=================================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
Seri : "Membangun spirit, demokrasi, konservasi sumber daya,
nasionalisme, kebangsaan dan pruralisme Indonesia."
=================================================
[Spiritualism, Nationalism, Democration & Pruralism Indonesia Quotient]
Menyambut Pesta Demokrasi 5 Tahunan - PEMILU 2009.
"Belajar menyelamatkan sumberdaya negara untuk kebaikan rakyat Indonesia."
Pelajaran lain dari Obama untuk Indonesia
Insan istimewa, super jenius, keturunan campuran kulit hitam dan kulit putih
Barack Obama ini rupanya tidak banyak muncul di dunia, jumlahnya cuma sedikit.
Dunia memaknai ‘bagai mencari jarum di tumpukan jerami...’ susahnya bukan main!
Kita ingat pemimpin dunia seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, munculnya pun
tidak bersamaan, namun setelah lewat beberapa dekade.
Rakyat Amerika Serikat sebagai negara masternya demokrasi dunia pun menunjukkan
kebesarannya dengan mau belajar dan terus belajar untuk menyempurnakan
perkembangan demokrasi di negaranya. Munculnya Hussein Barack Obama sebagai
presiden ke-44 AS menjadi tonggak goresan tinta emas keberhasilan sejarah
perjalanan panjang demokrasi di Amerika Serikat. Kegigihan dan kerja keras
Obama pun membuahkan jejak brilian kebangsaan AS dan bagi masa depan dunia.
Kemenangannya dirayakan beberapa hari ini, dan puncaknya ditandai dengan
pelantikan pada hari ini 20 Januari 2009.
”Saya meminta Anda untuk membangkitkan karakter bangsa ini sekali lagi. Dan,
bersama-sama, kita bisa melangkah sebagai satu bangsa, warisan leluhur yang
kita rayakan hari ini,” kata Obama.
Ia berpartisipasi dalam aktivitas pelayanan publik bertajuk ”Renew America
Together: A Call to Service”.
Istri Obama, Michelle, dan istri wakil presiden terpilih, Jill Biden, akan
menggelar ”Kids Inaugural: We Are the Future”, sebuah konser pemuda untuk
menghormati keluarga militer.
Pada hari pelantikan, Selasa ini, Obama akan menghadiri prosesi kebaktian pagi,
sebuah tradisi yang dimulai Presiden Franklin D Roosevelt tahun 1933. Setelah
itu, Obama akan bertemu Presiden George W Bush di Gedung Putih dan bersama-sama
menuju Capitol Hill untuk upacara pengambilan sumpah.
Sebelum pengambilan sumpah dimulai, di sayap barat Capitol Hill digelar
sejumlah acara musik, termasuk penampilan band Marinir AS, paduan suara
anak-anak, penyanyi Aretha Franklin, komposer John Williams bersama pemain
biola Itzhak Perlman dan pemain cello Yo-Yo Ma, serta band Angkatan Laut AS.
Acara resmi pelantikan dimulai pukul 11.30 waktu setempat atau 23.30 WIB dengan
pengambilan sumpah wakil presiden terpilih Joe Biden. Tepat tengah hari atau
tengah malam WIB, Obama diambil sumpahnya sebagai presiden ke-44 AS.
Setelah diambil sumpahnya, Obama akan menyampaikan pidato pelantikan. Pidato
itu sangat penting untuk menunjukkan apa yang akan dilakukan Obama selama
periode pemerintahannya.
Obama kemudian mengiringi Bush dalam upacara perpisahan....
Proficiat OmBama, yang telah berhasil menjadi ikon pembaruan demokrasi dunia!
Indonesia boleh mencermati prosesi pelantikan ini secara keseluruhan, karena
memang dunia saat ini sedang merayakannya.... namun yang penting dicermati
adalah bagaimana prosesi antara presiden terpilih dengan presiden yang
sebelumnya menjabat dapat berjalan mulus.... hal ini penting bagi semua pihak
untuk mendapat pelajaran yang baik bagi Indonesia di masa depan.
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!
Best Regards,
Retno Kintoko
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
-----
Pelajaran Lain dari Sukses Obama
Selasa, 20 Januari 2009 | 00:47 WIB
Oleh Salahuddin Wahid
Pengantar
Melalui perjalanan amat panjang tanpa kekerasan, akhirnya Barack Obama,
keturunan campuran kulit hitam dan kulit putih, mampu terpilih menjadi orang
pertama di negara terkuat di dunia. Pelajaran yang dapat dipetik dari sukses
Obama: para rohaniwan dan para pemimpin di Indonesia diharapkan terus
menanamkan sikap anti kekerasan di dalam diri pengikutnya. Menjelaskan bahwa
kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan memicu kekerasan baru.
Pembalasan dendam memicu dendam baru.
Di tengah terpaan badai ekonomi dahsyat, bangsa dan negara AS kembali
menunjukkan prestasi luar biasa dengan terpilihnya Barack Obama, warga negara
keturunan kulit hitam, menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat.
Pendukungnya yakin bahwa Obama adalah pemimpin yang akan mampu membawa AS
keluar dari terjangan badai itu. Tentu optimisme dan harapan rakyat AS kepada
Obama itu masih harus dibuktikan dulu.
Tiba di Amerika Serikat pada tahun 1619 dari Afrika sebagai budak belian, warga
kulit hitam mengalami penindasan dan perlakuan diskriminatif dari warga kulit
putih. Melalui perjuangan amat panjang tanpa kekerasan, akhirnya keturunan
campuran kulit hitam dan kulit putih mampu terpilih menjadi orang pertama di
negara terkuat di dunia.
Bermula dari Montgomery
Pada 1 Desember 1955, seorang tokoh kulit hitam bernama Rosa Parks diminta
pindah dari tempat dia duduk di bus kota karena tempat duduk itu adalah khusus
untuk warga kulit putih. Dia menolak sehingga dihukum. Tokoh-tokoh kulit hitam
berkumpul untuk mengajak warga kulit hitam memprotes UU Negara Bagian Alabama
yang mengharuskan pemisahan kursi bus.
Warga kulit hitam sepakat untuk melakukan boikot terhadap bus kota di
Montgomery. Seseorang mengusulkan Dr Marthin Luther King Jr, pendeta yang masih
muda, sehingga dapat bekerja dengan kekuatan penuh. Usul itu disetujui meski
Pendeta King belum lama tinggal di Montgomery.
Dalam pertemuan untuk sosialisasi gerakan itu, Dr King sudah menunjukkan
kemampuan berpidato yang memukau, mampu menumbuhkan motivasi dan menggerakkan
warga untuk melakukan boikot. Tampaknya kemampuan berbicara Dr King adalah
salah satu kunci keberhasilan gerakan itu.
Warga kulit hitam melakukan boikot dengan berjalan kaki menuju tempat bekerja
atau ke sekolah. Bus kota menjadi amat sepi sehingga menyulitkan perusahaan bus
kota. Warga kulit hitam juga mengatur supaya yang bekerja di tempat jauh dapat
diberi tumpangan oleh mereka yang punya kendaraan. Ada gerakan mengumpulkan
sepatu dari kota lain untuk membantu yang sepatunya rusak akibat boikot itu.
Antikekerasan
Perundingan dilakukan antara Pemerintah Kota Montgomery dan para tokoh kulit
hitam, tetapi tak tercapai kesepakatan. Mobil warga kulit hitam ada yang
diledakkan. Bahkan, rumah Dr King terkena bom. Ku Klux Klan melakukan
intimidasi terhadap warga kulit hitam. Namun, Dr King mampu menjaga emosi
pengikutnya dan menanamkan ke dalam diri mereka bahwa antikekerasan akan
menjadi kekuatan moral yang dahsyat.
Perlawanan tanpa kekerasan dalam jangka panjang akan menghasilkan energi
positif yang lebih hebat daripada perlawanan menggunakan kekerasan. Yang
dibutuhkan ialah kesabaran dan kemampuan menahan emosi. Kemampuan berpidato Dr
King amat besar perannya dalam menanamkan kesadaran itu. Kepemimpinannya dan
dukungan istrinya, Coretta, juga mempunyai peran yang besar.
Melihat sikap Pemerintah Kota Montgomery yang bersikukuh bahwa pemisahan tempat
duduk bus untuk kulit putih dan kulit hitam adalah perintah UU Alabama, warga
kulit hitam Montgomery mengajukan semacam uji materi terhadap UU itu kepada MA
Federal. Lembaga itu membatalkan UU tersebut. Boikot 385 hari tanpa kekerasan
mampu meniadakan UU diskriminatif.
Membicarakan perjuangan warga kulit hitam AS untuk memperoleh hak-hak sipilnya
tanpa kekerasan, harus bicara tentang The March of Washington, saat gabungan
seperempat juta warga AS berkulit hitam dan putih memadati the Mall antara the
Lincoln Memorial dan the Washington Monument di ibu kota AS pada 28 Agustus
1963. Peristiwa itu adalah salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah
perjuangan HAM.
Pidato Martin Luther King Jr dalam peristiwa itu (”I Have A Dream”) menjadi
salah satu pidato monumentalnya. Sebuah poster besar yang memuat cuplikan
pidato itu dipajang di dinding kantor seorang pejuang HAM di Jakarta. Salah
satu bagian dari pidatonya itu: ”Saya punya impian bahwa keempat anak saya
suatu hari nanti akan hidup di negara di mana mereka tidak dinilai dari warna
kulitnya melainkan dari karakternya. Saya punya impian hari ini.”
Pelajaran bagi kita
Dr King berhasil menanamkan sikap antikekerasan di dalam diri pengikutnya.
Ternyata perjuangan antikekerasan itu dalam jangka panjang berhasil menempatkan
warga kulit hitam pada posisi sejajar dengan warga kulit putih dan mengantarkan
seorang keturunan kulit hitam pada posisi orang nomor satu di dunia. Belum
tentu posisi itu bisa diraih Obama jika warga kulit hitam AS menggunakan cara
kekerasan.
Pascaperistiwa 11 September 2001, di AS muncul sejumlah (kecil) rohaniwan
Kristen yang mengampanyekan kecurigaan terhadap Islam, menganggapnya sebagai
agama penganjur kekerasan. Syukur di AS banyak dai berhasil meyakinkan
masyarakat bahwa kecurigaan itu tidak beralasan. Dialog diselenggarakan di
berbagai kampus di AS untuk menjelaskan, Islam adalah agama penganjur
perdamaian. Para tokoh politik AS berhasil meredam sikap negatif itu.
Saat dilantik sebagai Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela mengundang sipir
penjara berkulit putih yang 30 tahun berlaku kejam kepadanya di dalam penjara.
Kebesaran jiwa Mandela adalah teladan bagi bangsa Afrika Selatan untuk mau
mengurangi kebencian dan keinginan membalas dendam.
Para rohaniwan dan para pemimpin di Indonesia diharapkan terus menanamkan sikap
antikekerasan di dalam diri pengikutnya. Menjelaskan bahwa kekerasan tidak akan
menyelesaikan masalah, hanya akan memicu kekerasan baru.
Pembalasan dendam akan memicu dendam baru. Kita perlu meneladani para raksasa
dunia, seperti Salahuddin al Ayyubi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan juga
para nabi, yang selalu menganjurkan perilaku yang adil dan berdasarkan rasa
kemanusiaan, bahkan terhadap musuh kita sekalipun. [Salahuddin Wahid Pengasuh
Pesantren Tebuireng]
-----
The Flag
Air minum COLDA - Higienis n Fresh !
ERDBEBEN Alarm
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3