat, agar sebagian umat manusia mencintai
mereka, baru kemudian ia minta agar Allah memberikan mereka rezeki
buah-buahan (QS. 14;37). Ia memang pemimpin visioner.
Atau betapa bijaknya Ismail alaihissalam ketika ayahnya mengungkapkan,
"Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu." Ismail menjawab,
"Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan
temukan daku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. 37:102)

Berbeda sekali dengan jawaban Yam bin Nuh yang telah menyaksikan langit
pecah menumpahkan air berderai-derai dan bumi membelah mengeluarkan
banjir bandang, lalu menjadi paduan ombak yang menggunung. Ternyata, ia
masih yakin dapat berlindung ke bukit dan enggan bergabung dengan
bapaknya dalam bahtera penyelamat (Qs, 11: 42-44). Inilah tanda
kegagalan tarbiyah dzatiyah dan dominasi pandangan khas materialisme,
yang di kurun ini kian merebak.


Nabi Yusuf, AS.
Ditengah paksaan isteri pembesar Mesir yang mengajaknya berbuat mesum,
Yusuf as menjawab, "Aku berlindung kepada Allah." Dan ketika isteri
pembesar Mesir memprovokasi suaminya untuk menjatuhkan hukuman berat
atau memenjarakannya, Yusuf mengajukan pembelaan yang sangat tegas dan
polos, "Dia yang merayu diriku." hal yang di belakang hari dijawabnya
dengan kata-kata yang lebih dewasa dan elegan.
Ketika raja memintanya datang ke istana karena kecemerlangan menta'wil
mimpi, Yusuf menyuruh sang utusan kembali untuk menanyakan kisah
wanita-wanita yang mengiris-iris jari mereka sendiri saat Yusuf
melintas. Maka ia tak perlu lagi mengatakan dia (isteri pembesar Mesir)
yang merayuku, justru isteri pembesar Mesir yang semula main penjara dan
siksa, kini mengaku bahwa ia yang merayu dan Yusuf menjaga diri.


Para Sahabat dan Tarbiyah Dzatiyah (Self Education)
Lembaran sejarah para sahabat juga memberikan bukti keberhasilan
tarbiyah dzatiyah. Disaat banyak anak-anak bangsa menjadi kolaborator
asing dan membenamkan negeri mereka ke kancah kehinaan, Ka'ab bin Malik
menjadi contoh paling orisinal bagi kesetiaan, kesabaran, introspeksi
diri dan kerendahan hati. Ia tidak tergiur oleh surat rayuan raja
Ghassan yang menawarkan suaka politik, "Kudengar bosmu memboikotmu,
padahal tak pernah engkau di (perlakukan) hina. Berangkatlah kepadaku,
nanti aku santuni (muliakan) engkau." (HR Bukhari, Muslim dll). Dengan
cepat ia bakar surat itu, "inilah dia bala' yang sebenarnya," katanya.


Atau Abu Rabi', pembantu urusan harian Rasulullah saw. Melihat
keseriusannya, Rasul menawarkan apa kiranya yang diinginkannya. As-aluka
murafaqata-ka fil Jannah (Aku meminta untuk tetap dapat menemanimu
didalam surga), pinta Abu Rabi. "Nah, bantulah aku untuk dapat
menolongmu, dengan banyak bersujud," jawab Rasulullah saw. Ia menuntut
sesuatu yang jauh diatas nilai-nilai bumi dan sang guru menyiratkan
jalan sejati menuju kebahagiaan sejati, suatu ungkapan bernuansa
tarbiyah dzatiyah.


Kegagalan Tarbiyah Dzatiyah
Beberapa episode perjalanan Bani Israel bersama Nabi Musa mengajarkan
kita betapa pentingnya tarbiyah dzatiyah. Mereka tahu kedatangan Nabi
Musa untuk misi penyeiamatan. Apapun yang mereka alami, kemenangan
adalah kepastian. Namun, mereka gagal (Qs. 7:128-129).


Tenggelamnya Fir'aun di laut dan selamatnya Bani Israel dari Fir'aun,
tak menyisakan setitikpun keraguan untuk memasuki Bumi Suci yang
dijanjikan (QS 5:20). Namun, peristiwa itu seperti terjadi tanpa kuasa
Allah. Mereka lebih memandang tubuh besar bangsa Amalek (raksasa) yang
menduduki Kota Suci daripada janji kemenangan dari Allah, Berita
tenggelamnya Fir'aun yang perkasa adalah kegemparan besar yang mampu
membuat siapapun lari tunggang-langgang menghadapi pengikut Nabi Musa.
Namun, mereka justru menyampaikan ungkapan dekil yang khas, agar Musa
dan Allah berperang disana, baru sesudah itu mereka masuk.


Karenanya, mereka dikutuk. Berputar-putar di padang Tih, 40 tahun tak
dapat memasuki kota suci yang dijanjikan. Allah masih memberikan mereka
perlindungan berupa awan yang menaungi mereka dari sengatan terik
matahari dan makanan instan Manna dan Salwa. Namun, baru beberapa saat
mereka sudah protes, "Hai Musa, kami tak bakal sabar menerima satu jenis
makanan. Karenanya berdo'alah untuk kami kepada tuhanmu, agar Ia
mengeluarkan untuk kami tumbuhan bumi. (Qs. Al-Baqarah: 61). Perhatikan,
bahasa apa yang mereka gunakan dihadapan nabi?.


Dimana Kita?
Kita adalah satu di antara dua profil berikut. Alkisah, dua pasang belia
membangun rumah tangga. Lepas walimah, sang suami pun harus berangkat
lagi membina kader-kader da'wah, kerja yang biasa dilakukan sampai larut
malam. Malam panjang tanpa suami pun menderanya, membungkusnya dalam
selimut sunyi lalu melemparnya dalam nyala bara yang menghanguskan
keindahan hari-hari madu mereka. Perangpun mulai berkecamuk, zauji au
da'wati? (Isteriku atau da'wahku?).


Dengan mantap sang da'i merangkum kata menang, "Adindaku, kita bertemu
di jalan da'wah. Allah melimpahkan kebahagiaan kepada kita dengan
membimbing langkah kita ke da'wah yang diberkahi-Nya. Haruskah kita
meninggalkannya, sesudah kekuatan kita bersatu dan bertambah untuk lebih
melipatgandakan kontribusi kita bagi da'wah? Jangan kita langgar janji
kita kepada-Nya, sehingga keturunan kita kelak akan tercerai-beraikan
oleh khianat kita."


Tahun-tahun da'wah silih berganti. Ketika bayang-bayang kejenuhan dan
kepenatan melintas, isteri tercintalah yang tak bosan-boson mengobarkan
semangat da'wah dan pantang menyerah. Sampai anak-anak mereka tak punya
fikiran menyuruh tamu-tamu menelpon di lain waktu karena ayahnya sedang
istirahat. Mereka berlomba membangunkannya. Ia jadi yakin, da'wahlah
yang membangunkannya bukan anak-anak yang berkolaborasi dengan tamu dan
penelpon yang tak tahu etika itu.


Profil yang satu lagi menghadapi hal yang sama, "isteriku atau dakwah?"
Satu jurus saja ia jatuh. Ketika dievaluasi, ia menangis dan bertekad,
hujan, guntur dan badai tak boleh lagi menghalanginya dari tugas da'wah.
Dan saat ia telah bersiap melaksanakan tekad dan ikrarnya, tiba-tiba
terdengar suara sang mertua. "Mertuaku atau da'wahku? Sekali lagi ia
tersungkur.


Tahun-tahun lewat berbilang, kedua profil ini bertemu, yang satu dengan
produk da'wah yang penuh berkah yang lain dengan kemurungan, dunia yang
membelenggu dan urusan keluarga yang tak kunjung selesai.


--- End forwarded message ---

Kirim email ke