refleksi: Mengapa tidak dirawat? http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/05/opi01.html
Soal Kapal-kapal Eks Jerman (Timur) Itu Oleh Wirasmo Wiroto " .kapal-kapal ini jika dirawat dengan baik, saya rasa masih bisa beroperasi sampai lima belas tahun lagi." Kutipan di atas adalah ucapan Laksamana Pertama Freddy Numberi di suatu pagi Mei 1996 di Neustadt, pangkalan AL Jerman. Freddy Numberi saat itu berbicara dengan penulis beberapa hari sebelum penyeberangan Batch-12, yang terdiri dua korvet kelas Parchim eks Jerman Timur ke pangkalannya yang baru di Surabaya. Freddy (sekarang Laksamana Madya Purnawirawan, Menteri Perikanan dan Kelautan), ketika itu adalah Komandan Satgas Proyek Pengadaan Parchim-Frosch-Kondor (Yekda PFK). Dua belas tahun kemudian (3/12/2008), anggota Komisi I DPR, Djoko Susilo mengatakan, hanya 10 dari 39 kapal-kapal eks Jerman Timur yang dibeli pemerintah pada 1990-an itu yang masih bisa dioperasikan. Bahkan katanya, dalam kunjungan Komisi I ke Surabaya 2003, kedapatan sejumlah kapal hanya digunakan sebagai asrama prajurit. Djoko Susilo menuntut pemerintah Jerman mengembalikan uang pembelian 39 kapal perang tersebut, termasuk biaya perbaikan dan perawatannya senilai US$ 560 juta (Rp 6,7 triliun). Sumber lain mengatakan US$ 480 juta (Majalah Tempo, 11/06/1994). Ia dan kawan-kawan menilai pemerintah Jerman tidak berhak menerima hasil penjualan kapal-kapal itu, antara lain karena kontraknya tidak sesuai mekanisme demokratis dan tanpa persetujuan DPR. Sejumlah pejabat di era Soeharto yang terkait pembelian kapal-kapal tersebut rencananya akan dipanggil untuk memberi penjelasan. Anggapan Djoko Susilo bahwa kini hanya 10 dari 39 kapal eks Jerman Timur yang masih bisa dioperasikan, terkesan berlebihan dan perlu dipertanyakan dasar data dan faktanya. Kapal-kapal itu ketika dibeli memang bukan baru lagi, dan sempat ditelantarkan oleh pemiliknya yang lama. Setara Empat Korvet Baru "Sigma" Kapal-kapal itu terdiri korvet anti-kapal selam kelas Parchim buatan 1981-1985 sebanyak 16 unit, LST kapal pendarat kelas Frosch buatan 1976-1979, 14 unit, dan penyapu ranjau Kondor 9 unit buatan 1971-1973. Sejak proses pembeliannya telah memancing kontroversi tajam. Berbagai media mengatakannya sebagai terlampau usang. Ada yang menyebutnya sebagai rongsokan, dan macam-macam stigma lainnya yang cenderung melecehkan. Namun, ada anggapan armada kapal bekas itu justru "lebih menguntungkan" karena bisa digelar setiap saat dibutuhkan secara serempak ke seluruh wilayah perairan Nusantara. Jangkauan operasionalnya pun luas. Kendati berupa kapal bekas, setelah dirombak sesuai kebutuhan dan pengoperasiannya kelak di perairan Indonesia, kapal-kapal itu bisa diseberangkan dengan selamat sampai Tanah Air. Kecuali KRI Teluk Lampung (Frosch) yang nahas dihantam badai di Teluk Bascay, Spanyol, kapal-kapal lainnya walaupun juga berada dalam cuaca yang sangat tidak bersahabat di kawasan yang sama, berhasil selamat sampai Tanah Air. KRI Teluk Lampung bersama KRI Imam Bonjol (korvet Parchim) adalah Batch-4, bertolak dari Jerman pada Mei 1994. Kapal-kapal lainnya (korvet dan Frosch) diseberangkan bertahap mulai November 1993. Batch-1 ini terdiri dua korvet dan satu unit Frosch. Penyeberangan terakhir, Batch-13, terdiri dua korvet diseberangkan pada Juli 1996, sedangkan Kondor, penyapu ranjau, karena ukuran dan bobotnya yang ringan, penyeberangannya dilakukan dengan kapal. Dari sisi harga, kapal-kapal perang yang dibeli secara borongan itu memang terkesan "murah-meriah". Bagaimana tidak, 39 unit kapal perang dibeli sekaligus dengan US$ 560 juta. Harga ini setara dengan hanya empat unit korvet baru kelas Sigma buatan Belanda, yang baru-baru ini dibeli pemerintah (KRI Diponegoro, KRI Sultan Hasanuddin, dan KRI Iskandar Muda sudah berdagangan sejak tahun 2006. KRI Frans Kaisepo diharapkan datang pada tahun 2009). Kondisi Terkini Bagaimana kondisi kapal-kapal tersebut dewasa ini? Tentang sembilan kapal penyapu ranjau, Kondor memang tak pernah disebut-sebut lagi. Barangkali sebagian dari jenis kapal inilah yang sempat dipergoki Djoko Susilo telah berubah fungsi menjadi asrama prajurit. Pada awalnya, sistem permesinan dan desain kapal-kapal itu lebih untuk operasional di perairan Eropa yang tidak memerlukan pelayaran jarak jauh dan waktu yang lama sehingga tipe mesin seperti yang terpasang sewaktu kapal-kapal itu diseberangkan ke Indonesia, dinilai tidak tepat. Sesampai di Indonesia, dalam waktu lima tahun ke depan ketika mesin kapal-kapal itu sudah waktunya di-"overhaul", seharusnya diganti dengan mesin baru yang umum digunakan untuk medan perairan di Indonesia. Tetapi program ini tidak semulus yang telah dipetakan karena krisis ekonomi yang berkepanjangan. Akibatnya, pembelian mesin baru terkendala. Pemerintah belum mampu membeli mesin-mesin baru. KSAL (kala itu) Laksamana Bernard Kent Sondakh berharap sebanyak 30 kapal eks Jerman Timur tersebut sudah akan "hidup" kembali pada tahun 2004 (Kompas, 19/09/2002). Barulah pada 2002 program repowering kapal-kapal eks Jerman Timur itu dimulai. Tahap I, repowering dilakukan atas enam korvet Parchim dan empat LST Frosch. Dilanjutkan dengan sepuluh korvet dan lima Frosch pada 2003, dan berikutnya lima Frosch lagi pada tahun 2004. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR (Juni 2005), KSAL Laksamana Slamet Soebijanto menegaskan kembali dilakukannya repowering secara bertahap atas kapal-kapal tersebut. Di Komando Armada Kawasan Barat dewasa ini bertugas delapan korvet Parchim eks Jerman Timur. "Di sini (Koarmabar), adalah salah satu andalan saya. Kapal-kapal itu mampu patroli ke Barat Sumatera sampai Natuna.", ujar Panglima Koarmabar Laksamana Muda Agus Suhartono (kini Asrena Kasal) ketika ditemui di Markas Koarmabar, Februari 2008. Delapan korvet Parchim lainnya kini bertugas di Komando Armada Timur. Komandan Satgas Yekda PFK Freddy Numberi tidaklah berlebihan ketika pada tahun 1996 memprediksi kapal-kapal eks Jerman Timur itu masih mampu dioperasikan sampai lima belas tahun lagi. Bahkan, jika mengacu pada lazimnya kapal dikandangkan pada usia tiga puluh tahun, korvet-korvet itu seharusnya masih mampu bertahan sampai 2015. Penulis adalah wartawan peliput Operasi Penyeberangan dua korvet eks Jerman Timur ke Surabaya, Mei-Juli 1996
