Gelombang Ketiga di Indonesia

Hallo Sahabat, Saat ini terjadi perubahan besar di Indonesia, banyak
teman2 yang bingung, terjadi PHK dimana-mana, investasi menyusut,
pensiun dini, omzet penjualan menurun drastis. ibaratnya, kalau dulu
banyak Training Provider yang meng-garansi bila sales menurun, dan
mengikuti training, bila sales tidak meningkat, maka tidak usah
membayar, maka Training Provider itu bisa bangkrut…karena tidak ada
cara yang bisa menjamin meningkatnya penjualan saat ini di tahun 2006.




Apa yang terjadi?




Bagaimana gonjang-ganjing dunia Karyawan begitu hebat saat ini
mengocok-ngocok perasaan jiwa begitu dahsyat efeknya, PHK di depan
mata…




Mengapa ini terjadi?




Fenomena saat ini bisa djelaskan mulai dari gelombang Pertama. Anda
masih ingat Gelombang Pertama, Gelombang TAPOS. Dulu pengusaha terdaftar
di kelompok Konglomerat dan berkumpulnya di Tapos. Ekonomi dulu
dilaksanakan dengan urutan Stabilisasi, Pertumbuhan dan Pemerataan.
Makanya pemerataan yang dimaksud adalah 2% keuntungan yang diberikan
kepada Koperasi (ekonomi rakyat).

Gelombang Pertama dulu memang kelihatan enak bagi dunia Karyawan,
ibaratnya dulu lulus sekolah kerja diBCA atau Citibank menikah beli
rumah punya anak. Hidup enak,. life is easy. Itu dulu.

Gelombang Kedua terjadi mulai tahun 1999, yaitu Gelombang Marketing
Bisnis Menengah. Karena Kismon (masih ingat lagu Aku Cinta Rupiah?),
maka Pengusaha Gelombang Pertama tumbang karena tidak sanggup membayar
hutang USD. Akibatnya bermunculan pengusaha Golongan Menengah, dulu anda
tidak mengenal Bhakti Investama, sekarang menjadi pemilik Bimantara &
RCTI, TPI, dan Global TV.





Dulu anda tidak mengenal Adira Finance, tahunya ACC atau Astra. Dulu
kita tidak mengenal Garuda Foods, tahunya Gudang Garam. Kita heran,
bagaimana BCA dibeli Djarum, dan Wings Group tiba-tiba menguasai pasar
FMCG. Bread Talk, Rudy Hadisuwarno, dan Mc Donald, Dunkin Donuts, dan
Cafe Ohlala menjamur. Dulu kita tahunya Citraland, sekarang kita tahunya
Agung Podomoro group, Permata Mediterania, Gading mediterania, Bukit
Golf Mediterania, GardenMediterania, sampai kita bingung ini di
Indonesia apa di Mesir, kok serba Mediterania.

Pengusaha Golongan Menengah bermunculan dan era-nya disebut kemenangan
Era Marketing. Hermawan Kartajaya menjadi Panglima, diiringi oleh
Frontir Consultant,yang menerbitkan Majalah Marketing. Simon Jonathan
yang berhasil membesarkan Extra Joss pun mengikuti jejak Kafi Kurnia
yang dulunya Marketing Manager Hero Supermarket.


Golongan Menengah bermunculan. Maspion maju, Cintailah Produk-produk
Dalam Negri, begitu iklan Presiden Direkturnya. Sampoerna A Mild
berjaya. Dulu kita heran, kok semuanya mengikuti A Mild, ada LA Light, X
Mild, masih ingat Losta Masta? Itulah EraMarketing pada Gelombang Kedua,
Gelombang Bisnis Menengah.

Hingga tahun 2005 tersapu oleh Gelombang Ketiga yaitu Gelombang
Desentralisasi Kekuasaan. Awal tahun 2005 kita sibuk dengan dimulainya
Pilkada di KabupatenTenggarong. Tiba-tiba Pengusaha menjadi Penguasa.
Pilkada di Tuban terjadi perang antar kelompokPengusaha. Jangan heran
Pengusaha Fadel Muhamad menjadi Gubernur. Akibatnya, terjadi beberapa
hal yang menekan Bisnis Golongan Menengah:

1. Globalisasi artinya hilangnya subsidi BBM makamenurunkan daya beli.

2. Ekspansi jumlah wajib pajak, kalau dulu wajib pajakhanya 1 juta maka
saat ini menjadi 10 juta wajibpajak. Siapakah mereka? Golongan Menengah.
Bisnis Golongan menengah mengalami tekanan hebat, baik dari atas, dari
samping dari bawah.


Demo buruh dulu bisa diredam dengan sosok Kharisma pemilik usaha. Dulu
kalau buruh demo di Jawa Timur, pemiliknya hanyaberkata Ayo semuanya
pulang, pulanglah, besok kerjalagi…. semuanya menurut.

Sekarang, Golongan Menengah pusing dengan segala pungutan. Pungutan dulu
hanya 1 macam, kalau sudah keyayasan Cendana, beres. Sekarang ada 24
macam pungutan. Belum soal Perda. Itu menjadi pungutan lain lagi.
Akhirnya Golongan Menegah terdesak. Adira Finance dijual. Ramayana group
mengalami kesulitan. Maspion rencana pindah.


Jangankan Maspion, Sony, Panasonic saja mengalami problem dengan
investasi diIndonesia. Maka Investasi menyusut. PHK dimana-mana, pensiun
dini. Dan sengketa soal pesangon muncul dimana-mana.

Gelombang Ketiga saat ini sifatnya seperti Tsunami Ekonomi, menyapu
semua orang. Maka di Indonesia bisa dikatakan semua serba baru. Yang
dulunya naik mobil, sekarang naik Motor. Yang dulunya membeli handphone,
paling tidak handphone bekas, sekarang pakai wartel atau telepon koin.
GSM berubah menjadi CDMA untuk mengirit.

Terjadi perubahan perilaku ekonomi Indonesia, saat ini terjadi ledakan
Entrepreneur UKM.Edam Burger memiliki 2,000 cabang. Primagama ada 500
Cabang. Anda bisa heran ada Franchise Gerobak MieSapi, hanya Rp
3,500,000 itupun dikembalikan kalau Gerobaknya dipulangkan.

Gelombang Ketiga memaksa Ekonomi Konsumtif menjadi Ekonomi Produktif,
Ekonomi UKM, Ekonomi Entrepreneur. Akan terjadi ledakan Gudang Babe
"Barang Bekas", Franchise Bakmi, Nasi Goreng. Franchise Ayam Panggang
saat ini dijual hanya Rp 18,500,000 saja.

Tidak ada yang bisa melawan alam, alam mengatakan lebih banyak yang
mencari kerja daripada lowongan kerja, maka lebih sulit bagi kita untuk
melamar kerja, dan pilihannya adalah UKM.

salam,




-Goenardjoadi Goenawan-

::ESQCU Training & Consulting::

Kirim email ke