http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=2544

Demokrasi Berserigala


Oleh Boni Hargens



Berhasil atau tidaknya demokrasi ditentukan oleh mutu hidup rakyatnya. Adanya 
pemerintah pun implikasi logis dari prinsip itu. Tentu dengan konsepsi normatif 
yang jelas bahwa pemerintah, yang dalam bahasa Rousseau (1712-1778) disebut the 
Sovereign, harus menyadari tanggung jawabnya untuk bonum commune, kebaikan 
umum. 

Tanggung jawab ini, yang dituntut rakyat dari pemilu ke pemilu. Bahkan, tingkat 
elektabilitas para kandidat ditentukan oleh proyeksi rasa tanggung jawab para 
kandidat yang terlibat. Ketika yang maju adalah mereka yang diproyeksikan 
krisis liabilitas, maka anima pemilih pasti surut. 

Masalah tambah kompleks ketika pemerintah tidak fokus pada pembenahan kinerja, 
malah menuduh masyarakat liar, antidemokratik, dan tak beradab, sehingga perlu 
ada pengamanan ketat terhadap aksi protes atau penertiban perilaku melalui UU 
Pornografi. Seolah-olah dasar kegagalan peradaban adalah tabiat liar warga yang 
dibilang Hobbes (1588-1679), sehingga diperlukan "negara leviathan". 

Hobbes tak sempat memprediksi, bahwa masalah bernegara hari ini, terutama di 
Indonesia, bukan lagi bagaimana menertibkan individu yang liar dan buas, tetapi 
bagaimana meredam arus yang berbalik, di mana justru negara (baca: 
penyelenggara negara) yang liar dan buas. Sebagai representasinya kita bisa 
lihat pada elite politik yang rakus, berperilaku serigala sebagaimana kata 
Syafii Maarif, dan berorentasi pada diri sendiri. Bagaimana kita berharap 
adanya perubahan mendalam jika pemilu selalu dikuasai elite serigala?

Demokrasi yang tinggal sistemnya saja, sesungguhnya bukan demokrasi. Maka 
pemilihan umum sebagai momen partisipasi perlu dimanfaatkan untuk revolusi 
demokrasi. Revolusi artinya perjuangan radikal dalam rangka menghidupkan 
nilai-nilai dasar seperti keadilan, kesejahteraan umum, dan kedaulatan rakyat 
dalam rangka menegakkan hegemoni demokrasi dalam segala aspek kehidupan 
berbangsa dan bernegara. Revolusi demokrasi bisa diterjemahkan melalui dukungan 
terhadap figur alternatif apabila sulit mengharapkan perubahan radikal 
paradigma dan program politik elite lama. 

Tanpa perubahan radikal, khalayak politik akan jenuh. Dalam kejenuhan orang 
bisa berpikir terbalik, bahkan kehilangan kemampuan membedakan otoritarianisme 
dengan demokrasi, seperti halnya ingatan sejarah pelaku politik yang tak lagi 
mampu memilah mana pahlawan dan mana pecundang. Keadaan ini, yang disebut 
'kekacauan ingatan' atau juga 'kekacauan konseptual', berbahaya bagi masa depan 
demokrasi meskipun rentan terjadi di negara lemah seperti studi David W Roberts 
(2001) di Kamboja.

Kekacauan ingatan, antara kembali ke romantisme masa lalu atau berorientasi ke 
arah baru, terjadi karena kegamangan yang berkepanjangan. Elite baru yang 
dipercayakan untuk membangun demokrasi ternyata gagal sehingga masyarakat 
politik cenderung berbalik ke masa lalu. 

Dasar arus balik ini sebetulnya jelas kalau kita membaca John dari Salisbury 
(The Statesman's Book,1927). Kekuasaan tradisional, menurut John, kudus dan 
agung karena Tuhan ditempatkan sebagai sumber dan tujuannya. Seorang raja 
adalah representasi immanen dari Yang Ilahi, dalam segala dimensi sikap dan 
tindakannya. 


Tanggung Jawab Eskatologis

Dua hal ditekankan John dalam konteks ini. Pertama, pertanggungjawaban 
eskatologis kekuasaan. Bahwa kekuasaan dipertanggungjawabkan tidak secara 
langsung dan temporal pada individu atau institusi tertentu tetapi langsung 
kepada Tuhan yang ditemui di akhir (jaman) nanti. Implikasinya serius, di mana 
raja menjadi lebih bertanggung jawab atas nasib rakyatnya, bukan karena 
rakyatnya tetapi karena keyakinan pada Yang Ilahi. 

Kedua, konsepsi kerahiman politik. John dari Salisbury menekankan kerahiman 
(mercy) sebagai salah satu sifat Tuhan yang ditiru oleh raja (John tak dapat 
menghindar dari pengaruh gereja dalam konteks ini!). Persoalan yang terjadi 
dalam lingkup kerajaan, terutama antara rakyat dan otoritas kerajaan, selalu 
disikapi dengan dasar pengampunan yang berujung pada islah, rekonsiliasi.

Meski dasarnya theosentrisme, kekuasaan tradisional terbukti menyelamatkan 
rakyatnya. Demokrasi modern harusnya maju beberapa langkah di depan, tapi dalam 
"demokrasi gagal" justru sebaliknya. Ada kemunduran serius yang mendesak orang 
untuk terjerembap dalam kegamangan. 


Sumber Imajinasi

Untuk konteks kita, dua argumentasi yang sebetulnya saling berkaitan dapat 
dipertimbangkan. Pertama, sumber imajinasi para elite kabur, tidak jelas. Kalau 
dalam teori John dari Salisbury, sumbernya jelas yakni Tuhan sehingga seluruh 
pertanggungjawaban politik arahnya ke Atas, walaupun sifatnya yang eskatologis 
membuatnya sukar diukur. Dalam demokrasi sebetulnya jelas, bahwa sumber 
imajinasi adalah kepentingan seluruh rakyat. Rakyatlah yang harus 
dibayang-bayangi oleh setiap elite supaya kekuasaan benar-benar untuk rakyat. 
Tapi imajinasi itu kabur karena godaan kekuasaan membelenggu pelakunya pada 
kenikmatan egois dan parsial. 

Kedua, dasar ideologis setiap pergerakan politik tidak kuat. Multipartai di 
Indonesia merepotkan justru karena secara ideologis tidak adanya hal yang 
istimewa yang membedakan partai yang satu dari partai yang lain. Ini pula 
alasan adanya fenomena perlompatan politisi dari partai yang satu ke partai 
lain dalam setiap pemilu, termasuk dasar kegelisahan yang membatasi sebagian 
aktivis untuk memasuki partai tertentu. 

Perubahan bukan kemustahilan. Tapi indikasinya harus jelas, supaya kita punya 
dasar untuk berharap tentang perubahan. Sampai sejauh ini, tokoh alternatif 
yang muncul dan cukup memberikan harapan malah tak didukung mesin politik yang 
signifikan, bahkan ada yang tak didukung samasekali oleh partai politik. Ini 
dilema serius untuk masyarakat yang kiranya bisa diatasi sebelum pemilu 
berlangsung tahun depan.


Penulis adalah pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia, pengajar 
ideology and statesmanship di International Busi ness Management, UK Petra 
Surabaya.

Kirim email ke