=================================================  
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center] 
Seri : "Membangun spirit, demokrasi, konservasi alam, 
           nasionalisme, kebangsaan dan pruralisme Indonesia."  
================================================= 
[Spiritualism, Nationalism, Democration & Pruralism Indonesia Quotient] 
Menyambut Pesta Demokrasi 5 Tahunan - PEMILU 2009.  
"Belajar menyelamatkan lingkungan bersama untuk kebaikan bangsa Indonesia." 
  
Simon Sinaga, Melawan Perusak Lingkungan 
Selasa, 13 Januari 2009 | 03:00 WIB 
Oleh: ANDREAS MARYOTO 
Memasuki usia 66 tahun tak menghalanginya untuk berjalan di goa yang gelap dan 
terjal. Ia tetap bersemangat mengantar tamu untuk melihat kawasan hutan hasil 
rehabilitasi lahan tandus dan gersang Sikopi Kopi di Kecamatan Aek Kanopan, 
Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. 
Sejak 1994 saya mengelola lahan ini. Semula lahan ini tandus karena warga 
menebangi pohon lalu membakarnya menjadi lahan pertanian. Setelah itu, mereka 
meninggalkan lahan ini,” kata Pastor Simon Sinaga OFM Cap tentang awal mula 
kondisi kawasan Sikopi Kopi. 
Hutan ini sebenarnya biasa saja. Dilihat luasnya, Sikopi Kopi hanya 40 hektar. 
Hutan ini tergolong kecil dibandingkan dengan luas kebun sawit di Sumut yang 
hampir mencapai 1 juta hektar. 
Akan tetapi, keberadaan hutan di tengah kepungan perkebunan sawit di Sumut bisa 
menjadi simbol. Simbol perlawanan terhadap perluasan perkebunan sawit yang tak 
terkendali, kebablasan. Sikopi Kopi secara pasif menahan ”agresi” perkebunan 
kelapa sawit. 
Riwayat Sikopi Kopi bermula saat ordo OFM Cap, salah satu tarekat rohaniwan 
Katolik, membeli lahan itu. Sinaga lalu menanami kawasan itu dengan berbagai 
jenis pohon meski ia tak punya pengetahuan layaknya ahli konservasi lingkungan 
untuk menghijaukan kawasan. Bermodal tekun dan cinta pada lingkungan, setiap 
kali dia menanam berbagai bibit tanaman di lahan yang kritis. 
Setelah 14 tahun, kawasan itu kembali hijau dengan pohon-pohon besar di lereng 
Sikopi Kopi. Berbagai jenis hewan, seperti kera dan ular, berumah di hutan itu. 
Semak tumbuh liar, tanaman seperti rotan pun tumbuh leluasa. 
Bekas jalan masuk ke hutan ini mulai tertutup tanaman liar. Di dalam hutan 
terdapat goa yang menjadi habitat kelelawar dan ular. Kehadiran berbagai jenis 
satwa dan tanaman itu menjadi ciri membaiknya lingkungan. 
Pemandangan ini kontras dengan kawasan sekitar yang dipenuhi tanaman kelapa 
sawit. Pilihan Sinaga memang tak berdampak langsung atau mengurangi perluasan 
kebun sawit. Ia hanya ingin mengingatkan, hutan harus dijaga dan tak bisa 
semena-mena diubah semuanya menjadi kebun sawit sebab hutan punya fungsi lain 
untuk menunjang kehidupan. 
”Tak semua orang mau melihat masa depan. Orang suka berpikir instan, ingin 
mendapat uang dengan cara apa pun, termasuk menebangi hutan untuk kebun sawit. 
Hutan itu punya banyak fungsi bagi kelestarian makhluk hidup,” kata Sinaga. 
Merisaukan 
Ketika mulai berkarya sebagai pastor paroki di Aek Kanopan tahun 1986, ia sudah 
berurusan dengan persoalan lingkungan yang merisaukan. Banyak orang meracuni 
ikan di kanal-kanal pembuangan air di sekitar perkebunan sawit. Itu tentulah 
merusak lingkungan meski pelakunya sebagian justru aparat negara. 
”Saya pelajari undang-undang, jadi saya tahu mereka melanggar hukum. Saya 
sempat memotret aparat yang meracuni ikan. Dari gambar itu saya laporkan mereka 
kepada penegak hukum,” cerita Sinaga tentang kasus yang kemudian dibawa ke 
pengadilan. 
Ia ingin kasus ini dituntaskan. Namun, melihat itikad baik dari mereka yang 
semula bertindak tak benar itu, Sinaga mau berdamai dengan syarat para 
tersangka mau memelopori penebaran kembali ikan di kanal-kanal tersebut. Ini 
sebagai bukti mereka tak akan merusak lingkungan. 
Tak cukup dengan itu, sebagai ”hukuman sosial”, saat mereka menebarkan 
benih-benih ikan ke kanal-kanal di Aek Kanopan pun disaksikan langsung oleh 
penduduk setempat. 
”Orang meracun ikan itu hanya demi makan sekitar dua hari saja. Mereka cuma 
merasa puas bisa mendapat ikan dalam jumlah banyak. Namun, mereka tak 
menyadari, setelah semua itu habis, akan terjadi kelaparan,” kata Sinaga. 
Peristiwa ini membuat cintanya terhadap lingkungan makin membesar. 
Tanaman kemenyan 
Setelah merawat Sikopi Kopi, belakangan ini Sinaga berupaya menjaga kepunahan 
tanaman kemenyan di Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dia melihat 
penebangan hutan yang terus-menerus di kawasan ini akan mengurangi lahan 
kemenyan. 
Padahal, jenis tanaman itu masih sulit dibiakkan dan belum ditemukan cara 
budidayanya. Kemenyan tumbuh dan berkembang secara alami. Bila tanaman kemenyan 
punah, Indonesia akan kehilangan salah satu kekayaan hayatinya. 
Kemenyan adalah salah satu tanaman yang hanya tumbuh di wilayah barat kawasan 
Sumut. Penebangan hutan yang terjadi di daerah itu sungguh berpotensi 
mengurangi populasi pohon kemenyan. 
”Ancaman terhadap tanaman kemenyan sangat nyata. Hutan itu terus dibabat,” kata 
Sinaga mengisahkan perilaku perusahaan yang tidak memahami pentingnya 
keberadaan jenis tumbuhan tersebut. Ia punya alasan kuat untuk mempertahankan 
kemenyan. 
Sinaga lalu bercerita, riwayat bangsa ini terkait dengan berbagai jenis tanaman 
di berbagai tempat di Nusantara, salah satunya kemenyan. Pelabuhan Barus, 
pelabuhan tua di pantai barat Sumut, pun sejak zaman dahulu telah menjadi 
tempat pengiriman kemenyan hingga ke berbagai kota di Timur Tengah dan Eropa. 
”Tanaman kemenyan harus kita selamatkan karena bisa punah bila dibiarkan saja 
(dibabat),” kata Sinaga. 
Ia kembali mengkritik penebangan hutan yang terus terjadi, ”sekadar” demi 
kepentingan ekonomi sesaat hingga merusak tanaman kemenyan. 
Perusak lingkungan 
Sinaga terus bergelut dengan pemikiran tentang masalah itu. Ia pun mencoba 
”memahami” pemikiran para perusak lingkungan. 
Ia heran dengan sikap sejumlah pengusaha yang terus merusak hutan. Sebab, 
mereka relatif berpendidikan dan tahu bila perusakan itu dilanjutkan, bencana 
hanya tinggal menunggu waktu. 
”Ternyata lebih mudah mengelola tanaman dibandingkan dengan mengelola manusia,” 
kata Sinaga menyinggung perilaku para perusak hutan. 
Di sisi lain dia menyadari, persoalan ekonomi warga di sekitar hutan yang lemah 
membuat mereka mudah diajak untuk merambah hutan. Tawaran uang dari pengusaha 
telah menyeret sebagian warga, juga sebagian pemuka masyarakat, dengan mudahnya 
ikut merusak hutan. 
”Mempertahankan tanaman kemenyan juga merupakan pilihan yang sulit. Sebab, 
komoditas ini memang masih dihargai rendah,” katanya. 
Meskipun begitu, Sinaga tetap memilih berjuang mempertahankan lingkungan agar 
tetap lestari. Dia memilih tak melawan dengan cara frontal atau menggunakan 
cara agitatif. 
Dengan simbol, Sinaga ingin memperlihatkan adanya kesalahan dalam pengelolaan 
lingkungan. Sekecil apa pun simbol itu, ia berusaha menghadirkannya, termasuk 
dengan memakai tas berbahan daur ulang. 

  
Biodata 
Nama: Simon Sinaga OFM Cap 
Lahir: Palipi, Samosir, Sumatera Utara, 7 Agustus 1943 

Pendidikan: 
- SR Katolik, Palipi, tamat 1958 
- SMP Seminari Menengah Pematang Siantar, 1961 
- SMA Seminari Menengah Pematang Siantar, 1965 
- Studi Filsafat Seminar Tinggi Kapusin Parapat, 1970 
- Studi Teologi Seminari Tinggi Kapusin Pematang Siantar, 1973 
- Ditahbiskan menjadi imam, 5 Januari 1974 
Pekerjaan: 
- Guru Seminari Menengah Pematang Siantar, 1974-1977 
- Pastor sejak 1977-kini 
----- 
  
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 
  
Best Regards, 
Retno Kintoko 
  
The Flag 
Air minum COLDA - Higienis n Fresh ! 
ERDBEBEN Alarm



 
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3 
 


      

Kirim email ke