--- In [EMAIL PROTECTED], "arief budi setyawan" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:



Halo sahabat,kadang kita bingung apa yang salah dengan hidup kita,namun
satu hal yang pasti bahwa segala jerih upaya kita selama ini terasa
semakin berat…

Kita membayangkan dulu waktu kita masih sekolah adalah masa-masa yang
membagahiakan, dan kita seolah-olah lupa, bahwa saat sekolahpun kita
semua mempikan untuk hidup yang sesungguhnya. .. dan kenyataan itu pahit
rasanya.

Kita seolah hidup seperti jalan di tempat, dan seolah dunia memaksa
kita.

Sering kita sendiri merasa serba kurang, serba banyak keinginan, dan
semakin tinggi kita menanjak dalam hidup, kita seolah kehabisan tenaga..

Beberapa akar permasalahan dalam hidup, suatu
kekeliruan yangs ering terjadi adalah:

1. Hidup adalah untuk mencapai apa yang kita
inginkan..

dan kita seolah tanpa henti berdegup jantung kita
menonton acara TV lengkap dengan iklannya, sang
Pangeran yang nun jauh disana seolah terlalu tinggi untuk dijadikan
target, dan kita menjadi tokoh gadis
yang merana merenungi nasib, menunggu nasib tiba
waktunya sang Pangeran menjemput kita.

Dan keinginan-keinginan ini semakin membara, seolah hidup dibaktikan
untuk belanja. Nafsu dorongan belanja hampir mengalahkan Nafsu untuk sex
dan Nafsu untuk makan.

Hingga sempat kita pikir, adakah ATM isi ulang yang saldonya banyak
nol-nya milik Sang Pangeran dari Timur Tengah yang dapat kita porotin,
untuk dapat dibelanjakan, wow tentu terasa sangat indah bila kita
mencapai Financial freedom.

Financial Freedom?

Bisakah kita mencapai hal itu?

Adakah saat-saat dimana kita bisa belanja tanpa
melihat saldo terakhir? seolah-olah dunia seperti di Sorga.

Sorga?

Benarkah Sorga terasa indah saat kita bebas belanja sepuas mungkin?

Sehingga kita selalu merasa bangga memamerkan Sepeda Motor kita yang
rasanya paling kinclong dengan rem cakram, mengkilap bak Honda Jazz…

Namun…. kok kita lihat kiri-karan mobil orang lain lebih yahuud?




2. Perasaan menjadi korban

Kadang kita pikir, bahwa penjajah Belanda dulu itu betul-betul kurang
ajar, dan kita membencinya seumur hidup, dan kita lupa, bagaimana
mungkin itu terjadi selama 350 tahun atau 14 generasi?

Bayangkan, anak kita dijajah Belanda, cucu kita juga, cicit kita juga,
anak cucu cicit kita dijajah Belanda dan kita hanya bisa menyalahkan
Belanda.

Bahwa kita tidak makmur karena terlalu lama dijajah Belanda. Lolos dari
Belanda sekarang kita dijajah Korupsi. lalu kapan kita bisa merdeka?

Mengapa nasib kita selalu menjadi korban?

Dan kita hanya bisa menyalahkan Lumpur sidoarjo, bukti bahwa kita tidak
memiliki kekuatan atas dunia, dan kita senantiasa menjadi korban.

Memang orang kaya delalu bersikap demikian..

Memang namanya Pemerintah, bisanya memerintah.. .

Memang Krisis Ekonomi ini biang kerok semua kesulitan kita….

Memang Tetangga-tetangga kita seperti tidak mau
mengerti, bahwa kita juga membutuhkan ketenangan,

Namun mereka seolah tiada henti cerewet merumpi sedangkan kita
seolah-olah sudah kebudekan..

Dan kita selalu menyalahkan orang lain..

3. Berpikir satu arah..

Dan kita senantiasa dididik untk selalu maju,
menyelesaikan sekolah, mengerjakan ujian yang terbaik, dan bisa naik
kelas…

Dan hidup ini dianggap sebagai sekolah, dan kita
dituntut untuk naik kelas…

Dan saat kita berbuat salah, dianggap mendapatkan hukuman dari
"Guru"… katanya belajar dari pengalaman.

Dan kita berpikir, bahwa kalau kita cukup keras
berusaha kita akan mendapatkan yang lebih….

Hingga semua cara telah kita lakukan, namun lowongan kerja tak juga
menampakkan tanda-tanda kehidupan..

Hingga kita merasa bahwa mungkin kita tidak cukup mencoba… ibarat
Salesman, semuanya tergantung dari berapa "Lead" dan "Sales Call" yang
kita lakukan, dan solah-olah kita menganggap bahwa dunia itu adalah
sebuah peluang, sebuah kemungkinan dan kalau kita
sering mencoba maka besar kemungkinan kita berhasil…

Hingga segala kemungkinan sudah dicoba, akhirnya kita hanya menyalahkan
nasib bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk bisa menjadi kaya.

Menjadi Sukses..

Menjadi Berpangkat.. .

Menjadi Pimpinan…

Menjadi yang terbaik….

Karena waktu telah membuktikan bahwa bila di suatu tempat ada sebuah
peluang, besar kemungkinan sudah diambil orang..dan kita selalu tidak
kebagian..

4. Lalu kita pasrah…

Pasrah dari segala macam beban hidup..

Pasrah dari segala macam usaha..

Pasrah dari segalam macam kejaran waktu yang semakin terbatas…

Pasrah menghadapi kepahitan hidup.

Bahwa semuanya adalah tergantung kepada Sang Pencipta,
dan akhirnya kita hanya bisa berdoa, namun Tuhan yang menentukan.. ..

Dan akhirnya kita menerima bahwa Artis-artis terkenal, para Pemikir,
para orang kaya, para Direktur adalah memang memiliki darah
bangsawan…

tapi…..

Kok Iksan bisa? Kok Delon bisa? Kok Raja bisa? Kok Samson bisa? Kok
Marshanda bisa? Kok ada yang bisa menang Olimpiade Fisika Internasional?
mereka semua orang biasa, sama seperti kita….

salam,
Goenardjoadi Goenawan
ENTREPRENEUR & SPORT COMPASSION UNIVERSITY
Gedung JDC lt. 6
Business Center
Jl. Gatot Subroto Kav. 53
Tel. 021 536 77705 / 932 10929
Jakarta Pusat 10260
www.esqcu.blogspot. com
Penulis buku: Mata Air Untuk Dahaga Jiwaku


--- End forwarded message ---

Kirim email ke