Refkeksi: Bukankah dendam didorong oleh emosi dan bukan pikiran rational intelektual. Apakah pendendam pantas menjadi presiden?
http://hariansib.com/2009/01/19/megawati-dinilai-pendendam/ Megawati Dinilai Pendendam Posted in Berita Utama by Redaksi on Januari 19th, 2009 Jakarta (SIB) Semua pemimpin bangsa dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono punya kekhasan komunikasi politik dan karakter Megawati Soekarnoputri, memiliki sifat pendendam, sementara Presiden Yudhoyono memiliki sikap seorang pemimpin yang peragu. Penilaian itu diungkapkan Guru Besar Universitas Pelita Harapan Prof Dr Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY, Intrik dan Lobi Para Penguasa. Dalam bukunya yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (15/1) lalu itu, Tjipta mengungkapkan semua pemimpin bangsa pada umumnya pendendam, kecuali KH Abdurrahman Wahid. "Cuma Gus Dur yang tidak pendendam," kata Tjipta Lesmana ketika dihubungi SH di Jakarta, Sabtu (17/1). Dia mengatakan, Megawati disebutnya pendendam karena sampai saat ini menolak bertemu dengan Yudhoyono yang dia anggap telah menelikungnya. Dendam Megawati kepada Yudhoyono bisa terlihat dari berbagai kasus, di antaranya saat perhelatan peringatan 50 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Megawati diundang Presiden Yudhoyono hadir dalam acara itu dengan mengutus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro. Tetapi Megawati menolak bertemu dengan Purnomo. "Bayangkan, menemui wakilnya saja dia tidak mau," ujar Tjipta.Contoh lainnya, ketika pelantikan Yudhoyono sebagai presiden, Mega juga menolak hadir. Padahal, sejumlah orang terdekatnya menyarankan Megawati datang untuk menunjukkan sikap kenegarawanan. Begitu juga, saat malam hari usai pelantikan Yudhoyono, Mega mengumpulkan ratusan anggota PDIP di kediamannya, Kebangusan, Jakarta Selatan. Pada kesempatan itu, Mega mengatakan bahwa dirinya tidak kalah, hanya kurang suara. "Hal seperti itu kan konyol, masa seorang putri Bung Karno ngomong seperti itu. Kalau kalah, ya diakui saja, jangan mengeluarkan retorika yang aneh-aneh," kata Tjipta. TIDAK JUJUR Meski demikian, Tjipta memahami kekesalan Megawati. Pasalnya, Susilo Bambang Yudhoyono tidak jujur ketika masih menjabat Menko Polkam di era Megawati. Beberapa kali Mega bertanya kepada Yudhoyono tentang niat mencalonkan diri jadi presiden, tetapi Yudhoyono selalu mengelak dengan mengatakan ingin fokus menjalani tugas-tugas kementerian. Namun belakangan, Yudhoyono mengundurkan diri dan sehari kemudian langsung mengampanyekan dirinya bersama Partai Demokrat. "Artinya, ketika dia bilang masih fokus pada tugas, sebenarnya dia juga sudah mempersiapkan kampanyenya, itulah mengapa Megawati kesal," kata Tjipta. Mengenai perlakuan Megawati yang tergolong lunak pada mantan presiden Soeharto, menurut Tjipta itu karena komunikasi Mega dengan jenderal-jenderal penting di kalangan militer. Megawati dekat dengan petinggi atau mantan petinggi militer. Ada bargaining position yang membuat Megawati sulit memproses Soeharto secara hukum. "Mungkin, para jenderal menyarankan dia agar tidak mengusik Pak Harto, karena itu bisa berdampak dan berimplikasi panjang," ujarnya. Sementara itu, Presiden Yudhoyono disebut Tjipta memiliki sikap peragu. "Dia jenderal, tetapi seperti bukan jenderal, terlalu penuh pertimbangan, lama mengambil keputusan," ujarnya.Dia mencontohkan penurunan harga BBM yang pelan-pelan diturunkan. Begitu juga saat merombak kabinet, Yudhoyono harus bernegosiasi panjang dengan para petinggi partai politik. "Padahal, ini sistem presidensial, tidak perlu terlalu banyak meminta pertimbangan parpol," ujarnya. Menurut Tjipta, Yudhoyono sebenarnya tidak perlu terlalu takut mengambil keputusan, karena dia presiden yang legitimate, dipilih langsung rakyat. PEMBUNUHAN KARAKTER Tjipta memperkirakan Megawati dan Yudhoyono memiliki peluang untuk bertarung kembali dengan Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2009. Namun, tanpa pilihan alternatif, kemungkinan Yudhoyono akan terpilih kembali. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Firman Jaya Daeli mengatakan, penilaian Tjipta Lesmana itu sebagai upaya pembunuhan karakter. Sebab, Megawati tidak memiliki pribadi seperti pandangan Tjipta itu. "Bertemu atau tidak bertemu itu tidak bisa menandai sikap seseorang, justru patut dipertanyakan yang sering bertemu itu mau cari muka atau ambil muka," tegas Firman, Jumat (16/1). Firman mengungkapkan, pribadi Megawati itu tampak dari sikap kepemimpinan Megawati terhadap mantan Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru. Ketika menjadi presiden, Megawati tidak mendendam, tapi menaruh hormat dan penghargaan, termasuk dengan elemen-elemen lainnya."Itu bukti Bu Mega tidak pernah mendendam," imbuhnya. Dia menilai buku Tjipta itu bernuansa politis, karena ada kecenderungan menceritakan Yudhoyono sebagai figur yang baik dan positif. "Saya kira itu merupakan pembunuhan karakter Bu Mega, kesimpulan yang dibangun itu terlalu naif," jelasnya. Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat Marzuki Alie mengatakan, penilaian terhadap Yudhoyono sebagai figur peragu merupakan kisah lama. Menurutnya, sikap peragu yang selama ini menjadi perbincangan tentang sosok Yudhoyono itu lantaran Yudhoyono perlu mempertimbangkan berbagai aspek untuk mengambil sebuah keputusan. Dalam menyelesaikan masalah Yudhoyono selalu melibatkan orang-orang yang memang memiliki tugas pokok dan fungsi, berkaitan dengan masalah yang ingin diputuskan. "Untuk keputusan yang strategis itu, perlu analisis dalam sebuah pengambilan keputusan," katanya. Marzuki Alie mengatakan, untuk menyatakan sesuatu seharusnya dilengkapi data dan fakta yang kuat. Selain itu, harus ada pertimbangan yang arif dan bijaksana. Bukan menghajar presiden dengan kritik-kritik yang tidak jelas. (SH/v
<<postheaderend.gif>>
