Semburan Lumpur Lengowangi = Lapindo jilid kedua
                                         
Kembali tragedy lama terulang, semburan lumpur dipemboran minyak
Lengowangi di Gresik, yang dikerjakan oleh Pertamina dengan Petro-China.

Ketololan yang sama diulangi, tapi sekarang lebih pinter cari kambing
hitamnya, sebelum dibor oleh Pertamina dicari dulu partner kerja sama
dari China yang nantinya disuruh menangani biayanya dan bisa dijadikan
bumper kepada masyarakat untuk ganti ruginya.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, expert atau ahli2
professional didunia ini yang kemampuannya cocok untuk dibayar,
disewa, atau dikontrak untuk urusan pemboran minyak lepas pantai
hanyalah dari Amerika, tidak ada satupun ahli atau perusahaan
perminyakan sampai sekarang yang mampu menandingi bahkan mendekati
kehebatan Amerika ini, bahkan Inggris, Perancis, Russia, dan China
sendiri mengontrak mereka.  Lain ceritanya kalo cuma pemboran minyak
digunung, karena ngebor minyak lepas pantai ini menyangkut teknologi
tinggi, menyangkut bahan2 seperti semen khusus yang cuma bisa
diproduksi oleh Portland Cement di Amerika.

Seperti biasanya, Pertamina menyatakan yakin bisa mengatasinya,
semburan2 ini diyakini bisa berhenti tapi masih menunggu order semen2
khusus dari Amerika yang belum juga datang.  Padahal khan harusnya
sebelum di bor, semen2 khusus yang dibutuhkan itu harusnya disediakan
dulu.  Namun untuk penghematan yah kerja untung2an bisa untung
mendadak, semen Amerika yang harganya mahal jangan dulu dibeli, nanti
saja kalo kecelakaannya sudah muncul baru kita beli. Demikianlah motto
orang2 amatiran yang mengaku professional dari Pertamina ini.

Memang bukanlah kebetulan, Petro-China diajak kerja sama artinya
mereka bukan dikontrak secara professional melainkan dijadikan bumper
kerja sama yang nantinya kalo terjadi apa2 bisa disalahkan jadi
kambing hitam.  Padahal kalo memang betul2 mau safety-nya terjamin
harusnya dipanggil kontraktor professional dari Amerika yang
safetiness-nya betul2 100% karena mereka dilindungi insurance.  Namun
benar harga dan biayanya berlipat lebih mahal, tetapi begitulah
seharusnya kalo memang mau melindungi masyarakat, kalo memang betul2
professional, kalo betul2 mau fair business yang penuh kejujuran.

Bahkan Petro-China ini sendiri sudah biasa mengontrak ahli2 Amerika
untuk segala penelitiannya ditanah China sekarang ini.  Lalu anehnya
malah Pertamina justru mengajak mereka kerja sama sementara dalam
kerja sama ini mereka tidak punya hak dan kegiatan apa2 selain nonton
dan memasang merek saja dipantainya.

Akibat kejadian ini, ribuan masyarakat berdemo, dan sekarang demo-nya
juga aneh tuntutannya, yaitu memaksa perusahaan Petro-China untuk
menggaji mereka jadi pegawai.  Aneh bukan????  Kenapa bukan Pertamina
yang dusuruh mempekerjakan mereka????  Disinilah letaknya, keahlian
orang2 di Indonesia memang bukan teknologi tapi akal2an bal2an dan
pemerasan !!!!  Cina lagi, Cina lagi yang dijadikan target pemerasan.

Bau busuk dari lumpur yang muncrat itu telah menyelubungi udara
seluruh pantai sehingga banyak masyarakat sakit perut muntah2.  Akibat
dari kesemuanya ini, seluruh kegiatan pengeboran dihentikan dan semua
pegawai2 yang dikontrak diputuskan kontraknya, akibatnya pegawai ini
juga ikut berdemo dengan masyarakat yang lainnya yang juga ikut2an mau
kerja dan minta dikontrak kerja.

Para pemimpin bekas pegawai yang dikontrak ini memaksakan perpanjangan
kontrak meskipun kerjaannya sudah enggak ada, mereka bilang kalo
kerjaannya tidak ada lagi maka mereka minta pesangon padahal aturan
pesangon itu khan untuk pegawai tetap bukan pegawai konntrakan.  Namun
situasi di Indonesia yang padat pengangguran ini memang sudah membolak
balik pikiran rakyatnya dan berbagai akal2an juga sudah memenuhi otak
para ahli akal2an dari Pertamina.  Betul2 lucu, yang dituntut oleh
Demonstran ini adalah Petro-China bukan Pertamina, padahal kontrak
kerjanya semua itu bukan dengan Petro-Cina karena Petro-Cina ini
perusahaan asing yang oleh UU tidak boleh mempekerjakan pegawai.  Jadi
sebenarnya yang mempekerjakan mereka ini adalah sebuah perusahaan KKN
yang jadi perantara yang milik orang2 Pertamina yang tugasnya menyunat
gaji pegawai2 ini untuk dipekerjakan di lepas pantai.  Perusahaan
inilah yang harusnya bertanggung jawab untuk urusan pesangon ataupun
perpanjangan kontrak.  Tapi memang rupanya masyarakat yang jadi
pegawai2 ini tidak percaya dengan perusahaan bangsanya sendiri
sehingga mereka me-rengek2 kepada petro-China untuk langsung
mempekerjakan mereka sehingga perusahaan akal2an dari Petro-China ini
juga jadi bingung menghadapi demo2 yang menutup jalanan masuk ke
perusahaan ini.

Sampai detik ini, pemerintah cuma bisa mengerahkan tenaga polisi untuk
menterror masyarakat yang berkumpul dan yang demo.  Masyarakat yang
bukan pegawai bahkan lurah dan camatnya ikut2an berdemo meminta ganti
rugi Rp 50 juta akibat udara sekitarnya menjadi bau busuk sehingga
mengganggu kesehatan masyarakat.

Jadi masyarakat, lurah, dan camat yang berdemo ini BUKAN MENUNTUT
DITUTUPNYA PEMBORAN ini melainkan menuntut duit Rp 50 juta sebagai
ganti rugi udara yang rusak oleh bau busuknya.  Jadi bedanya dengan
Lapindo adalah bahwa lumpurnya tidak atau belum mengancam rumah2
penduduk karena selain lokasinya jauh, juga tempat pemboran ini
bukanlah tempat baru melainkan titik pengeboran lama bekas Shell yang
diputus kontraknya karena ingin dikelola Pertamina sendiri agar
keuntungannya bisa berlipat mengingat Pertamina juga merekrut bekas2
pegawai lama yang dianggapnya tahu lika liku mengebor tempat ini. 
Naasnya, ternyata malah kecelakaan baru dari tragedi lama di Lapindo
terjadi lagi.

Yaaah.....  masyarakat cuma bisa berdoa, bukan kepada Allah tapi
kepada Amerika agar bisa secara ajaib masuk lagi membantu yang
nantinya kita usir dengan kata2 hina "kafir".

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke