RI Sulit, Lebih Akrab Dengan India Katimbang Pakistant
                                         
Apakah yang mau diperbuat Indonesia dalam pertikaian Pakistant dan
India?  Jelasnya, Indonesia lebih akrab dengan India daripada dengan
Pakistant.  Banyak perjanjian kerjasama ekonomi Indonesia-India dan
banyak sekali mahasiswa2 Indonesia yang belajar di India dan
mendapatkan berbagai beasiswa dari India.  India jauh lebih maju, jauh
lebih modern, jauh lebih terbuka daripada Pakistant.

Indonesia hampir tak punya hubungan apapun dengan Pakistant, namun
kini terjadi kemelut agama dimana terrorist Islam dari Pakistant
membantai turist2 asing seperti yang dilakukan terrorist Jihad Islam
di Bali dulu.

Indonesia berada dalam kubu "war on terror" bersama Amerika, bahkan
Amerika sendiri telah memberi berbagai info intel kepada India untuk
menangkap para pelakunya, ternyata para pelakunya benar berasal dari
Pakistant dan dilindungi oleh pemerintah Pakistant.

Sulit dalam situasi ini bagi Indonesia untuk berpihak, dan kalopun
terpaksa berpihak kepada India jauh lebih memungkinkan karena dalam
hal ini issue agama bisa disingkirkan karena Indonesia juga punya
hubungan akrab dengan organisasi2 Islam di India.

Pakistant dalam kasus ini betul2 dipihak yang salah, dipihak yang cari
gara2, karena persoalannya sangatlah sederhana yaitu serahkan saja
pelaku2 terrorist yang listnya sudah diberikan oleh India seperti
halnya Indonesia menyerahkan Faruk kepada pihak Amerika sehingga tak
akan ada banyak permasalahan.  Apalagi, pemerintah pakistant sendiri
tidak punya landasan untuk melindungi pelaku2 terrorist ini selain
kaitannya dengan warganegara Pakisant.

Hingga kini pemerintah RI belum mengeluarkan pernyataannya mengenai
kasus konflik India-Pakistant.  Masih memerlukan waktu yang lama untuk
menilai posisi yang terbaik karena masalahnya makin komplex apabila
terkait juga dengan kasus Armada China yang sedang dalam perjalanannya
ke teluk Somalia dalam menumpas bajak Laut Jihad Islam yang dilindungi
Somalia.  Somalia meminta bantuan dukungan negara2 Islam dalam
menghadapi ancaman China ini.

Ditambah lagi kasus Israel Hamas yang terkait dengan Abbas akan makin
memusingkan posisi Indonesia yang pasti akan makin tidak jelas, dan
makin salah posisi, dan tidak tahu lagi kemana harus bersikap, karena
kemanapun Indonesia berpihak, tetap ekonomi Indonesia akan amburadul
tergantung berbagai pinjaman2 luar negeri yang sedang dicairkan untuk
menangkal resesi yang makin parah.

Jatuhnya harga minyak juga sangat terkait dengan rencana penumpasan
Jihad Islam dari muka bumi ini yang selama ini mengganggu perputaran
roda ekonomi diseluruh dunia.  Seperti yang sudah saya tulis
sebelumnya, makin jelas realitasnya, bahwa krisis ekonomi Global hanya
mempengaruhi negara2 Islam dan mayoritas Islam, dan mereka yang
membantu penumpasan terrorist mendapat backup dana yang cukup untuk
menangkal krisis ini.  Kenyataannya krisis ekonomi di Amerika sekarang
tidaklah menyebabkan hal2 yang parah bagi kehidupan rakyat Amerika,
kehilangan pekerjaan tidak membuat kehilangan nafkah karena pemerintah
Amerika dari dulu memberi jaminan kepada pengangguran, memberi
tunjangan kepada orang cacat, memberi jaminan seumur hidup kepada
wanita yang dicerai, dan berbagai jaminan2 ini sudah semenjak
berdirinya negara ini berlangsung dengan baik.  Apalagi, harga bensin
menjadi sangat rendah dan hal ini sangat membahagiakan banyak orang di
Amerika tentunya.

Masalah pengangguran tidaklah separah dizaman perang Vietnam karena
tingkat pengangguran 7% sekarang ini masih normal.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke